Oleh: Lalu Suryadi Mulawarman – Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat
CERAKEN.ID — Di kaki Gunung Rinjani, di desa-desa yang tampak tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah percakapan panjang antara masa lalu dan masa depan. Percakapan itu tidak disampaikan melalui pidato, melainkan melalui denting klenang, petikan gambus, dan suara-suara yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sanalah kita menemukan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar diam. Ia bernafas, bergerak, dan mencari ruang baru untuk tetap hidup.
Ketika Tim Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat melakukan perjalanan ke berbagai komunitas musik tradisi di Lombok Timur, kami tidak hanya menemukan kelompok-kelompok kesenian yang masih bertahan. Kami menyaksikan bagaimana masyarakat sedang berupaya mempertahankan ingatan kolektifnya.
Dari Pinang Sejati, Satu Nada Jiwa
Di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Grup Klenang Nunggal “Pinang Sejati” menghadirkan satu pelajaran penting: tradisi tidak pernah lahir dari kemewahan, melainkan dari kesetiaan.
Klenang bukan sekadar seperangkat alat musik. Ia adalah cara masyarakat Sasak mengingat dirinya sendiri. Dalam setiap ritme, tersimpan jejak kehidupan agraris, nilai gotong royong, spiritualitas, hingga cara masyarakat memaknai hubungan manusia dengan alam.
Di tengah derasnya budaya populer yang bergerak cepat melalui media digital, keberadaan kelompok-kelompok seperti Pinang Sejati menunjukkan bahwa akar kebudayaan masih kokoh tertanam di desa-desa.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah tradisi mampu bertahan, melainkan apakah kita cukup serius memberi ruang bagi tradisi untuk berbicara kepada generasi baru.
Sakra dan Masa Depan Tradisi
Pertanyaan serupa muncul ketika mengunjungi Komunitas Klenang Taruna Jaya di Sakra. Kelompok yang telah bertahan sejak 1986 itu memperlihatkan satu hal yang semakin langka: kesinambungan.
Tradisi sesungguhnya tidak diukur dari usianya, tetapi dari kemampuannya melahirkan pewaris.
Di banyak tempat, kita menyaksikan kesenian tradisional perlahan kehilangan generasi penerus. Namun di Sakra, kelenang masih dimainkan, diajarkan, dan diwariskan. Ini menjadi tanda bahwa masyarakat sesungguhnya masih memiliki kesadaran kebudayaan yang kuat.
Di titik ini, kita memahami bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan festival dan pertunjukan seremonial. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan para pelaku budaya hidup, berkarya, dan merasa bahwa tradisi memiliki masa depan.
Tradisi akan terus hidup apabila para pendukungnya memiliki harapan.
Petikan Gambus dan Ruang Publik Dunia
Perjalanan berikutnya membawa kami ke Dusun Karang Anyar, Desa Sikur, tempat Grup Cilokaq Dua Sle terus menjaga nyala musik tradisi Sasak.
Cilokaq memiliki kekuatan yang unik. Ia lahir dari perjumpaan berbagai pengaruh budaya; Arab, Melayu, dan lokal Sasak, yang kemudian menjelma menjadi identitas musikal Lombok.
Di dalamnya terdapat pesan penting bagi masa kini: kebudayaan tidak pernah tumbuh dalam ruang tertutup. Ia berkembang melalui dialog, perjumpaan, dan keterbukaan.
Karena itu, membicarakan masa depan Cilokaq tidak cukup hanya dalam kerangka pelestarian, tetapi juga transformasi.
Bagaimana musik ini dapat hadir di panggung-panggung internasional? Bagaimana generasi muda dapat memainkannya tanpa kehilangan akar tradisinya? Bagaimana teknologi digital dapat menjadi medium baru bagi musik tradisi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi relevan seiring visi pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu NTB Makmur Mendunia.
Mendunia tidak semata-mata berarti menghadirkan gedung-gedung megah atau infrastruktur modern. Mendunia juga berarti menghadirkan identitas lokal ke ruang global dengan penuh percaya diri.
Dan musik tradisi adalah salah satu bahasa kebudayaan yang paling mudah diterima dunia.
Nada-Nada untuk NTB Mendunia
Dalam konteks inilah, berbagai upaya observasi, eksperimentasi, dokumentasi, hingga pembinaan yang dilakukan Taman Budaya NTB sesungguhnya merupakan bagian dari kerja peradaban.
Kita sedang berupaya memastikan agar generasi mendatang tidak kehilangan suaranya sendiri.
Kebudayaan adalah fondasi yang membuat suatu daerah memiliki karakter. Tanpa kebudayaan, pembangunan hanya akan menghasilkan kemajuan yang kehilangan arah.
Sebaliknya, ketika kebudayaan ditempatkan sebagai sumber inspirasi pembangunan, maka ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan, hingga diplomasi budaya dapat tumbuh secara lebih berkelanjutan.
NTB memiliki modal yang sangat besar. Kita mempunyai Gendang Beleq, Cilokaq, Kecimol, Klenang, tradisi lisan, seni pertunjukan, tenun, dan berbagai ekspresi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Tantangan kita bukan pada minimnya potensi, melainkan pada kemampuan mengelola potensi tersebut menjadi kekuatan kebudayaan yang relevan dengan zaman.
Karena itu, kerja kebudayaan hari ini bukan sekadar menjaga masa lalu, melainkan membunyikan masa depan.
Setiap denting klenang di Sakra, setiap gema Pinang Sejati di kaki Rinjani, dan setiap petikan gambus Cilokaq Dua Sle sesungguhnya sedang menyampaikan pesan yang sama: bahwa Lombok dan Nusa Tenggara Barat memiliki suara yang khas untuk diperdengarkan kepada dunia.
Dan selama nada-nada itu terus dimainkan, selama masyarakat masih percaya pada nilai tradisinya, maka mimpi tentang NTB Makmur Mendunia bukanlah sebuah utopia.
Ia sedang bertumbuh, perlahan namun pasti, dari desa-desa, dari tangan para seniman tradisi, dari suara-suara yang selama ini setia menjaga ingatan kita sebagai sebuah bangsa budaya.(*)
Editor : ceraken editor



























































