Bhavana Ethnic dan The Proletar Panaskan Panggung Jelang Pengumuman Juara

- Penulis

Senin, 1 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Publik kini menunggu undangan resmi untuk duduk bersama, menyusun langkah, dan menanam kembali fondasi kebudayaan yang mungkin sempat tercerai-berai (Foto: aks/ceraken.id)

Publik kini menunggu undangan resmi untuk duduk bersama, menyusun langkah, dan menanam kembali fondasi kebudayaan yang mungkin sempat tercerai-berai (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID – Mataram, Pesta Seni NTB 2025 resmi memasuki hari terakhir pada Minggu (30/11) dengan antusiasme yang tetap tinggi hingga penghujung acara. Puncak kegiatan yang berlangsung di Arena Terbuka Taman Budaya NTB ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu, yakni pengumuman pemenang tiga kategori lomba: Tari Kreasi, Band Competition, dan Gendang Beleq.

Pentas hari ketiga dibuka oleh tiga penampilan dari kelas olah seni Taman Budaya Provinsi NTB. Mereka menampilkan Musik Tradisi Tabuh Pendet dan Tabuh Gegilakan, disusul oleh Tari Nirwana dan Tari Kinang Kilaras. Deretan karya ini menjadi pembuka elegan yang menegaskan karakter budaya daerah sekaligus menunjukkan hasil pembinaan seni di lingkungan Taman Budaya.

Usai penampilan pembukaan, panggung bergeser kepada dua sanggar tamu. Sanggar Genter Jagat dari Desa Nyangget tampil lebih dahulu, diikuti Sanggar Seni Lepas dari Kabupaten Sumbawa Barat yang membawakan tari “Kenre Baragi”. Kedua sanggar menampilkan komposisi yang memadukan gerak tradisi dengan interpretasi kontemporer, mendapat respons hangat dari penonton yang memadati area festival.

Menjelang pengumuman pemenang lomba, panggung dimeriahkan oleh dua kelompok musik: The Proletar UNU Band dan Bhavana Ethnic.

Energi Anak Muda di Panggung Musik

The Proletar tampil dengan komposisi tiga lagu: “Kaum Menengah”, “Telah Madonna Ia” (cover Sanggaboemi), serta “Uang”. Dua lagu pertama dan ketiga merupakan karya orisinal mereka yang bercerita tentang kegelisahan sosial dan dinamika anak muda. Band yang digawangi Bagus Maulana (vokal), Maskana Eka (gitar), Jimmy (rhytm), Paris (bass), dan Yuda (drum) ini tampil penuh energi.

Baca Juga :  Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

Bagi Bagus Maulana, yang juga aktor teater, panggung Pesta Seni NTB adalah kesempatan penting bagi musisi lokal.

“Ke depannya saya harap bisa menjadi wadah buat teman-teman yang baru mulai berkarya, seperti contoh band-ku ini. Jadi kita yang baru mulai pun punya ruang untuk menyalurkan karya,” ujarnya.

Bagus juga menyampaikan harapannya agar Pesta Seni NTB digelar setahun sekali dengan sistem kurasi yang lebih ketat agar pertunjukannya “eksklusif dan benar-benar serius”.

Peserta didik dengan kemampuan artistik, karakter, kepercayaan diri, dan daya saing (Foto: Aks)

Setelah The Proletar, Bhavana Ethnic menghadirkan tiga nomor: “Kupu-Kupu”, “Sinaran”, dan “Pohon”. Grup musik etnik kontemporer ini digerakkan oleh Gde Agus Mega Saputra, Giyanto, Omink Chan, Khairil Aries, Aldo, Farhan Ayubi, dan Desi Ermawati. Dengan perpaduan instrumen modern dan tradisional, mereka menyuguhkan eksplorasi musik yang menenangkan sekaligus kaya warna.

Gde Agus Mega Saputra, frontman Bhavana Ethnic, menilai Pesta Seni NTB sebagai ruang dialog terbuka antara masyarakat, seniman, dan pemangku kepentingan. “Fokusnya adalah sinergi dan kolaborasi dalam mengelola kesenian daerah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kompetisi seni untuk pelajar dalam acara ini adalah langkah strategis untuk mengukur perhatian sekolah terhadap pendidikan seni. “Tujuannya adalah membekali peserta didik dengan kemampuan artistik, karakter, kepercayaan diri, dan daya saing,” jelas Agus Mega yang juga merupakan dosen muda.

Ia berharap keberadaan ruang publik seperti Taman Budaya terus menjadi arena pembentukan karakter generasi muda, khususnya melalui seni pertunjukan.

Baca Juga :  Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Pengumuman Juara

Menjelang malam, puncak acara yang paling ditunggu akhirnya berlangsung: pengumuman para juara. Suasana meriah disambut tepuk tangan panjang setiap kali nama sekolah pemenang disebutkan oleh announcer Dody Setiawan.

Kategori Tari Kreasi

  • Juara I : SMAN 1 Mataram — Tembolak Beak
  • Juara II : SMAN 3 Mataram — Mata Rame
  • Juara III : SMAN 1 Keruak — Paice

Kategori Band Competition

  • Juara I : SMAN 1 Mataram
  • Juara II : SMKN 5 Mataram
  • Juara III : SMAN 1 Keruak

Kategori Gendang Beleq

  • Juara I : SMAN 1 Narmada
  • Juara II : SMAN 6 Mataram
  • Juara III : SMAN 7 Mataram
Bhavana Ethnic dan The Proletar. Taman Budaya terus menjadi arena pembentukan karakter generasi muda melalui seni pertunjukan (Foto: Aks)

Penyerahan hadiah lomba dilakukan oleh dua pejabat dari Taman Budaya NTB. Kepala Seksi Pelestarian Seni dan Budaya Ni Wayan Sri Aritini, S.Sn., menyerahkan penghargaan bagi kategori Tari Kreasi. Sementara hadiah untuk Band Competition dan Gendang Beleq diberikan oleh Kepala Seksi Penyelenggaraan Seni Budaya I Nyoman Gde Adimusti TBL, S.Sn.

Dengan berakhirnya pengumuman juara, Pesta Seni NTB 2025 resmi ditutup. Tiga hari rangkaian kegiatan menegaskan bahwa ruang seni publik tetap hidup di Nusa Tenggara Barat.

Melalui partisipasi generasi muda, sanggar-sanggar komunitas, dan sekolah-sekolah, Pesta Seni NTB kembali menunjukkan bahwa seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga sarana memperkuat karakter, mempertemukan masyarakat, dan merawat identitas budaya daerah (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Editor Ceraken

Sumber Berita: Liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA