CERAKEN.ID — Suasana di sekitar Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Kamis (25/6/2026), tampak diselimuti kabut tipis pertanda hujan akan segera turun. Namun cuaca yang muram itu justru berbanding terbalik dengan atmosfer di dalam galeri.
Puluhan pengunjung tampak menyusuri deretan foto dokumentasi, karya seni rupa, artefak budaya, hingga buku hasil penelitian yang mengisahkan sebuah tradisi tua dari kaki Gunung Rinjani.
Melalui Pameran Seni dan Dokumentasi “Ngayu-Ayu” dalam Bingkai Kebudayaan: Pusat Edukasi, Interaksi, dan Penguatan Karakter Bangsa, periset Dr. Sumitro, M.Pd. bersama kurator Sasih Gunalan menghadirkan ruang perjumpaan antara riset akademik, dokumentasi budaya, dan ekspresi seni rupa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pameran yang berlangsung pada 24–26 Juni 2026 ini bukan sekadar menyajikan arsip visual, melainkan mengajak masyarakat membaca kembali makna sebuah tradisi yang telah diwariskan masyarakat Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, selama lebih dari enam abad.
Dalam katalog pameran, Sumitro menegaskan bahwa penyelenggaraan pameran merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian Tradisi Ngayu-Ayu yang terus hidup di tengah masyarakat Sembalun. Baginya, Ngayu-Ayu bukan sekadar warisan budaya lokal, tetapi juga mengandung simbolisme adat, nilai filosofis, serta ajaran moral yang relevan dikenalkan kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital.
“Melalui pameran ini, pengunjung diajak memahami sejarah, simbol-simbol adat, nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, hubungan manusia dengan alam, serta relevansinya dalam penguatan karakter bangsa,” tulis Dr. Sumitro dalam katalog pameran.
Tradisi Syukur yang Menjaga Harmoni Kehidupan
Ngayu-Ayu merupakan ritual adat masyarakat Sembalun yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil pertanian, keselamatan masyarakat, serta harapan agar terhindar dari berbagai bencana dan penyakit. Tradisi ini dipercaya telah berlangsung secara turun-temurun selama lebih dari 600 tahun dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat pegunungan di Lombok Timur.
Prosesi adat berlangsung selama dua hari. Hari pertama diawali dengan pengambilan air dari tujuh mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Sembalun.
Air tersebut kemudian disemayamkan semalam di rumah para ketua adat sebelum keesokan harinya dipersatukan di makam adat yang berada di sebelah barat Lapangan Sembalun Bumbung. Seluruh rangkaian ritual merepresentasikan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Makna tersebut juga tergambar melalui berbagai benda yang dipamerkan, mulai dari padi, beras merah, perlengkapan adat, dokumentasi ritual, hingga karya-karya seni rupa hasil interpretasi para seniman terhadap tradisi tersebut.

Panitia pameran sekaligus mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram, Nadira Baenarti, menjelaskan bahwa Ngayu-Ayu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas segala anugerah yang mereka peroleh dari alam.
“Ngayu-Ayu adalah bentuk rasa syukur masyarakat Sembalun kepada Tuhan atas kelangsungan hidup mereka, bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan, alam, dan Tuhan. Padi dan beras merah yang dipamerkan menjadi simbol rasa syukur itu, dengan harapan sawah mereka semakin subur dan hasil panennya terus melimpah,” ujar Nadira.
Ia menjelaskan bahwa dalam tahapan ritual juga terdapat prosesi yang menyerupai Perang Ketupat seperti di Lingsar. Padi dan beras merah kemudian ditebarkan di lahan pertanian sebagai simbol doa agar tanah tetap subur dan memberikan hasil panen yang berlimpah.
Nadira juga menyoroti keberadaan Tari Tandang Mendet yang menjadi salah satu representasi paling menonjol dalam pameran. Menurutnya, tarian tersebut dahulu menggambarkan sosok para prajurit yang membawa tombak sebagai perlengkapan utama.
“Yang paling menonjol sebenarnya Tari Tandang Mendet. Mereka menggunakan tombak sebagai simbol prajurit pada masa lampau. Sekarang fungsi itu berkembang menjadi bagian dari pertunjukan budaya yang menghibur masyarakat,” jelasnya.
