Donut Kecil dari Anak Kecil

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dalam perjalanan menuju pantai Senggigi, percakapan kami dipangku angin laut  (foto: ss / ceraken.id)

Dalam perjalanan menuju pantai Senggigi, percakapan kami dipangku angin laut (foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Motor kami berhenti mendadak di jalan beraspal desa Sandik, karena Claudia hendak meludah perlu kertas tisu.

Mungkin kita bisa bertanya, kenapa orang bule tak pernah terlihat meludah. Di Eropa meludah itu dianggap jorok dan tak sopan. Sebaliknya, jika bersin-bersin, hingga keluar ingus dari hidung dan dibersishkan dengan tisu, dianggap wajar.

Di budaya kita bersin-bersin sampai mengeluarkan ingus dari hidung itu dianggap jorok. Sedang meludah masih sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Jika saya terpaksa harus meludah, saya diberi tata caranya oleh Claudia, atas mulut harus ditutup dengan telapak tangan kiri, dan kepala menunduk ke bawah di dekat batang pohon atau tembok, meludahlah. Sebisanya jangan dilihat orang.

Kembali ke tepi jalan desa di Sandik. Mendengar Claudia sedikit bersin dan hendak meludah, motorku aku perlambat dan berhenti di tepi kiri.

Dari arah depan ada tiga anak kecil berseragam baju hijau dan celana, rok putih lewat persis di samping kiri kami. Dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Tak saya sangka, saat mereka berjalan dan lewat samping kami, seorang bocah perempuan itu maju menyodorkan kue donut kecil ke depan Claudia.

Claudia kaget dengan peristiwa itu. Saya perhatikan, tangan kanan bocah itu menyodorkan donut, sedang tangan kirinya masih memegang buah jambu.

Claudia masih terpana. Rencana meludah dengan kertas tisu, segera terlupakan. Kepala saya masih terbungkus helm, menoleh dan mengamati peristiwa itu. Takjup saya melihat aksi spontan itu. Angan saya melayang kepada kedua orang tua bocah itu. Bagaimana orang tua mendidik mereka. Berderma kepada siapapun, tanpa pandang siapa orang yang berada di depannya. Spontanitas anak memang tak bisa dibendung.

Baca Juga :  Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Roman Claudia berbinar, senyumnya mekar. Sementara dua temannya di samping kiri dan kanan berdiri, seperti ikut menikmati momen ini. Seandainya kedua temannya itu memegang kue, kemungkinan juga akan meniru teman yang mengulurkan donut ke Claudia. Atau jangan-jangan, kue dan buah jambu itu jatah mereka bertiga.

Tampak Claudia bereaksi, tak mau menerima begitu saja. Ia akan memberi uang dan ia keluarkan uang lembaran sepuluh ribu tiga kali dari dompetnya.

Ketiga bocah kecil menatap lembaran-lembaran itu penuh penasaran. Saya pun ikut larut lamunan mereka, jangan-jangan lamunannya sama.

Claudia berkata kepada saya dalam bahasa Jerman, tiga bocah ini akan saya beri uang masing-masing Rp10.000. Saya tentu mengangguk.

Ini untuk kamu, ini untuk kamu juga dan ini juga untuk kamu. Terima kasih donutnya, Ya, tutup Claudia.

Muka ketiga bocah girang, seperti akan terbang. Lembaran sepuluh ribu itu ia terima dengan tangan kanan mungil.

Saya bertanya kepada mereka,Untuk apa uangnya, ditabungkah?

Mereka terdiam sesaat, sambil ujung-ujung hidungnya yang berkeringat bergerak-gerak kecil. Mereka saling bertatap pandang dengan keluguan.

Donut dipegang Claudia dan kami pamitan akan berpisah. Wajah mereka penuh suka ria dan melambaikan tangan ke kami.

Baca Juga :  Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Rupanya kejadian ini dilihat oleh teman-temannya yang kebetulan keluar di halaman sekolah. Kami lihat ada murid-murid berjalan cepat meninggalkan halaman sekolah menuju kami. Untuk itu kami memilih meninggalkan mereka saja. Apalagi ini di tepi jalan, kurang aman.

Dalam perjalanan menuju pantai Senggigi, percakapan kami yang dipangku angin laut, masih berkisar kekaguman dan keterkejutan diberi donut kecil oleh anak kecil.

Saya bergurau, selama saya tiga puluh tahun di Swiss, tak pernah diberi semacam donut kecil oleh anak kecil.

“Sehr Süss, sehr Süss,” sambut Claudia berkali-kali artinya sangat indah atau peristiwa yang manis.

Selama di pantai Senggigi, sampai pulang ke Sandik dan hari-hari berikutnya, kami sering membicarakan kenangan indah di desa Sandik.

Bahkan ketika kami melewati jalan yang sama, tempat kami berhenti diberi donut itu, sering mengingat ulang, di sinilah donut itu dikasihkan anak kecil.

Suatu siang yang lain ada anak kecil yang melambaikan tangan, “Hello,” ke arah kami. Sehingga kami kadang berpikiran, jangan-jangan anak yang lalu itu.

Sesampai kami kembali ke Swiss, kisah donut dari anak kecil itu sering Claudia ceritakan kepada teman-temannya. Indah sekali sentuhan anak-anak Lombok yang ramah dan sosial. Kalau saya boleh menandai, the best memory tahun 2025 di Indonesia, ya kisah donut itu.(*)

 *Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA