CERAKEN.ID — Malam telah jauh bergerak ketika jarum jam menunjuk pukul 22.34 WITA, Selasa, 19 Mei 2026. Di ruang yang tenang, “budimanlalu_artstudio” memperlihatkan deretan karya bertajuk Girls #1 – #11.
Tidak ada gegap gempita “pembukaan pameran”. Tidak ada kerumunan penonton yang saling bersahutan. Yang hadir justru kesunyian yang intim: ruang tempat wajah-wajah perempuan muncul perlahan dari sapuan warna dan bayangan gelap.
Di tangan Lalu Arief Budiman, sosok gadis bukan sekadar objek visual. Ia menjadi ruang perenungan, tempat seorang pelukis membaca kembali gairah kreatifnya sendiri. Seri ini seperti penanda fase baru: lebih liar, tetapi tetap terjaga dalam disiplin realisme yang telah lama menjadi pijakan estetiknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini wujud keliaran baru. Karena sesungguhnya bila ditanyakan tentang semangat, semangat itu selalu tumbuh dari waktu ke waktu. Bersama dengan hasil perenungan, eksplorasi, diskusi bahkan sampai dengan berpameran,” ujar Arief kepada ceraken.id.
Kalimat itu seperti menjelaskan keseluruhan denyut karya-karyanya. Bahwa seni baginya bukan hasil yang selesai sekali jadi, melainkan proses panjang yang terus bergerak bersama pengalaman batin.
Realisme sebagai Keteguhan Estetik
Di tengah arus seni rupa kontemporer yang kerap bergerak ke arah eksperimental dan konseptual, Arief tetap setia pada realisme. Pilihan itu bukan berarti menolak pembaruan, melainkan bentuk keyakinan artistik yang telah ditempa waktu.
Bagi Arief, realisme bukan semata menghadirkan kemiripan visual. Ia adalah latihan kesabaran, ketelitian, dan kemampuan menangkap emosi manusia melalui detail wajah, arah cahaya, hingga kedalaman warna.
Dalam seri Girls, wajah-wajah perempuan tampil dengan ekspresi yang berbeda, seolah menyimpan cerita yang tidak sepenuhnya diucapkan.

Ia memainkan sudut pandang atau angle untuk membangun kesan emosional tertentu. Ada tatapan yang terasa rapuh, ada pula yang tampak tenang namun menyimpan misteri. Perspektif dan proporsi menjadi elemen penting agar karakter setiap sosok terasa hidup.
Keteguhannya pada realisme membentuk konsistensi visual yang kuat. Namun, konsistensi itu tidak membuatnya berhenti bereksperimen. Justru di seri ini, Arief memperlihatkan keberanian untuk membuka kemungkinan baru dalam warna, tekstur, dan sapuan kuas.
Dari Marker ke Oil on Canvas
Perjalanan artistik seri Girls tidak langsung berakhir pada kanvas besar. Girls #1 – #10 lebih dahulu hadir sebagai eksplorasi di atas medium kertas menggunakan marker.
Karya-karya awal itu tampak seperti catatan visual: tempat Arief mencari ritme garis, karakter goresan, sekaligus spektrum warna yang paling tepat.
Marker memberinya kebebasan untuk bergerak cepat. Di medium itu, ide-ide bisa diuji tanpa terlalu dibebani tuntutan akhir. Namun dari proses itulah, fondasi visual seri ini terbentuk.
“Sehingga akhirnya pada ‘Girls #11’ mulai menggunakan medium oil di atas kanvas dengan ukuran 60 X 50 Cm, dengan judul ‘Girl In Romantic Blue’, yang lebih menonjolkan keindahan wajah dari seorang perempuan (gadis),” kata Arief.
Peralihan ke medium cat minyak menghadirkan dimensi yang berbeda. Jika marker memberi kesan spontan, maka oil on canvas memungkinkan lapisan emosi yang lebih dalam. Warna-warna menjadi lebih pekat, tekstur terasa lebih hidup, dan permainan cahaya tampak lebih dramatis.
Dalam Girl In Romantic Blue, warna biru mendominasi hampir seluruh bidang visual. Biru itu tidak hadir sebagai warna dingin semata, melainkan sebagai suasana batin. Dipadukan dengan latar hitam atau gelap, sosok perempuan dalam lukisan tampak muncul dari ruang sunyi yang misterius.

Sapuan kuas horizontal memberi gerak yang dinamis dan energik. Meski wajah menjadi pusat perhatian, latar dan tekstur tetap bekerja membangun atmosfer. Penonton seakan diajak masuk ke ruang personal yang samar antara kenyataan dan mimpi.
Warisan Artistik dari Sang Ayah
Jejak artistik Arief tidak tumbuh dari ruang kosong. Dunia seni telah akrab dengannya sejak kecil melalui sosok ayahnya, Lalu Agus Nurdin, seorang pelukis, penulis, sekaligus guru.
Dari lingkungan keluarga itulah ia mengenal disiplin berkesenian, ketekunan membaca bentuk, dan keberanian menjaga idealisme.
Warisan itu tidak hadir dalam bentuk doktrin yang kaku, melainkan sebagai kebiasaan hidup yang dekat dengan seni.
Karena itu, pilihan Arief untuk terus menekuni realisme terasa seperti perjalanan yang organik. Ia tumbuh bersama tradisi visual yang telah lebih dulu menghidupinya.
Namun, seri Girls menunjukkan bahwa Arief tidak sekadar melanjutkan jejak generasi sebelumnya. Ia sedang membangun bahasanya sendiri.
Keliaran baru yang ia sebutkan bukan pemberontakan terhadap akar artistiknya, melainkan upaya memperluas kemungkinan dari fondasi yang telah dimiliki.
Di tengah dominasi warna biru dan gelap itu, wajah-wajah perempuan yang ia lukis tampak bukan hanya potret manusia, tetapi juga potret perjalanan seorang seniman. Ada ketekunan, pencarian, dan keberanian untuk terus bergerak.
Dan mungkin, justru di situlah kekuatan seri Girls: menghadirkan keindahan yang tidak berhenti pada rupa, tetapi juga memantulkan pergulatan batin penciptanya sendiri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































