CERAKEN.ID — Tidak semua residensi seni berakhir pada lahirnya karya yang dipajang di ruang pamer. Di Dusun Gol, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, residensi justru menjadi jalan untuk membaca ulang kampung, mendengar kembali pengetahuan lama, lalu merumuskan cara baru untuk merawatnya.
Di tempat inilah Aden Firman, Made Virgie A, dan Yuga Anggana menjalani residensi dalam program Bangsal Menggawe 2026, didampingi fasilitator Mashur Khalid.
Selama beberapa pekan, ketiganya tidak datang sebagai seniman yang membawa jawaban. Mereka memilih tinggal, berbincang, mencatat, dan belajar bersama warga. Dari proses itulah lahir sebuah gagasan yang tidak berhenti pada penciptaan karya seni, melainkan menjadi metode belajar bersama yang diberi nama Merajan.
Belajar Membaca Kampung
Bagi Aden Firman, residensi bukanlah ruang untuk memamerkan kemampuan artistik. Yang lebih penting adalah menemukan praktik-praktik yang benar-benar relevan dengan kehidupan masyarakat tempat mereka tinggal.
“Diajak Pasir Putih residensi sehubungan dengan program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Lalu datang karena ditempatkan di Dusun Gol. Belajar bareng lah di sini. Paling tidak belajar bersama membaca isu-isu kontekstual di sini.”
“Kalau memang basisnya pengalaman seniman, harapannya bisa menemukan praktik yang relevan atau justru menciptakan kerja-kerja yang relevan. Sisanya ikut keseharian di sini,” ujar Aden kepada ceraken.id, Sabtu (25/7/2026).
Pendekatan tersebut membuat residensi berubah menjadi proses saling belajar. Seniman tidak berada di posisi yang lebih tahu dibanding warga. Sebaliknya, pengalaman hidup masyarakat menjadi sumber utama lahirnya gagasan artistik sekaligus sosial.
Latar belakang Aden yang selama ini dikenal dekat dengan praktik musik juga tidak serta-merta menjadikan musik sebagai pusat aktivitas residensi. Menurutnya, pembagian peran justru menjadi kunci agar setiap anggota tim dapat bekerja sesuai kekuatannya.
“Kalau bicara aktivasi musik di sini sebenarnya lebih tebal dikerjakan Yuga Anggana. Kami sejak awal berusaha berbagi peran supaya tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih. Naluri saya memang banyak di musik, tetapi irisan saya juga ada pada seni rupa, desain, kepenulisan sampai festival warga. Musik menjadi salah satu cara membayangkan masa depan kampung dan cara berpikir masyarakat,” katanya.
Merajan, Platform Belajar dari Pengetahuan Lokal
Memasuki hari-hari berikutnya, percakapan antara para seniman dan Mashur Khalid mengarah pada satu istilah lokal yang akhirnya menjadi fondasi seluruh residensi: Merajan, yang dalam pengertian setempat dimaknai sebagai proses belajar.
Bukan sekadar tema, Merajan dirancang sebagai platform jangka panjang yang memungkinkan warga terus mengembangkan berbagai gagasan setelah residensi berakhir. Program yang kini diberi nama Merajan Volume 1 diharapkan dapat berlanjut pada volume-volume berikutnya.
“Kami ingin melampaui sekadar membuat material karya. Yang kami bangun justru kesadaran. Akhirnya kami menemukan satu tema lokal yang disebut ‘Merajan’. Bayangannya menjadi platform untuk mengaktivasi dan merespons isu-isu kontekstual di sini. Mudah-mudahan nanti ada Merajan Volume 2, Volume 3, dan seterusnya,” jelas Aden.
Dari proses belajar itu, para peserta kemudian mulai memetakan berbagai pengetahuan lama yang masih bertahan maupun yang mulai menghilang. Mereka mendokumentasikan tradisi, melakukan pengarsipan, hingga menyusun kembali pengetahuan masyarakat yang selama ini hanya diwariskan secara lisan.
Salah satu temuan penting adalah Meta Dina, pengetahuan tradisional mengenai penentuan hari baik untuk berbagai ritus dan aktivitas sosial masyarakat. Pengetahuan itu kemudian menjadi inspirasi dalam menentukan waktu pelaksanaan festival.
Tidak berhenti di sana, mereka juga menemukan tradisi Sangkep, yakni forum musyawarah lintas tokoh dan generasi, serta Meleah, tradisi bersih-bersih yang dimaknai lebih luas sebagai upaya membersihkan lingkungan sekaligus memperbaiki hubungan antarsesama.
