Saat Bintang Rowot Menjadi Penanda Waktu: Membaca Kembali Astronomi Leluhur Sasak Lewat Sebuah Buku

- Penulis

Jumat, 3 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ia menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan lokal dapat berdiri sejajar dengan peradaban mana pun ketika diwariskan secara serius dan dibaca dengan cara yang tepat (foto: aks / ceraken.id)

Ia menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan lokal dapat berdiri sejajar dengan peradaban mana pun ketika diwariskan secara serius dan dibaca dengan cara yang tepat (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah kehidupan modern yang seluruh ritmenya diatur kalender digital, jam atom, dan aplikasi telepon pintar, masih ada sebuah pengetahuan lama yang menyimpan cara berbeda dalam memahami waktu.

Bagi masyarakat Sasak, waktu tidak sekadar berganti ketika angka pada kalender berubah. Ia bergerak bersama perjalanan bintang, musim, angin, dan tanda-tanda alam yang dibaca dengan kesabaran selama berabad-abad.

Kesadaran itulah yang dihadirkan kembali melalui buku Mengenal Kalender Rowot Sasak, sebuah karya kolaboratif antara Museum Negeri NTB, Lembaga Rowot Nusantara Lombok (Rontal), dan Penerbit Genius. Ditulis oleh Lalu Ari Irawan, Mawardi, H.L. Agus Fathurrahman, serta Taufik Suadiyatno, buku setebal xvi + 50 halaman yang terbit pertama kali pada Oktober 2014 ini bukan sekadar memperkenalkan sistem penanggalan tradisional.

Ia merupakan ikhtiar menyelamatkan salah satu warisan intelektual paling penting yang dimiliki masyarakat Sasak.

Warisan Astronomi yang Terlupakan

Banyak orang mengenal kalender Masehi yang bertumpu pada peredaran matahari dan kalender Hijriah yang mengikuti siklus bulan.

Namun masyarakat Sasak sejak lama mengembangkan sistem yang jauh lebih kompleks. Mereka memadukan pergerakan matahari, bulan, sekaligus rasi bintang.

Yang paling menentukan adalah kemunculan Rowot—nama lokal bagi gugusan bintang Pleiades—yang menjadi penanda awal tahun Sasak ketika tampak mendahului rasi Tenggale (Orion). Dari sinilah lahir sistem penanggalan yang dikenal sebagai Kalender Rowot.

Yang menarik, awal tahun bagi masyarakat Sasak bukan sekadar pergantian angka. Pergantian tahun berarti pergantian musim. Ia menandai datangnya penghujan (ketaun), kemarau (kebalit), masa tanam, hingga waktu terbaik bagi nelayan melaut.

Dengan kata lain, kalender ini lahir bukan dari kebutuhan administratif, melainkan dari kebutuhan hidup.

Selama berabad-abad, masyarakat agraris Sasak membaca langit sebagai buku pengetahuan. Pergerakan bintang, perubahan arah angin, fase bulan, hingga gejala alam menjadi dasar mengambil keputusan sehari-hari.

Tradisi semacam ini menunjukkan bahwa astronomi Nusantara bukan sekadar kisah tentang benda langit, tetapi tentang bagaimana manusia membangun hubungan yang harmonis dengan alam.

Baca Juga :  Menghormati Jejak Kreatif Sang Pengarang: Apresiasi atas Kehadiran Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?*)
Dari Warige ke Kalender Modern

Pengetahuan itu semula hidup dalam warige atau papan perhitungan tradisional yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu seperti kyai adat atau lokaq.

Persoalan muncul ketika generasi muda semakin jauh dari tradisi tersebut. Warige sulit dibaca masyarakat modern. Di sinilah Rontal memulai kerja kebudayaannya.

Selama hampir tiga tahun, sejak 2011 hingga 2014, Irawan dan Mawardi — tim peneliti melakukan kajian terhadap naskah kuno, tradisi lisan, hingga praktik para pelaku budaya untuk mentransformasikan sistem penanggalan tradisional ke dalam format kalender yang lebih mudah dipahami masyarakat masa kini.

Ketua Rontal, Lalu Ari Irawan, dalam kata pengantarnya menegaskan bahwa masyarakat Sasak sesungguhnya telah mengembangkan sistem astronomi yang sangat maju.

“Dalam latar yang terbatas, masyarakat Sasak telah mengembangkan sistem astronomi yang begitu mencengangkan yang disandarkan pada pola edar rasi bintang Rowot dan Tenggale. Tidak hanya itu, masyarakat Sasak juga membandingkannya dengan pola edar matahari dan bulan sehingga membentuk sistem kalender yang begitu kompleks.”

Transformasi tersebut tidak dimaksudkan mengubah tradisi, melainkan menjaga agar substansi pengetahuan tetap hidup dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Kalender Rowot modern tetap mempertahankan unsur-unsur penting seperti windu delapan tahunan, penamaan bulan Sasak, wuku, éngkel, watak hari, hingga penentuan mangse yang berdasarkan gejala alam.

Menjaga Identitas, Menjaga Masa Depan

Penerbitan buku ini memperoleh dukungan penuh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam sambutannya, Gubernur NTB saat itu, TGH. M. Zainul Majdi, menyebut buku tersebut sebagai manifestasi kecintaan masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri.

“Buku ini layak menjadi sumber pengetahuan bagi kita semua, khususnya masyarakat Sasak, dalam meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya leluhur, sekaligus menjadi acuan awal bagi peneliti dan pemerhati budaya dalam menggali khazanah kearifan masyarakat Sasak.”

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung siapa pun yang berinisiatif menjaga dan melestarikan budaya daerah agar tetap hidup lintas generasi.

Baca Juga :  Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB saat itu, Muhammad Nasir. Menurutnya, mengubah warige menjadi kalender modern merupakan strategi kebudayaan yang efektif agar tradisi tidak berhenti sebagai artefak museum.

“Transformasi budaya tradisional ke dalam format penanggalan konvensional diyakini menjadi strategi kebudayaan yang efektif dalam memastikan eksistensi fitur-fitur budaya tradisional terhadap perubahan zaman.”

Lebih jauh, sistem ini dipandang mampu memperkuat identitas masyarakat Sasak sekaligus sejalan dengan visi pembangunan NTB yang beriman, berbudaya, berdaya saing, dan sejahtera.

Yang menarik, Kalender Rowot tidak berhenti sebagai dokumen budaya. Para penulis membayangkannya menjadi pengetahuan yang tetap fungsional dalam kehidupan modern.

Melalui sistem warige, masyarakat dapat memperoleh panduan mengenai waktu membangun rumah, arah bangunan, penataan ruang, memulai usaha, menentukan musim tanam sesuai karakter tanaman, hingga membaca kondisi alam bagi aktivitas nelayan.

Tentu seluruhnya diposisikan sebagai bagian dari khazanah pengetahuan tradisional yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat membaca alam.

Di tengah perkembangan teknologi satelit dan kecerdasan buatan, keberadaan Kalender Rowot mengingatkan bahwa masyarakat Sasak pernah memiliki “laboratorium langit” mereka sendiri. Langit adalah observatorium, bintang adalah penanda, dan alam menjadi guru yang mengajarkan ritme kehidupan.

Buku Mengenal Kalender Rowot Sasak akhirnya lebih dari sekadar pengenalan sistem penanggalan. Ia menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan lokal dapat berdiri sejajar dengan peradaban mana pun ketika diwariskan secara serius dan dibaca dengan cara yang tepat.

Di balik gugusan kecil bintang bernama Rowot, tersimpan kisah panjang tentang kecerdasan ekologis, astronomi tradisional, dan identitas sebuah masyarakat yang belajar memahami waktu bukan hanya lewat angka, melainkan melalui percakapan abadi antara manusia dan langit. (aks)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA