Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss

Senin, 6 Juli 2026 - 08:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sapi dianggap sebagai tempat  menabung yang efektif (foto: ss / ceraken.id)

Sapi dianggap sebagai tempat menabung yang efektif (foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Cepat atau lambat orang yang baru tinggal di Lombok dan sering naik motor di jalan raya, akan berpapasan atau disalip oleh pengandara motor yang mengangkut banyak rumput.

Hampir tiap hari kami keluar dengan motor di jalan raya, terutama rute dari Sandik ke Senggigi, bertemu 3-4 pengendara motor membawa rumput segar hijau.

Kadang saya disalip dari belakang dan seringnya kami berpapasan. Dari boncengan belakang, istri saya berdecak kagum. Begitu banyak rumput yang diangkut di atas motor. Bahkan kami sering melihat rumput itu ditumpuk di bagian depan, bagian jok penuh dan pengendaranya duduk di tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka naik motor mengangkut penuh rumput dengan kecepatan sedang. Perlahan-lahan, kami penasaran ingin melihat sapi di rumah petani.

Kemarin sore kami mendatangi petani di desa Sandik dan langsung menuju kandang sapi. Terlihat 4 ekor sapi cokelat. Dua indukan yang diikat tali di bawah gubuk, sedang dua anak sapi dibiarkan bebas.

Pemilik sapi itu bernama Ramli. Ia bercerita, bahwa dua ekor sapi betinanya punya dua anak yang berusia 7 bulan dan 2 bulan. Dan anak sapi yang berusia 7 bulan baru saja hidungnya ditusuk bambu yang runcing. Sedang sapi yang kecilan masih dua bulan belum dilubangi hidungnya.

Ketika kami berada di kandang sapi itu, keempat sapi sedang dikasih pakan rumput dan Claudia, istri saya bilang, “Cantik sekali wajah sapi Lombok.”

Ramli menanyakan, apa di Swiss ada sapi seperti miliknya? Claudia menunjukkan foto-foto sapi gunung di Swiss yang sedang diperah diambil susunya.

Baca Juga :  Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi

Saya amati, memang postur sapi Swiss yang lebih besar, wajahnya tak secantik sapi Lombok. Claudia menambahkan, “Lihatlah bulu rambut di mata sapi Lombok itu, panjang dan tampak cakep.”

Saya membayangkan seperti pengantin perempuan yang bulu rambut di mata diberi perpanjangan bulu tambahan.

Istri Ramli menjelaskan, bahwa sapinya keturunan sapi Bali, bukan keturunan sapi dari luar. Sebab indukannya kecil harus kawin suntik dengan pejantan lokal dari Bali. Kalau bibit dari luar, anaknya sulit dalam kelahiran.

Claudia teringat kisah pilu korban pemerkosaan gadis-gadis Vietnam yang rata-rata kecil oleh tentara Amerika yang besar. Beberapa perempuan Vietnam yang hamil meninggal, karena bayinya lebih besar.

Anita, keponakan saya juga menyebutkan, tak hanya sapi di Swiss yang lebih besar dari sapi Indonesia, tetapi orangnya juga lebih besar daripada orang kita.

“Siapa nama sapi kamu?” tanya Claudia tiba-tiba.

“Oh, sapi tak punya nama,” jawab istri Ramli., “apa sapi di Swiss punya nama?”

“Ya, dan nama sapi di Swiss bagus-bagus.”

Ia tunjukkan foto sapi Swiss yang telinganya ditindik dan diberi gantungan plastik kuning disertai namanya.

Baca Juga :  Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB

Bagi keluarga Ramli, sapi dianggap sebagai tempat  menabung yang efektif. Anak sapi yang berusia 7 bulan itu kalau dijual bisa sampai 8 juta rupiah, kalau indukannya bisa seharga 10 juta rupiah. Apalagi sekarang akan datang lebaran kurban.

Ramli anggap mudah memelihara sapi dan hasilnya bisa dinikmati, kapan saja perlu uang, sapi bisa dijual sewaktu-waktu. Cuma cari rumputnya ini harus rajin. Sapi makan rumput dua kali, yakni pagi dan sore.

Aku ceritakan, sapi di Swiss kebanyakan tak ada yang gembalakan dan dilepas bebas di ladang rumput di musim panas. Pemilik sapi harus punya lahan luas untuk menaruh sapi. Lahan rumput itu dikelilingi kabel listrik tegangan ringan. Jika sapi akan keluar lahan, akan tersentuh kabel listrik, maka akan kembali ke tengah.

Di luar dugaan saya, Ramli cerita model sapi banyak di Swiss itu juga ada di pulau Sumbawa Besar. Sapi-sapi dilepas bebas di ladang dan sampai ke pantai. Bedanya ladangnya tidak dibatasi kabel listrik, tapi pagar kayu atau bambu, yang memungkinkan tapi tidak bisa keluar. Bahkan sapi-sapi itu hidup bebas di hutan miliknya yang punya sapi.(*)

*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Indonesia SAKTI
Pustaka, Pusaka, dan Jejak Abadi Syekh Yusuf di Balla Barakkaka ri Galesong
Donut Kecil dari Anak Kecil
Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB
Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi
Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB
Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…
Bangku Menghadap Jalan Raya

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 12:02 WITA

Indonesia SAKTI

Senin, 6 Juli 2026 - 08:58 WITA

Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:50 WITA

Pustaka, Pusaka, dan Jejak Abadi Syekh Yusuf di Balla Barakkaka ri Galesong

Senin, 29 Juni 2026 - 09:05 WITA

Donut Kecil dari Anak Kecil

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:03 WITA

Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Berita Terbaru

(foto: ist / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Indonesia SAKTI

Senin, 6 Jul 2026 - 12:02 WITA

Penulis (kiri) membahas sepak bola dengan Iwan Azis (tengah) dan Mustam Arif di salah satu warkop di Makassar (foto: ist / ceraken.id)

NARASI

Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola

Senin, 6 Jul 2026 - 10:25 WITA

Sapi dianggap sebagai tempat  menabung yang efektif (foto: ss / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss

Senin, 6 Jul 2026 - 08:58 WITA