Sementara keberadaan keris dalam prosesi adat masih digunakan sebagai bagian dari ritual, meskipun makna simboliknya memerlukan kajian yang lebih mendalam.
Dokumentasi yang Menjadi Karya Seni
Kurator pameran, Sasih Gunalan, memandang dokumentasi budaya bukan sekadar proses merekam sebuah peristiwa, melainkan upaya menghadirkan kembali nilai-nilai yang hidup di dalam tradisi tersebut.
Menurutnya, setiap foto, arsip visual, maupun narasi budaya yang ditampilkan menyimpan semangat gotong royong, penghormatan kepada alam, hubungan antargenerasi, serta usaha menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan dan keyakinan yang diwariskan turun-temurun.
Lebih jauh, Sasih mengembangkan konsep bahwa dokumentasi budaya dapat berdialog dengan seni rupa. Berangkat dari arsip-arsip visual hasil penelitian, para seniman diundang untuk memberikan respons artistik sehingga dokumentasi tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan mengalami proses tafsir ulang melalui bahasa visual.
Karya-karya yang lahir kemudian menghadirkan perspektif baru mengenai Ngayu-Ayu. Tradisi tidak lagi dipandang sebagai peninggalan masa lalu yang membeku, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus hidup dan relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Melalui pendekatan tersebut, pameran memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pengarsipan, melainkan juga melalui penciptaan makna baru yang tetap berakar pada nilai-nilai tradisi.
Riset Menjadi Jembatan Generasi Muda Mengenal Budaya
Pameran ini merupakan puncak dari penelitian yang dimulai sejak tahun 2025. Berbagai dokumentasi lapangan, tahapan ritual, wawancara dengan tokoh adat, hingga kajian akademik dihimpun menjadi sebuah karya ilmiah sekaligus media edukasi bagi masyarakat luas.
Selain menghadirkan dokumentasi visual, pengunjung juga dapat membaca buku hasil penelitian yang disusun oleh Dr. Sumitro, M.Pd., Risma Ade Aryati, S.Pd., M.Sosio., Kormil Saputra, M.Si., Devi Noviandita, S.Pd., Lalu Muhammad Nafi’ Rabbani, dan Nadira Baenarti.
Panitia pameran dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram, Mamduhatussyahab, menilai kegiatan tersebut menjadi sarana penting untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat.
“Menurut saya, Pameran Ngayu-Ayu ini memperlihatkan sebuah ritual masyarakat Sembalun untuk memohon kesuburan tanaman dan hasil panen yang melimpah. Yang dipamerkan berupa foto-foto dokumentasi, hasil panen, lukisan, dan berbagai arsip mengenai pelaksanaan tradisi tersebut,” katanya.
Bagi Nadira sendiri, keterlibatannya dalam penelitian telah membuka wawasan baru mengenai kekayaan budaya Lombok yang sebelumnya belum ia kenal.
“Sebelumnya saya tidak mengetahui apa itu Tradisi Ngayu-Ayu. Setelah mengikuti workshop dan pameran ini saya memahami makna yang terkandung di dalamnya. Saya juga menyadari bahwa tradisi lokal perlu terus dilestarikan. Bahkan tamu-tamu dari luar daerah juga datang melihat pameran ini. Harapan saya, semakin banyak generasi muda mengetahui bahwa Lombok memiliki tradisi yang sangat berharga seperti Ngayu-Ayu,” ungkapnya.
Pesan itulah yang menjadi benang merah seluruh pameran. Ngayu-Ayu bukan sekadar ritual adat yang diwariskan turun-temurun, melainkan sistem nilai yang merekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesamanya.
Di dalamnya hidup semangat gotong royong, toleransi, penghormatan terhadap leluhur, serta etika sosial yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Melalui perpaduan antara riset akademik, dokumentasi budaya, dan karya seni rupa, Pameran Seni dan Dokumentasi “Ngayu-Ayu” berhasil membuktikan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan masa lalu.
Ia dapat terus hidup, ditafsirkan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa yang berakar kuat pada kearifan lokal. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































