Pemerintah Suntik Likuiditas Rp400 Triliun ke Himbara, Kredit Dipacu hingga 15 Persen untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

APBN adalah kontrak sosial antara pemerintah dan rakyat. (foto: kemenkeu.go.id / ceraken.id)

APBN adalah kontrak sosial antara pemerintah dan rakyat. (foto: kemenkeu.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Jakarta – Pemerintah mengambil langkah strategis untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional dengan memperkuat likuiditas sektor perbankan.

Melalui penempatan dana pemerintah hingga Rp400 triliun pada bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), pemerintah berharap fungsi intermediasi perbankan kembali optimal sehingga penyaluran kredit kepada dunia usaha meningkat secara signifikan.

Kebijakan tersebut diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing di Jakarta, Jumat (26/6/2026). Menurutnya, langkah ini merupakan respons pemerintah terhadap mulai mengetatnya likuiditas perbankan yang berpotensi menghambat ekspansi kredit dan aktivitas ekonomi.

Menjaga Likuiditas, Menurunkan Bunga Kredit

Pemerintah tidak hanya mengembalikan dana yang sebelumnya ditempatkan di Himbara, tetapi juga menambah jumlahnya agar perbankan memiliki ruang yang lebih luas dalam menyalurkan pembiayaan kepada sektor produktif.

Dengan likuiditas yang lebih longgar, biaya dana (cost of fund) diharapkan turun sehingga suku bunga kredit menjadi lebih kompetitif.

“Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita. Jadi harusnya bunga di pasar akan turun. Ekonomi siap lari lagi,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Menkeu, kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden agar seluruh hambatan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat segera dihilangkan. Pemerintah ingin memastikan mesin ekonomi tetap bergerak melalui dukungan terhadap dunia usaha dan sektor keuangan.

Baca Juga :  Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!

“Pak Presiden ingin ekonominya tetap jalan, semua gangguan dihilangkan. Kalau kita balikan perspektif ekonomi, ekonomi akan lari lagi. Orang cenderung investasi di negara yang ekonominya akan lari,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan likuiditas juga bertujuan mengembalikan mekanisme pasar agar dapat bekerja secara lebih efektif dalam mendorong fungsi intermediasi perbankan.

“Jadi saya memaksa market mechanism berjalan,” tegasnya.

Kredit Diproyeksikan Tumbuh hingga 15 Persen

Berdasarkan komunikasi pemerintah dengan kalangan perbankan, tambahan likuiditas tersebut diyakini mampu menghidupkan kembali berbagai rencana ekspansi kredit yang sempat ditunda akibat kekhawatiran terhadap keterbatasan dana.

Sebelumnya, sejumlah bank memperkirakan pertumbuhan kredit dapat melambat hingga kisaran 6–8 persen apabila kondisi likuiditas terus mengetat. Namun, dengan dukungan pemerintah, optimisme itu kembali meningkat.

“Mereka bilang kalau nggak dibantu, kredit akan tumbuh turun pertumbuhannya ke 8 persen, 7 persen, 6 persen. Ketika kita balikin lagi, rencana kredit yang mereka selama ini tahan karena antisipasi kurangnya likuiditas akan dijalankan lagi. Pasti kreditnya tumbuh double digit, mungkin 13–14 persen,” ungkap Menkeu.

Bahkan, apabila skema pengelolaan likuiditas berjalan sesuai perencanaan pemerintah, pertumbuhan kredit nasional diyakini mampu mencapai kisaran 14–15 persen sepanjang 2026.

“Kalau uangnya diatur cukup seperti yang kita desain, pertumbuhan kredit tahun ini tebakan saya bisa 14–15 persen,” ujarnya optimistis.

Fiskal Tetap Aman dan Dunia Usaha Mendapat Angin Segar

Di tengah kebijakan penempatan dana dalam jumlah besar tersebut, pemerintah memastikan kondisi fiskal negara tetap sehat. Menteri Keuangan menegaskan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan tetap berada di bawah ambang batas 3 persen sehingga stabilitas fiskal tetap terjaga.

Baca Juga :  Ketika Koin Rp2.000 Mengantar Kita ke Final Piala Dunia 1974

“Yang jelas, kondisi fiskal aman, defisit tidak akan lebih 3 persen, hampir pasti. Kita bisa kendalikan dengan baik karena ruangnya semakin terbuka lebar,” pungkasnya.

Bagi dunia usaha, kebijakan penguatan likuiditas ini membawa sejumlah manfaat strategis. Dengan tersedianya dana yang lebih besar di perbankan, pelaku usaha diperkirakan akan memperoleh akses pembiayaan yang lebih mudah dan biaya pinjaman yang lebih rendah.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan investasi, memperluas kapasitas produksi, membuka lapangan kerja baru, serta mempercepat ekspansi sektor riil, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri manufaktur, perdagangan, pertanian, dan sektor jasa.

Selain itu, meningkatnya penyaluran kredit diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat melalui bertambahnya aktivitas ekonomi, sehingga menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kepastian bahwa kondisi fiskal tetap sehat juga memberikan sinyal positif bagi investor domestik maupun internasional, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan terhadap prospek perekonomian Indonesia sepanjang 2026. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: kemenkeu.go.id

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA