CERAKEN.ID — Barangkali yang paling sulit bukan melukis di atas kanvas. Yang lebih rumit adalah melukis kesadaran sebuah masyarakat agar mau berhenti sejenak, memandang sebuah karya, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sedang ingin disampaikan pelukis ini?
Di situlah ekosistem seni rupa sesungguhnya bermula. Bukan ketika sebuah galeri berdiri, bukan pula ketika sebuah pameran dibuka dengan gunting pita dan kilatan kamera.
Ekosistem lahir ketika karya menemukan penontonnya, penonton menemukan pemahamannya, lalu penghargaan berubah menjadi dukungan yang membuat seniman dapat terus berkarya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nusa Tenggara Barat sesungguhnya tidak pernah kekurangan perupa. Dari generasi lama hingga yang muda, dari kampus hingga komunitas, karya terus lahir.
Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah memastikan karya-karya itu tidak berhenti sebagai benda yang dipajang, melainkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Galeri Bukan Satu-satunya Jawaban
Ketika ceraken.id mewartakan aktivitas seni di Rplay Lombok pada awal Juli lalu, satu pernyataan dari pemiliknya, Mr. Red, terasa seperti cermin bagi kondisi seni rupa daerah hari ini.
“Minimnya galeri seni dan rendahnya minat masyarakat terhadap seni rupa menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan dua persoalan besar sekaligus: ruang dan publik.
“Di Lombok belum banyak galeri lukisan, dan masyarakat juga belum terlalu tertarik dengan art atau seni. Kami berharap bisa terus bekerja sama mencari win-win solution antara perusahaan dan para pelukis agar mereka juga bisa memperoleh penghasilan,” ujarnya.
Harapan itu tidak berlebihan. Sebab tanpa ruang yang memadai, karya sulit bertemu publik.
Namun tanpa publik yang memiliki rasa ingin tahu terhadap seni, ruang pun hanya akan menjadi bangunan yang sesekali ramai saat pembukaan, lalu kembali sunyi.
Karena itu Mr. Red percaya frekuensi pameran harus terus ditambah.
“Kalau orang sering melihat pameran, lama-lama pikirannya akan terbuka. Dari situ mudah-mudahan mulai muncul transaksi dan kehidupan seni rupa ikut bergerak.”
Pameran, dalam pandangannya, bukan hanya agenda budaya, melainkan cara perlahan membiasakan mata masyarakat berdialog dengan karya.
Jalan Sunyi Seorang Perupa
Namun persoalan seni rupa tidak berhenti di ruang pamer. Di balik setiap lukisan selalu ada pilihan yang tidak mudah.
Perupa I Nyoman Sandiya menggambarkan bagaimana seorang seniman hampir selalu berjalan di antara dua jalan.
Jalan pertama adalah jalan idealisme. Karya lahir dari pergulatan batin, pengalaman personal, dan kebebasan artistik. Ia mungkin jujur, mungkin sangat kuat secara estetik, tetapi belum tentu disukai pasar.
Jalan kedua adalah jalan komersial. Seniman membaca selera kolektor, mengikuti kecenderungan pasar, dan menciptakan karya yang lebih mudah diterima.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari keduanya. Yang menjadi soal adalah ketika pilihan kedua menjadi satu-satunya jalan karena tuntutan ekonomi.
Sandiya melihat institusi pendidikan maupun pembinaan seni di daerah sebenarnya telah bergerak cukup baik. Akan tetapi, mata rantai berikutnya masih lemah: penghargaan kolektor terhadap karya seni.
Selama kolektor masih sedikit, banyak perupa akhirnya menggantungkan hidup pada pekerjaan lain. Berkesenian menjadi panggilan hati, tetapi belum mampu menjadi sandaran hidup.
Seni Tumbuh dari Jejaring
Ketua Mandalika Art Community, Lalu Syaukani, melihat persoalan itu dari sudut yang lebih luas.
Baginya, ekosistem bukan sekadar menghadirkan ruang, melainkan membangun hubungan yang terus bergerak.
“Jadi kita juga harus mencoba membuka kerja sama lintas seni berskala lokal, nasional bahkan internasional.”
Jejaring menjadi kata kunci.
Pasar tidak datang sendiri. Publikasi tidak muncul begitu saja. Isu-isu tentang seni juga tidak akan hidup apabila komunitas berjalan sendiri-sendiri.
Dalam pandangan Syaukani, pendidikan seni pun harus melampaui urusan teknik.
“Pendidikan seni tidak boleh berhenti pada proses mengajarkan teknik semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pendidikan mampu menumbuhkan cara berpikir kritis, kepekaan terhadap realitas sosial, keberanian bereksperimen, serta penghargaan terhadap identitas budaya lokal.”
Pernyataan itu mengingatkan bahwa seni bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan cara membaca zaman.
Ia pun menyoroti kenyataan yang sering luput diperhatikan.
“Di banyak daerah, tantangan terbesar bukan kekurangan seniman berbakat, melainkan belum terbangunnya hubungan yang kuat antara institusi pendidikan, pemerintah, komunitas seni, pelaku industri kreatif, dan masyarakat. Akibatnya, banyak potensi lahir, tetapi belum memiliki ruang yang cukup untuk berkembang secara berkelanjutan.”
Dengan kata lain, masalah utama bukan kekurangan bakat, melainkan lemahnya jembatan yang menghubungkan berbagai unsur ekosistem.
Sebelum Membeli, Masyarakat Harus Memahami
Di antara berbagai pandangan itu, Ketua Lombok Art Community, Muzhart, mengingatkan satu hal yang sering terlewat.
Yang harus dibangun terlebih dahulu adalah masyarakatnya.
Ia sepakat bahwa ruang pamer perlu diperbanyak. Namun ruang tidak akan berarti apabila publik tidak merasa memiliki hubungan dengan seni.
Pertanyaan yang diajukannya terasa menohok.
“Jikalau pun memang masyarakat sudah berkunjung kepada ruang seni, apakah ruang seni tersebut menyediakan ruang edukasi berbentuk dialog yang disajikan sehingga masyarakat teredukasi?”
Ia melihat sebagian besar pameran masih berhenti pada aktivitas memajang karya.
“Kan buktinya kebanyakan tidak menyediakan ruang dialog, maka daripada itu jangan heran jikalau pengunjung atau masyarakat datang ke sebuah pameran namun dia hanya keliling, berfoto terus pulang.”
Mungkin di situlah letak persoalan yang sesungguhnya.
Banyak orang hadir di ruang seni, tetapi belum diajak memahami mengapa sebuah lukisan diciptakan, mengapa warna tertentu dipilih, mengapa sebuah garis memiliki makna.
Tanpa percakapan itu, pameran mudah berubah menjadi latar swafoto.
Padahal seni lahir untuk menggerakkan pikiran.
Karena itu Muzhart menawarkan tiga kata yang sederhana, tetapi saling berkaitan.
“Sebab, membangun ekosistem berkesenian bagiku adalah dengan eksistensi, presentasi, dan edukasi, maka itulah ekosistem.”
Menumbuhkan Mata Sebelum Menghitung Transaksi
Barangkali itulah pelajaran paling penting dari berbagai pandangan tersebut.
Selama ini pembicaraan tentang seni rupa sering berhenti pada kebutuhan membangun galeri, memperbanyak pameran, atau meningkatkan penjualan karya. Semua itu memang penting. Namun transaksi hanyalah buah dari pohon yang akarnya telah tumbuh kuat.
Akar itu bernama pendidikan, apresiasi, jejaring, media, komunitas, dan kebiasaan masyarakat untuk berjumpa dengan seni.
Ekosistem seni rupa bukan sekadar urusan seniman. Ia adalah kerja kebudayaan yang melibatkan banyak tangan.
Pemerintah menyediakan kebijakan, kampus melahirkan gagasan, komunitas merawat semangat, media menjaga percakapan tetap hidup, kolektor memberi penghargaan, sementara masyarakat menjadi ruang tempat seluruh proses itu menemukan maknanya.
Mungkin karena itu, yang perlu ditanam lebih dahulu di Nusa Tenggara Barat bukan hanya galeri.
Melainkan mata.
Sebab ketika mata telah belajar melihat, hati akan belajar menghargai. Dan ketika penghargaan tumbuh, pasar akan menemukan jalannya sendiri.
Begitulah sebuah ekosistem bekerja: tidak lahir dari satu bangunan, melainkan dari kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi kebudayaan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































