“Dari Pelamar hingga Aji Krama: Memahami Jenis dan Makna Keuangan dalam Tradisi Perkawinan Sasak”

- Penulis

Senin, 17 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Oleh : Guru Muhir (Pendiri Repoq Literasi Lombok Timur)

Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana melalui pesan WhatsApp dari seorang tokoh agama: “Bagaimana pandangan Pak Muhir terkait pisuka dalam perkawinan suku Sasak?”

Pertanyaan tersebut kemudian menggerakkan saya untuk melihat pisuka bukan sekadar sejumlah uang dalam rangkaian perkawinan, tetapi sebagai bagian dari sistem nilai dan simbol kebudayaan Sasak yang mengandung makna tentang keikhlasan, kehormatan, tanggung jawab, dan hubungan antarkeluarga.

Karena itu, saya mencoba memandang pisuka dari perspektif kebudayaan, bukan semata-mata dari ukuran mahal atau murah, benar atau salah. Di balik nominal yang disepakati terdapat nilai sosial yang perlu dipahami dalam konteks masyarakat yang melahirkannya. Dalam kehidupan Sasak, adat dan agama juga tidak selalu berdiri sebagai dua wilayah yang terpisah, tetapi sering berinteraksi dan membentuk tata kehidupan masyarakat.

Tulisan ini bukan klaim atas satu-satunya kebenaran, melainkan sebuah refleksi untuk membaca kembali tradisi Sasak sebagai pengetahuan dan sistem makna. Dari pelamar dan pisuka/penjongkoq, pembahasan kemudian akan berlanjut pada maskawin dan sorong serah aji krama, sebagai rangkaian simbol yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Sasak memaknai cinta, keluarga, agama, kehormatan, dan perkawinan.

Pelamar dalam Perkawinan Suku Sasak: Simbol Cinta, Kesungguhan, dan Ketulusan

Dalam kebudayaan Sasak, perkawinan bukan semata-mata peristiwa personal antara seorang laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah peristiwa sosial-budaya yang mempertemukan dua individu, dua keluarga, serta jaringan sosial yang lebih luas.

Karena itu, berbagai bentuk pemberian dalam proses perkawinan tidak dapat dipahami hanya dari perspektif ekonomi. Salah satu bentuk yang dikenal dalam praktik perkawinan masyarakat Sasak adalah pelamar, yakni sejumlah pemberian atau nominal tertentu yang disepakati dalam proses menuju perkawinan.

Secara antropologis, pelamar dapat dipahami sebagai simbol sosial yang merepresentasikan kesungguhan laki-laki dalam membangun ikatan perkawinan. Nilai nominal yang diberikan tidak semestinya dipandang sebagai harga seorang perempuan atau sebagai transaksi jual beli manusia.

Ia lebih tepat ditempatkan dalam kerangka simbolisme pertukaran (symbolic exchange), sebagaimana pemikiran Marcel Mauss tentang the gift, bahwa pemberian dalam masyarakat tradisional mengandung hubungan moral, sosial, dan kehormatan yang melampaui nilai materialnya.

Dalam perspektif tersebut, besarnya pelamar dapat dimaknai sebagai bentuk artikulasi kesanggupan, penghormatan, dan kesungguhan pihak laki-laki terhadap perempuan serta keluarganya. Semakin besar pemberian yang disepakati, dalam konteks tertentu, dapat dibaca sebagai representasi kemampuan dan kesungguhan laki-laki dalam memikul tanggung jawab kehidupan rumah tangga.

Namun, makna tersebut tidak boleh digeneralisasi sebagai ukuran objektif kualitas cinta. Cinta tidak dapat dikonversikan secara matematis ke dalam nominal uang. Nilai pelamar merupakan bahasa budaya untuk mengungkapkan sesuatu yang secara emosional dan moral jauh lebih kompleks.

Sebaliknya, ketika seorang perempuan atau keluarganya tidak menetapkan tuntutan nominal yang tinggi, hal itu dapat ditafsirkan sebagai simbol kelapangan hati, ketulusan menerima pasangan, dan keinginan untuk menempatkan perkawinan di atas pertimbangan material.

Dalam konstruksi nilai tersebut terdapat sebuah prinsip keseimbangan: laki-laki menunjukkan ikhlas mencintai dan bersungguh-sungguh memberikan, sementara perempuan menunjukkan tulus menerima dan menghargai cinta yang diberikan.

Pemaknaan demikian sejalan dengan pandangan Clifford Geertz bahwa kebudayaan merupakan suatu sistem makna yang dibangun dan diwariskan melalui simbol-simbol. Dengan demikian, pelamar bukan sekadar angka, melainkan simbol yang memperoleh maknanya dari masyarakat yang menjalankannya. Angka tersebut menjadi bahasa budaya yang mengkomunikasikan kehormatan, kesanggupan, kesungguhan, dan penerimaan sosial.

Dalam kerangka Koentjaraningrat, praktik semacam ini dapat ditempatkan sebagai bagian dari sistem sosial dan sistem nilai budaya yang mengatur pola hubungan antarmanusia. Pelamar memperoleh arti karena masyarakat memberikan nilai tertentu terhadap tindakan memberi, menerima, menghormati, dan membangun hubungan kekerabatan melalui perkawinan.

Oleh karena itu, memahami pelamar dalam perkawinan Sasak membutuhkan kehati-hatian agar tidak terjebak pada pandangan materialistik. Pelamar bukanlah “harga perempuan”, melainkan salah satu bahasa simbolik kebudayaan untuk menyatakan kesungguhan laki-laki dan penerimaan perempuan dalam membangun kehidupan bersama.

Baca Juga :  Dari Kesepakatan hingga Penghormatan: Pelamar, Pisuka, Maskawin, dan Pelengkak dalam Tradisi Sasak 

Besar-kecilnya nominal tidak dengan sendirinya menentukan besar-kecilnya cinta. Yang lebih penting adalah nilai moral di balik pemberian tersebut: keikhlasan, tanggung jawab, penghormatan, dan kesediaan membangun rumah tangga.

Dengan demikian, filosofi pelamar dapat dirumuskan dalam sebuah relasi simbolik: laki-laki memberi bukan karena perempuan memiliki harga, tetapi karena cinta membutuhkan kesungguhan; perempuan menerima bukan karena pemberian itu menentukan nilainya, tetapi karena ketulusan membutuhkan penghargaan.

Di situlah pelamar menemukan makna kebudayaannya—bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai simbol pertemuan cinta, kehormatan, tanggung jawab, dan kesepakatan sosial dalam perkawinan Sasak.

Perkawinan Sasak: Simbol Kekerabatan, Keikhlasan, dan Penghormatan

Dalam tata perkawinan masyarakat Sasak, selain pelamar atau peruba(e), terdapat bentuk pemberian lain yang dikenal sebagai pisuka atau penjongkoq. Secara sosial-budaya, pisuka tidak dapat dipahami semata-mata sebagai sejumlah uang yang diberikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan.

Ia merupakan bagian dari mekanisme budaya yang mengatur hubungan antarkeluarga, penghormatan, penerimaan, serta transformasi hubungan kekerabatan setelah berlangsungnya perkawinan.

Jika pelamar lebih menonjolkan kesungguhan seorang laki-laki kepada perempuan yang dipilihnya, maka pisuka/penjongkoq memiliki dimensi yang lebih luas karena melibatkan keluarga dengan keluarga.

Pemberian tersebut menjadi simbol bahwa keluarga laki-laki tidak hanya mengambil seorang perempuan sebagai istri bagi anak laki-lakinya, tetapi juga menerima keluarga perempuan sebagai bagian dari jaringan kekerabatan yang baru.

Dalam perspektif antropologi Marcel Mauss mengenai the gift, pemberian tidak pernah sepenuhnya bersifat material. Di balik tindakan memberi terdapat hubungan sosial, kewajiban moral, penghormatan, dan upaya membangun ikatan timbal balik.

Dalam konteks Sasak, pisuka dapat dibaca dalam kerangka tersebut: uang yang dihaturkan bukan sekadar nilai ekonomi, tetapi medium simbolik untuk membangun hubungan baik antara dua keluarga yang sebelumnya mungkin berada di luar satu ikatan kekerabatan langsung.

Karena itu, besarnya pisuka dapat dimaknai sebagai ekspresi kesungguhan dan keikhlasan keluarga laki-laki dalam memasuki lingkungan kekerabatan keluarga perempuan.

Sebaliknya, kecilnya permintaan dari keluarga perempuan dapat dipahami sebagai simbol keikhlasan melepas anak gadisnya untuk menjadi bagian dari keluarga suaminya. Namun, sebagaimana pelamar, ukuran nominal tersebut tidak seharusnya diterjemahkan secara sederhana sebagai ukuran harga diri, harga anak perempuan, atau ukuran mutlak kasih sayang.

Di sinilah terdapat prinsip etis yang penting dalam tradisi tersebut: pisuka tidak semestinya tampil sebagai proses tawar-menawar terbuka. Pembicaraan mengenai jumlahnya dilakukan secara terbatas, bahkan idealnya melalui pembicaraan empat mata antara pihak keluarga. Mekanisme ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi mengandung nilai budaya tentang menjaga martabat, perasaan, dan kehormatan kedua keluarga.

Dalam perspektif Clifford Geertz, simbol-simbol budaya memperoleh maknanya melalui sistem penafsiran yang hidup dalam masyarakat. Karena itu, memahami pisuka hanya sebagai “uang yang diminta keluarga perempuan” akan mereduksi makna kebudayaan yang terkandung di dalamnya. Pisuka justru dapat dipahami sebagai bahasa simbolik antarkeluarga, yang memungkinkan kesepakatan dicapai tanpa menjadikan perkawinan sebagai arena transaksi terbuka.

Prinsip tersebut sekaligus mengandung penghormatan yang kuat terhadap perempuan. Dalam pandangan budaya yang menempatkan perkawinan sebagai hubungan antarkeluarga, anak gadis bukanlah nasi basi yang dibuang dan bukan pula barang dagangan yang diberi bandrol harga.

Ungkapan tersebut mengandung kritik moral terhadap cara pandang materialistik yang dapat mengubah perkawinan menjadi transaksi ekonomi. Nilai seorang perempuan tidak pernah ditentukan oleh jumlah pisuka.

Bagi keluarga laki-laki, pisuka dapat dipahami sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap keluarga perempuan, terutama berkaitan dengan berbagai kebutuhan dan pengeluaran yang muncul selama rangkaian kunjungan keluarga besar. Dengan demikian, pemberian tersebut tidak berdiri sendiri sebagai “uang perkawinan”, tetapi berada dalam rangkaian hubungan sosial yang lebih panjang.

Sementara bagi keluarga perempuan, pisuka pada praktik tertentu dapat digunakan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan yang akan dibawa oleh sang perempuan ketika memasuki rumah tangga barunya. Pemberian tersebut kemudian memperoleh makna lanjutan dalam tradisi bales lampak nae, yaitu kunjungan kembali keluarga perempuan atau keluarga yang telah menikahkan anaknya setelah rangkaian resepsi dan kegiatan sosial seperti nyongkolang, nyondol, atau nyomba. Dengan demikian, pemberian dan penggunaannya berada dalam suatu siklus sosial budaya, bukan peristiwa ekonomi yang terputus.

Baca Juga :  Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87

Jika dibaca melalui konsep sistem sosial Koentjaraningrat, praktik tersebut menunjukkan bahwa perkawinan Sasak memiliki dimensi yang melampaui hubungan dua individu. Perkawinan menjadi mekanisme pembentukan dan penguatan jaringan sosial. Melalui pelamar, pisuka, kunjungan keluarga, dan bales lampak nae, terbentuk rangkaian hubungan yang menghubungkan keluarga laki-laki dan keluarga perempuan dalam suatu struktur kekerabatan baru.

Dengan demikian, pisuka atau penjongkoq dapat dipahami sebagai simbol penghormatan, kepedulian, dan penerimaan antarkeluarga. Ia bukan harga seorang perempuan, bukan pula pembayaran untuk mendapatkan seorang menantu.

Ia merupakan bagian dari etika pertukaran sosial yang menjaga keseimbangan hubungan antara keluarga yang melepas anak perempuan dan keluarga yang menerimanya sebagai anggota keluarga baru.

Pada akhirnya, substansi filosofis pisuka bukan terletak pada berapa besar nominal yang diberikan, melainkan pada bagaimana pemberian itu dilakukan dan untuk apa ia dimaknai.

Pihak laki-laki memberi dengan keikhlasan, pihak perempuan menerima dengan penghargaan, dan kedua keluarga menjaga agar proses tersebut tidak berubah menjadi transaksi yang merendahkan martabat.

Dalam perspektif kebudayaan, dapat dirumuskan sebuah prinsip sederhana: pelamar adalah bahasa cinta antara dua insan; pisuka adalah bahasa penghormatan antara dua keluarga. Keduanya baru memiliki makna yang luhur apabila dibangun di atas keikhlasan, kesepakatan, penghormatan, dan penjagaan martabat manusia.

Dari Pelamar dan Pisuka Menuju Maskawin dan Sorong Serah Aji Krama

Pada akhirnya, membicarakan pelamar dan pisuka atau penjongkoq dalam perkawinan Sasak tidak cukup hanya dengan menghitung nominalnya. Di balik angka terdapat bahasa kebudayaan; di balik pemberian terdapat hubungan sosial; dan di balik kesepakatan terdapat kehormatan dua keluarga yang sedang dipertemukan dalam sebuah ikatan perkawinan.

Pelamar memperlihatkan bagaimana seorang laki-laki menyatakan kesungguhan cintanya, sedangkan pisuka memperlihatkan bagaimana keluarga laki-laki membangun jembatan penghormatan kepada keluarga perempuan. Keduanya merupakan bagian dari mekanisme budaya yang menjadikan perkawinan bukan sekadar penyatuan dua individu, tetapi juga perjumpaan dua keluarga dan pembentukan jaringan kekerabatan baru.

Karena itu, ukuran nominal tidak semestinya ditempatkan sebagai pusat makna. Yang lebih utama adalah keikhlasan dalam memberi, ketulusan dalam menerima, kemampuan menjaga martabat, serta kesediaan kedua keluarga untuk hidup dalam hubungan kekerabatan yang saling menghormati.

Ketika nilai-nilai tersebut hilang, simbol budaya mudah bergeser menjadi sekadar transaksi ekonomi. Sebaliknya, ketika nilai tersebut tetap dijaga, pemberian menjadi bahasa sosial yang mempererat hubungan manusia.

Di sinilah pentingnya membaca tradisi Sasak dengan perspektif kebudayaan, bukan hanya dengan perspektif ekonomi. Anak perempuan bukan komoditas, keluarga bukan pihak yang bertransaksi, dan perkawinan bukan arena tawar-menawar. Tradisi justru hadir untuk memberikan tata cara agar cinta, kehormatan, tanggung jawab, dan hubungan antarkeluarga dapat ditempatkan dalam keseimbangan.

Namun perjalanan memahami perkawinan Sasak belum selesai sampai pada pelamar dan pisuka. Masih terdapat dimensi lain yang memiliki kedudukan sangat penting, yakni maskawin dan sorong serah aji krama.

Jika pelamar berbicara tentang kesungguhan seorang laki-laki kepada perempuan dan pisuka berbicara tentang hubungan antarkeluarga, maka maskawin membawa kita kepada dimensi keagamaan dan tanggung jawab perkawinan, sementara sorong serah aji krama membawa kita lebih jauh ke dalam dimensi adat, martabat, status sosial, dan tata nilai masyarakat Sasak.

Di sanalah pertanyaan berikutnya menjadi menarik: Apa sesungguhnya makna maskawin dalam perkawinan Sasak? Apakah ia hanya syarat sah secara agama, ataukah memiliki makna sosial dan budaya yang lebih luas? Dan apa sebenarnya yang diserahkan dalam sorong serah aji krama—sekadar benda dan sejumlah nominal, ataukah terdapat simbol tentang harga diri, kehormatan, dan posisi sosial keluarga?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi pintu masuk pada tulisan berikutnya.

Bersambung: Maskawin dan Sorong Serah Aji Krama dalam Perkawinan Sasak—Antara Syariat, Adat, Martabat, dan Makna Simbolik.

Penulis : Guru Muhir

Editor : Ceraken Editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Kesepakatan hingga Penghormatan: Pelamar, Pisuka, Maskawin, dan Pelengkak dalam Tradisi Sasak 
Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87
Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola
Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:25 WITA

Dari Kesepakatan hingga Penghormatan: Pelamar, Pisuka, Maskawin, dan Pelengkak dalam Tradisi Sasak 

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:39 WITA

“Dari Pelamar hingga Aji Krama: Memahami Jenis dan Makna Keuangan dalam Tradisi Perkawinan Sasak”

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:12 WITA

Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87

Senin, 6 Juli 2026 - 10:25 WITA

Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA