Karya Inspiratif di Arena Budaya Unram: Saat Sastra Menjelma Wayang, Puisi, dan Jurnalistik

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagelaran “Karya Inspiratif” menunjukkan sastra masih memiliki daya hidup yang kuat ketika diberi ruang untuk bertransformasi (foto: aks / ceraken.id)

Pagelaran “Karya Inspiratif” menunjukkan sastra masih memiliki daya hidup yang kuat ketika diberi ruang untuk bertransformasi (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Arena Budaya Universitas Mataram pada Selasa, 23 Juni 2026, menjadi ruang perjumpaan kreativitas, tradisi, dan gagasan mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram.

Melalui pagelaran bertajuk “Karya Inspiratif”, mahasiswa menghadirkan beragam karya yang lahir dari proses pembelajaran berbasis proyek, mulai dari wayang kontemporer, teatrikal puisi, hingga pameran karya jurnalistik.

Pagelaran tersebut bukan sekadar pertunjukan akhir semester, melainkan bentuk konkret bagaimana karya sastra dapat ditafsirkan ulang menjadi medium ekspresi yang lebih luas. Sebanyak 150 mahasiswa terlibat dalam proses kreatif yang berlangsung selama berbulan-bulan, menghasilkan pertunjukan yang menggabungkan tradisi, teknologi, dan semangat generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Enam kelompok wayang kontemporer menampilkan adaptasi karya sastra dan cerita rakyat, yakni Iblis Tanah Suci, Inaq Tegining Amaq Teganang, Lala Buntar, Cupak Gerantang, Cinta di Balik Pisuke, serta Tegodek-godek, Tetuntel-tuntel.

Sementara itu, kelompok teatrikal puisi menghidupkan karya-karya seperti Bunga Gugur, Rekahan Rindu, Nyanyian Angsa, Yang Fana, Sajak Sebatang Lisong, dan Hujan Bulan Mei. Di sisi lain, mahasiswa jurnalistik memamerkan sekitar 20 majalah hasil produksi mereka yang telah melalui proses review dosen dan mahasiswa.

Pembelajaran Berbasis Proyek yang Menumbuhkan Kreativitas

Dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan dan Pengantar Dasar Pertunjukan, Rinda Windya Ikomah, menjelaskan bahwa pagelaran tersebut merupakan luaran pembelajaran yang dirancang berbasis proyek.

“Pentas ‘Karya Inspiratif’ ini sebenarnya adalah luaran dari mata kuliah. Jadi memang visi dari program studi itu adalah setidaknya berbasis proyek. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi menghasilkan karya nyata yang dapat dipertontonkan kepada publik,” ujarnya.

Menurut Rinda, proyek pertunjukan wayang kontemporer lahir dari proses adaptasi karya sastra ke dalam bentuk pertunjukan. Mahasiswa terlebih dahulu mengolah naskah, menyusun konsep, hingga memproduksi pertunjukan secara mandiri.

Sebelum memasuki tahap produksi, mereka juga mendapatkan penguatan materi melalui kuliah umum bersama dalang Wayang Kafka, Sigit Susanto, yang kini bermukim di Swiss.

Pilihan wayang sebagai medium utama bukan tanpa alasan. Selain memberi arah yang seragam bagi mahasiswa, bentuk ini juga membuka ruang eksplorasi yang luas. Menariknya, sebagian besar mahasiswa memilih cerita rakyat sebagai sumber inspirasi.

“Kebetulan mereka banyak tertarik dengan cerita rakyat. Jadi lokalitas itu menjadi perhatian mereka. Tidak masalah menurut saya, karena justru menunjukkan kedekatan mereka dengan budaya sendiri,” kata Rinda.

Sementara pada proyek teatrikal puisi, mahasiswa diberi kebebasan memilih karya sastra yang akan ditafsirkan ulang. Mayoritas memilih puisi karena dianggap memberi ruang lebih besar untuk berekspresi melalui gerak, simbol, dan gestur tubuh.

Baca Juga :  Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Menghidupkan Kembali Cerita Rakyat Sasak

Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian penonton adalah adaptasi cerita rakyat Inaq Tegining Amaq Teganang. Kelompok yang terdiri dari delapan mahasiswa tersebut menghadirkan kisah populer masyarakat Sasak melalui medium wayang kontemporer.

Wiwit, perwakilan kelompok, menjelaskan bahwa pemilihan cerita tersebut didasari kedekatannya dengan kehidupan masyarakat Lombok.

“Pilihan di karya sastra ini lebih disebabkan karena cerita rakyat sangat populer di Suku Sasak, apalagi ada lagunya, yaitu Inaq Tegining Amaq Teganang. Makanya kami adaptasikan ke pertunjukan wayang,” ujarnya.

“Inaq Tegining, Amaq Teganang”, walaupun bergelimang harta, mereka tetap hidup sederhana. Itu yang menjadi pelajaran penting bagi kita sekarang,  (foto: aks / ceraken.id)

Selama tiga bulan, kelompok tersebut mengembangkan naskah, merancang karakter, dan memvisualisasikan tokoh-tokoh seperti Inaq Tegining, Amaq Teganang, Inaq Gunda, Amaq Sahnun, hingga hewan-hewan yang hadir dalam cerita. Bahkan, mereka memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu proses visualisasi tokoh dan properti.

Kisah tersebut mengangkat kehidupan pasangan kaya raya yang tidak memiliki keturunan. Setelah Amaq Teganang meninggal dunia, seluruh harta yang mereka miliki akhirnya diserahkan untuk kepentingan masyarakat.

Menurut Saskia, salah satu anggota kelompok, cerita itu menyimpan pesan moral yang relevan hingga kini.

“Walaupun Inaq Tegining dan Amaq Teganang bergelimang harta, mereka tetap hidup sederhana. Itu yang menjadi pelajaran penting bagi kita sekarang,” tuturnya.

Wayang Kontemporer sebagai Wajah Baru Tradisi

Bagi dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan, A.A. Ngurah Bagus Janitra Dewanta, pagelaran ini menjadi sarana untuk mempertemukan tradisi dengan semangat zaman.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori pertunjukan, tetapi juga menguasai seluruh proses produksi, mulai dari penyusunan konsep hingga pementasan.

“Kami mengajarkan bagaimana mahasiswa bisa mempersiapkan pertunjukan dari awal membuat konsep sampai dengan pementasan. Jadi tidak hanya teori, tetapi mahasiswa juga bisa melakukan praktik yang sesungguhnya dan memiliki dampak sesuai tujuan kampus berdampak,” katanya.

Menurut Bagus, salah satu tujuan utama pementasan adalah membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap seni pewayangan yang selama ini dianggap kuno.

“Tegodeg-godeg, Tetuntel-tuntel”, pesan moral cerita tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini (foto: aks / ceraken.id)

“Kami ingin membangkitkan kembali seni atau sastra lama seperti pewayangan, bukan pewayangan yang terkesan jadul, tetapi kami bungkus dalam bentuk kontemporer yang menyesuaikan perkembangan zaman dan karakteristik mahasiswa,” jelasnya.

Antusiasme mahasiswa terlihat dari beragam bentuk wayang yang mereka ciptakan. Meski telah diberikan contoh dan arahan, setiap kelompok tetap mampu menghadirkan kreativitas masing-masing melalui desain karakter, tata visual, hingga interpretasi cerita.

Sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS), pementasan ini dinilai berdasarkan sejumlah aspek, di antaranya teknik manipulasi wayang, kreativitas cerita, kemampuan vokal dan dialog, tata musik pengiring, serta tata artistik dan properti panggung.

Baca Juga :  Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok
Pesan Moral dari Persahabatan Monyet dan Katak

Cerita rakyat lain yang tak kalah menarik adalah Tegodek-godek, Tetuntel-tuntel, yang diangkat oleh kelompok Liza. Cerita tersebut mengisahkan persahabatan antara seekor monyet dan seekor katak yang menemukan pohon pisang di sungai.

“Ini adalah cerita rakyat yang sering kami dengar dari nenek. Karena itu kami mencoba mengangkatnya kembali melalui pertunjukan wayang,” ujar Liza.

Dalam cerita tersebut, monyet memilih bagian pohon pisang yang sudah berbuah, sedangkan katak memperoleh bagian yang masih bertunas. Keserakahan monyet akhirnya menimbulkan konflik dan menghancurkan persahabatan mereka.

Menurut Liza, pesan moral cerita tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

“Makna yang dapat kita petik adalah jangan serakah dan jangan mengambil hak milik orang lain. Nilai ini tetap penting diterapkan sampai sekarang,” katanya.

Kemampuan menafsirkan ulang karya sastra merupakan bekal penting bagi mahasiswa di masa depan (foto: aks / ceraken.id)

Kelompok yang beranggotakan tujuh hingga delapan mahasiswa itu juga menjalani proses kreatif selama tiga bulan. Mereka memvisualisasikan karakter monyet, katak, sungai, hutan, dan pohon pisang dalam bentuk wayang yang unik dan komunikatif bagi penonton muda.

Menjadikan Sastra Sebagai Ruang Tafsir Baru

Di balik seluruh pertunjukan yang ditampilkan, terdapat tujuan pendidikan yang lebih besar: mengajak mahasiswa memahami sastra bukan sekadar sebagai teks yang dibaca, melainkan sebagai ruang tafsir yang terus hidup.

Rinda Windya Ikomah menegaskan bahwa kemampuan menafsirkan ulang karya sastra merupakan bekal penting bagi mahasiswa di masa depan.

“Harapan kami sebagai pendidik adalah mereka mampu melihat karya sastra itu bukan hanya dibaca, tetapi ditelaah, ditangkap maknanya, lalu ditafsirkan ulang dalam bentuk lain. Itu akan melatih kreativitas mereka. Mungkin suatu saat mereka menjadi pencipta karya baru, dan ini adalah langkah awal untuk mengasah diri,” ungkapnya.

Pagelaran “Karya Inspiratif” menunjukkan bahwa sastra masih memiliki daya hidup yang kuat ketika diberi ruang untuk bertransformasi. Wayang kontemporer, teatrikal puisi, dan karya jurnalistik yang dipamerkan menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya belajar memahami karya sastra, tetapi juga mampu menghadirkannya kembali dalam bentuk yang relevan dengan zamannya.

Meski demikian, terdapat sejumlah catatan yang dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya.

Tata suara atau akustik masih perlu ditingkatkan agar dialog dan musik terdengar merata di seluruh area pertunjukan. Selain itu, publikasi kegiatan juga perlu dilakukan lebih awal sehingga mampu menjangkau penonton yang lebih luas.

Dengan berbagai capaian dan evaluasi tersebut, “Karya Inspiratif” bukan sekadar ujian akhir semester, melainkan sebuah perayaan kreativitas yang memperlihatkan bagaimana sastra, budaya lokal, dan dunia akademik dapat berkolaborasi melahirkan karya yang menginspirasi. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Ngayu-Ayu dalam Bingkai Seni: Merawat Ingatan Budaya, Meneguhkan Karakter Bangsa
Pentas Kebaikan dan Nada-Nada yang Menjaga Harapan
Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha
Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint
Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok
Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja
Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:58 WITA

Ngayu-Ayu dalam Bingkai Seni: Merawat Ingatan Budaya, Meneguhkan Karakter Bangsa

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:51 WITA

Karya Inspiratif di Arena Budaya Unram: Saat Sastra Menjelma Wayang, Puisi, dan Jurnalistik

Senin, 22 Juni 2026 - 22:33 WITA

Pentas Kebaikan dan Nada-Nada yang Menjaga Harapan

Senin, 15 Juni 2026 - 21:05 WITA

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:22 WITA

Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint

Berita Terbaru