Meriri Gubuk: Festival sebagai Perayaan Proses
Puncak residensi tidak diwujudkan dalam presentasi formal sebagaimana lazimnya sebuah program seni. Sebaliknya, hasil proses belajar itu diterjemahkan menjadi sebuah festival bertajuk Meriri Gubuk.
Bagi Aden, festival hanyalah bonus dari proses panjang yang lebih penting, yakni mengembalikan hasil belajar kepada masyarakat.
“Festival itu bonus awal yang kami bayangkan. Perayaan bisa lahir karena proses belajar yang sudah berlangsung. Semua karya dikembalikan lagi kepada warga melalui model festival,” ungkapnya.
Meriri Gubuk dimaknai sebagai upaya menata kembali kampung melalui pembaruan pengetahuan lama agar tetap relevan dengan kehidupan hari ini. Di dalamnya tetap dipertahankan semangat ritus masyarakat.
Salah satu contohnya adalah penggunaan kelapa sebagai material kebudayaan. Setiap kepala keluarga dari lima RT diminta membawa satu butir kelapa ke arena kegiatan. Kelapa itu menjadi simbol solidaritas sekaligus memiliki nilai ekonomi karena hasil penjualannya direncanakan untuk mendukung aktivitas warga berikutnya.
“Sehari sebelum Meriri Gubuk kami menjadikan kelapa sebagai material kebudayaan untuk menguji solidaritas kampung. Setiap kepala keluarga membawa kelapa. Bisa dipakai untuk artistik, prosesi minum air kelapa bersama, bahkan hasil penjualannya nanti bisa dipakai membeli kebutuhan kegiatan berikutnya, misalnya printer,” tutur Aden.
Talenta Dusun dan Warisan yang Terus Bertumbuh
Residensi ini juga melahirkan beragam karya kolaboratif. Ada Merajain, sebuah konsep yang berupaya menyatukan seluruh proses pembelajaran; Mini Kamus Pangan, yang mendokumentasikan kosakata pangan lokal dalam Bahasa Sasak dan Bahasa Indonesia; Buku Foto garapan Made Virgie bersama Wahyu yang menjadikan singkong sebagai pintu masuk membaca kehidupan kampung; serta Tur Budaya yang diprakarsai Aden Firman bersama Mashur Khalid.
Tur Budaya tersebut memanfaatkan pemetaan berbasis Google Maps untuk mengidentifikasi aset sosial, budaya, ekonomi, hingga sejarah Dusun Gol. Hasilnya kemudian dikembangkan menjadi Ziarah Budaya, sebuah walking tour yang mengajak peserta menyusuri kampung sambil mendengar kisah-kisah lama yang masih hidup maupun yang nyaris terlupakan.
Di sisi lain, kreativitas warga juga tumbuh melalui pembuatan logo Festival Meriri Gubuk oleh pemuda setempat, keterlibatan mahasiswa KKN dalam berbagai aktivitas, hingga produksi mini album berisi empat hingga lima lagu yang diproduseri Yuga Anggana bersama Berlian, Dayat, dan Amung.
Bagi Aden, capaian residensi sesungguhnya tidak berhenti pada produk-produk tersebut. Yang jauh lebih penting adalah meninggalkan metode kerja yang dapat terus dikembangkan masyarakat secara mandiri.
“Artikulasi karya residensi bukan hanya produk akhirnya. Ada metode kerja yang mudah-mudahan bisa kami tinggalkan, lalu teman-teman di sini bisa mengembangkan sendiri selama prinsip dasarnya mereka pahami. Urutannya selalu dimulai dari riset, berkumpul, ngobrol, berdiskusi, mencari formula, sampai akhirnya menjelma menjadi Merajan.”
Melalui Bangsal Menggawe 2026, residensi di Dusun Gol memperlihatkan bahwa seni dapat bekerja melampaui objek visual. Ia menjadi ruang perjumpaan antara seniman dan warga, antara pengetahuan lama dan cara pandang baru.
Di tengah perubahan zaman, Merajan menawarkan sebuah pelajaran sederhana namun mendasar: bahwa masa depan sebuah kampung dapat dibangun dengan terlebih dahulu belajar mendengarkan ingatan yang masih hidup di dalamnya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































