CERAKEN.ID — Visi “NTB Makmur Mendunia” kerap diterjemahkan melalui pembangunan fisik, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Padahal, ada satu dimensi yang tidak kalah penting sebagai penanda kemajuan sebuah daerah: kebudayaan.
Sebab, daerah yang maju bukan hanya memiliki infrastruktur yang baik, tetapi juga identitas yang kuat dan mudah dikenali.
Di berbagai belahan dunia, identitas budaya hadir melalui banyak medium: arsitektur, tata ruang, kuliner, pakaian tradisi, hingga lanskap bunyi yang menyertai kehidupan sehari-hari. Dalam konteks inilah, kebudayaan menjadi wajah sekaligus jiwa sebuah daerah.
Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Suryadi Mulawarman, menilai bahwa visi pembangunan daerah harus terus diupayakan oleh setiap sektor, termasuk sektor kebudayaan.
“Identitas budaya NTB harus hadir di ruang-ruang publik, baik melalui pasade arsitektur, pakaian tradisi, maupun nuansa musikal yang mencerminkan karakter daerah,” ujarnya saat dihubungi pada 4 Juli 2026 lalu.
Suara yang Belum Menjadi Identitas
Jika arsitektur dan pakaian tradisional perlahan mulai tampak di ruang-ruang publik di NTB, maka lanskap musikal justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang panjang. Bandara, pelabuhan, hotel, restoran, hingga berbagai ruang pelayanan publik, sebagian besar masih dipenuhi musik populer dari luar daerah, bahkan musik Barat.
Padahal, Nusa Tenggara Barat memiliki kekayaan musik tradisi yang sangat beragam dan lahir dari perjalanan sejarah panjang masyarakatnya. Sayangnya, kekayaan tersebut belum memperoleh sentuhan penataan dan teknologi yang memadai sehingga dapat tampil sebagai pencipta suasana musikal di ruang publik.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang berulang dari berbagai kalangan, baik dari luar maupun dari dalam daerah: di mana sesungguhnya bunyi khas NTB itu berada?
Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui diskusi dan literasi. Ia membutuhkan tindakan nyata, yakni menghadirkan musik tradisi dalam bentuk baru yang tetap berakar pada tradisi, tetapi mampu diterima oleh masyarakat modern.
Tradisi yang Ditata untuk Masa Depan
Berangkat dari kegelisahan itu, Taman Budaya NTB melalui “Program Eksperimentasi Musik Tahun 2026″ mengangkat musik cilokaq dan musik klenang sebagai objek kajian sekaligus penciptaan.
Pemilihan kedua jenis musik tersebut didasarkan pada jejak sejarah kebudayaan NTB yang dipengaruhi oleh berbagai peradaban. Musik cilokaq merepresentasikan pengaruh budaya Melayu yang berkembang di Lombok, sementara musik klenang atau klentang memperlihatkan persinggungan budaya Jawa-Bali dalam ekspresi musikal masyarakat NTB.
Program ini melibatkan budayawan, musisi, seniman, penulis, serta komunitas musik tradisi untuk bersama-sama melakukan pembacaan ulang terhadap warisan musikal tersebut.
“Realitas ini harus dijawab dengan aksi nyata, yakni menghadirkan karakter musik tradisi yang ditata menjadi musik kamar yang mampu merepresentasikan tradisi sekaligus memenuhi selera musikal masyarakat secara umum,” kata Miq Surya, sapaannya. .
Konsep dasar eksperimentasi ini adalah melakukan rearrangement atau aransemen ulang tanpa menghilangkan esensi utama dari musik cilokaq dan klenang. Karakter asli, nada, dan ruh tradisi tetap dipertahankan, namun diolah menjadi sajian yang lebih selaras, kaya, dan artistik.
Membangun Ingatan Melalui Bunyi
Eksperimentasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan musik kamar berbasis tradisi yang mampu menjadi pencipta suasana musikal di ruang-ruang publik maupun ruang khusus yang bersifat seremonial.
Karya yang dihasilkan diharapkan memenuhi sejumlah indikator: enak didengar, mudah diterima, mampu menciptakan ketenangan, tidak mengganggu aktivitas maupun percakapan, serta meninggalkan kesan mendalam bagi pendengarnya.
Lebih jauh lagi, program ini juga membuka ruang dialog antara instrumen tradisional dan alat musik kontemporer. Sebuah upaya yang tidak semata-mata bertujuan melestarikan, melainkan juga memperbarui cara tradisi hadir di tengah masyarakat.
Selain menghasilkan garapan baru musik cilokaq dan klenang, kegiatan ini juga melahirkan buku deskripsi kedua jenis musik tersebut sebagai bagian dari proses dokumentasi dan pematangan instrumen pencipta suasana musikal berbasis budaya.
Pada akhirnya, sebuah daerah tidak hanya dikenang melalui pemandangannya, tetapi juga melalui bunyinya. Seperti halnya Bali yang lekat dengan denting gamelan atau Jepang dengan musik tradisional yang hadir di ruang-ruang publiknya, NTB pun membutuhkan identitas sonik yang mampu menghadirkan pengalaman khas bagi siapa pun yang datang.
Bayangkan ketika wisatawan menjejakkan kaki di Lombok atau Sumbawa, lalu disambut alunan cilokaq yang lembut atau denting klenang yang menenangkan. Pengalaman itu akan menjadi lebih dari sekadar perjalanan wisata; ia menjelma menjadi perjumpaan dengan jiwa sebuah daerah.
Di situlah kebudayaan bekerja secara halus namun mendalam: membangun ingatan, menciptakan kedekatan, dan menjadikan identitas daerah hidup dalam keseharian.
Mungkin, jalan menuju “NTB Makmur Mendunia” memang tidak hanya dibangun melalui jalan raya, hotel, atau kawasan ekonomi. Bisa jadi, ia juga sedang dirintis melalui nada-nada tradisi yang perlahan menemukan tempatnya kembali di ruang publik, mengubah warisan menjadi pengalaman, dan menjadikan kebudayaan sebagai suara masa depan Nusa Tenggara Barat. (aks)
Editor : cereken editor
Sumber Berita: liputan



























































