Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB

- Penulis

Minggu, 21 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

"Buaya Muara". Tubuhnya diawetkan membentang sepanjang 4,1 meter, lebar 1,1 meter dan tinggi 0,6 meter (foto: aks / ceraken.id)

"Buaya Muara". Tubuhnya diawetkan membentang sepanjang 4,1 meter, lebar 1,1 meter dan tinggi 0,6 meter (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada pemandangan yang selalu membuat langkah pengunjung melambat ketika memasuki ruang koleksi Museum Negeri NTB di Kota Mataram. Di balik vitrin yang dirancang khusus untuk menjaga suhu dan kelembapan koleksi, seekor buaya muara raksasa tampak membeku dalam waktu.

Tubuhnya yang diawetkan membentang sepanjang 4,1 meter dengan lebar 1,1 meter dan tinggi 0,6 meter. Reptil yang dahulu menghuni Sungai Ama La HB di Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, itu kini tidak lagi menjadi ancaman, melainkan menjadi saksi bisu hubungan manusia dengan alam liar di Nusa Tenggara Barat.

Buaya muara (Crocodylus porosus) bukanlah satwa biasa. Ia dikenal sebagai spesies buaya terbesar di dunia, predator puncak yang hidup di muara, sungai dekat laut, dan perairan payau. Dengan ukuran yang dapat mencapai tujuh meter dan bobot lebih dari satu ton, reptil purba ini menempati posisi tertinggi dalam rantai makanan di habitatnya.

Di alam liar, keberadaannya menjadi penanda keseimbangan ekosistem, sekaligus pengingat bahwa manusia berbagi ruang dengan makhluk yang telah bertahan sejak jutaan tahun silam.

Dari Teror Dompu Menjadi Warisan Edukasi

Buaya yang kini menghuni vitrin Museum Negeri NTB memiliki sejarah tersendiri. Sebelum ditangkap pada tahun 2010, satwa tersebut sempat meresahkan warga Dompu.

Sejumlah laporan menyebutkan buaya itu menyerang ternak bahkan memangsa manusia. Ukurannya yang luar biasa besar membuat keberadaannya menjadi perhatian masyarakat sekaligus aparat yang menangani konflik satwa liar.

Baca Juga :  Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif

Setelah berhasil ditangkap, reptil tersebut tidak dimusnahkan begitu saja dari ingatan publik. Sebaliknya, ia diserahkan kepada Museum Negeri NTB untuk diawetkan dan dijadikan koleksi sejarah alam.

Kehadirannya kini menjadi media pembelajaran mengenai fauna lokal, konservasi, dan dinamika hubungan manusia dengan lingkungan.

Bagi museum, koleksi ini memiliki nilai yang melampaui sekadar pajangan. Ia menyimpan kisah tentang habitat, konflik ekologis, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam di Pulau Sumbawa.

Simbol Rantai Makanan di Pulau Sumbawa
Kehadirannya menjadi media pembelajaran mengenai fauna lokal, konservasi, dan dinamika hubungan manusia dengan lingkungan (foto: aks / ceraken.id)

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menegaskan bahwa buaya muara tersebut merupakan salah satu koleksi biologikal penting yang dimiliki museum.

“Buaya muara termasuk koleksi biologikal dari 10 koleksi museum. Buaya muara yang berasal dari Dompu ini adalah obyek yang akan menguatkan keilmuan di bidang fauna lokal NTB khususnya Pulau Sumbawa. Ini juga menjadi bukti secara ilmiah terkait teori rantai makanan, karena buaya muara tersebut adalah rantai makanan tertinggi di Pulau Sumbawa,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (21/6/2026).

Menurut Nuralam, penempatan koleksi buaya tidak dilakukan secara sembarangan. Di depan vitrin buaya, museum juga menampilkan koleksi kijang sebagai representasi satwa yang menjadi bagian dari rantai makanan predator tersebut.

“Oleh karena itu, di depan koleksi buaya ada kijang yang menjadi makanannya. Visualisasi ini terkait kondisi alam Sumbawa perlu ditampilkan secara lebih nyata. Hal ini bisa mendorong imajinasi anak-anak semakin berkembang, itu juga menjadi fungsi museum sebagai lembaga pembelajaran,” katanya.

Penataan tersebut menjadikan ruang pamer bukan sekadar tempat menyimpan benda, melainkan ruang narasi yang membantu pengunjung memahami bagaimana ekosistem bekerja di alam liar.

Baca Juga :  Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Ikon Museum dan Jendela Konservasi

Di tengah beragam koleksi budaya dan sejarah yang dimiliki Museum Negeri NTB, buaya muara justru menjadi salah satu objek yang paling sering menarik perhatian pengunjung. Anak-anak sekolah yang datang dalam rombongan kerap berkerumun di depan vitrin, mengamati gigi-gigi tajam dan tubuh raksasa satwa yang kini membisu di balik kaca.

“Koleksi buaya juga menjadi ikon bagi Museum NTB, karena antusiasnya pelajar dan anak-anak ketika melihat buaya tersebut dalam vitrin,” tambah Nuralam.

Popularitas koleksi ini sekaligus membuka ruang edukasi mengenai pentingnya konservasi satwa liar. Buaya muara merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia.

Populasinya di berbagai wilayah dunia mengalami penurunan akibat perburuan dan hilangnya habitat. Konflik antara manusia dan buaya yang kerap terjadi sebenarnya menjadi cerminan semakin menyempitnya ruang hidup satwa tersebut.

Melalui koleksi ini, Museum Negeri NTB tidak hanya menghadirkan spesimen fauna terbesar di kawasan itu, tetapi juga mengajak publik memahami bahwa predator puncak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Di balik tubuh raksasa yang membeku dalam vitrin, tersimpan pelajaran tentang ekologi, sejarah, dan tanggung jawab manusia menjaga warisan hayati bagi generasi mendatang. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA