Oleh Sigit Susanto*
CERAKEN.ID — Siang berbalut mendung tipis, kami berjalan mencari makan di pantai Senggigi. Di seberang penjual sate bulayak, kami tertumbuk pemandangan yang tak umum. Belasan anak-anak mancing. Mereka bukan mancing seperti layaknya orang mancing di sungai atau laut. Tetapi anak-anak itu memegang bambu dan senur dijatuhkan ke kolam renang.
Kontan aksi itu membelokkan jalan makan, menuju kegiatan anak-anak itu. Kolam renang yang biasa dipakai berenang, kali ini justru dipakai mancing.
Aku mendekat pada anak-anak yang sedang mancing. Satu anak mancing sambil di sebelahnya ada botol aqua terisi air dan seekor ikan di dalam botol.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku tatap di sekitar, ada bangunan kamar-kamar yang sudah rusak atapnya. Padahal atap-atap itu dari bahan ilalang. Ada bangunan bekas lobi yang merana, atapnya dari ilalang berantakan,
Aku mencoba mengingat ulang tempat ini. Di sini dulu berdiri Hotel Santosa. Lokasinya persis di samping dermaga kapal Senggigi. Sejak ada gempa bumi melanda pulau Lombok berkali-kali, hotel ini tak segera direnovasi ulang. Bobrok dan sebagai sarang hantu.
Aku mendekat ke bocah yang mancing dan barusan dapat seekor ikan mujahir, mancing di kolam renang, sungguh tak pernah terpikirkan. Di kolam itu memang air menggenang dan tanaman kangkung menjalar bebas.
“Dik, biasanya dapat ikan berapa ekor?” tanyaku.
“Sampai 20 ekor dan aqua ini penuh ikan,” kata Fai.
Temannya yang menyebutkan bahwa yang dapat ikan itu bernama Fai. Ketika aku jongkok beberapa saat di sebelah Fai, dia dapat ikan lagi dan segera dimasukkan ke botol aqua. Pancingan kedua dapat lagi dan ternyata ikannya kecil. Yang menarik Fai ini melepaskan lagi ke kolam yang warna airnya hijau. Sepertinya ia punya kesadaran yang simpatik.
Sebenarnya tadi aku mendekat bocah mancing ini harus melewati jembatan batu padas kuning. Memang design kolam renang ini indah, ada semacam pulau kecil di tengah kolam. Untuk mencapai pulau buatan di tengah itu, orang harus jalan melewati jembatan.
Menurut bocah-bocah di situ, mungkin bibit ikan sengaja ditebar orang. Aku tak bisa membayangkan, anggap saja hotel ini masih berfungsi dan bocah-bocah mancing di kolam renang, pasti satpam yang akan mengangkut mereka keluar.
Aku meninggalkan arena mancing dan baru kubaca ada plang besar berdiri di kebun menghadap pantai. Tertera, sejak gempa Lombok, hotel ini terdapat kerusakan yang parah.
Orang yang masuk ruangan ini tanpa izin, bisa dipenjara selama satu tahun enam bulan. Bocah-bocah itu aku suruh baca pada kalimat yang penting, yakni akan dipenjara. Mereka tertawa. Di atas pengumuman itu ada lagi pengumuman, bahwa pemilik hotel ini terkena musibah pailit dan kondisi arena hotel ini disita oleh negara,
Ikan-ikan di kolam itu sejatinya lebih senang bermain dengan anak-anak. Seandainya tiba-tiba menjadi kolam renang yang sungguhan dan banyak kaki-kaki pelancong yang renang, pastinya ikan-ikan itu tak nyaman.
“Anak-anak terus mancing sepuasnya, ya!”
“Iyaaaa.” (*)
*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.
Editor : ceraken editor































































