CERAKEN.ID — SIKUR — Kabut tipis perlahan turun di batas Desa Wisata Jeruk Manis dan Desa Wisata Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Rabu malam, 8 Juli 2026.
Udara dingin dari lereng Gunung Rinjani merambat pelan, tetapi suasana segera menghangat ketika denting-denting kecil perunggu mulai bersahutan dari sebuah sanggar sederhana. Malam itu, puluhan warga duduk melingkar, bukan sekadar memainkan musik, melainkan merawat ingatan panjang tentang cara masyarakat Sasak memahami kebersamaan.
Di Sanggar Klenang Nunggal “Pinang Sejati”, bunyi tidak lahir dari seorang maestro. Ia tercipta dari kesediaan banyak orang menjaga satu nada masing-masing. Dua buah gendang; lanang dan wadon, menjadi penuntun irama, sementara 20 buah klenang kecil dimainkan oleh 20 penabuh berbeda. Setiap orang hanya memegang satu nada, namun keseluruhannya menjelma menjadi sebuah komposisi yang utuh.
Di situlah letak keajaiban Klenang Nunggal. Tidak ada ruang bagi ego musikal. Satu nada yang terlambat dipukul akan mengguncang keseluruhan bangunan melodi. Musik ini, sejak awal, telah mengajarkan bahwa harmoni hanya mungkin lahir dari kesediaan untuk saling melengkapi.
Gotong Royong yang Berawal dari Sebutir Beras
Menurut Ni Wayan Sri Artini, Kasi Pelestarian Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya NTB, Sanggar Klenang Nunggal “Pinang Sejati” berdiri sejak 1980. Sanggar dipimpin oleh Amaq Jumahir sebagai ketua, sedangkan Amaq Nastri menjadi pelatih yang mewarisi pengetahuan musikal dari proses belajar bersama Amaq Rohan di wilayah Masbagik.
Namun perjalanan sanggar ini tidak dibangun oleh kemewahan fasilitas. Pada masa awal, mereka hanya memiliki alat musik cungklik. Keinginan memiliki seperangkat klenang baru terwujud sekitar tahun 1990 melalui gotong royong masyarakat.
“Warga saat itu mengumpulkan iuran semampunya. Bahkan ada yang membayar menggunakan beras. Beras itulah kemudian dijual untuk membeli perangkat klenang,” ungkap Ni Wayan Sri Artini.
Cerita sederhana itu menjadikan setiap bilah perunggu memiliki makna yang jauh melampaui nilai materialnya. Hari ini, sanggar telah memiliki 35 buah klenang. Dalam formasi lengkap, permainan mereka juga dilengkapi suling dan gong sehingga menghasilkan lanskap bunyi yang semakin kaya.
Gending Sadru memberi ruang bagi pendengar untuk memasuki suasana kontemplatif (av: aks / ceraken.id)
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa setiap nada yang terdengar malam itu sesungguhnya merupakan gema dari gotong royong masyarakat puluhan tahun silam.
Nada-Nada yang Menyusun Tata Kehidupan
Di balik dentingan yang terdengar sederhana, Klenang Nunggal menyimpan sistem musikal yang khas masyarakat Sasak.
Ketua Tim Eksperimentasi Musik, H. Lalu Agus Fathurrahman, yang hadir bersama anggota tim lainnya, Lalu Jagat, Burhanudin, dan Akmal, menjelaskan bahwa sistem penadaannya terdiri atas Penglima (1), Pengempat (2), Ceroncong (3), Penegak (5), dan Pemotok (6).
Susunan tersebut bukan sekadar penamaan nada, melainkan juga mencerminkan filosofi kehidupan sosial.
Penglima menjadi pemegang komando ritme. Ia membuka perjalanan lagu sekaligus menjaga arah permainan. Setelah itu, Pengempat dan Ceroncong bergerak saling mengisi ruang-ruang kosong, menghadirkan dialog musikal yang hidup.
Di tengah kepadatan bunyi itu hadir Penegak sebagai penyangga struktur lagu agar tetap kokoh. Sementara Pemotok menjadi penutup kalimat musikal sebelum seluruh irama kembali berpulang kepada ketukan dasar Penglima.
Hubungan antar nada itu memperlihatkan bahwa tidak ada satu suara pun yang lebih penting dibanding suara lainnya. Seluruhnya memiliki fungsi masing-masing dalam menjaga keseimbangan.
Empat Gending, Empat Lanskap Perasaan
Sepanjang malam, para penabuh membawa pendengar melintasi empat gending yang memiliki karakter emosional berbeda.
Pertunjukan dibuka dengan Gending Bejangeran, sebuah komposisi yang riang dan penuh energi. Irama cepatnya menghadirkan suasana perayaan sebagaimana lazim ditemukan dalam kehidupan komunal masyarakat Sasak.
Suasana kemudian bergeser menuju Gending Asmarandana. Pada bagian ini, Pengempat dan Ceroncong saling berkejaran membangun nuansa romantik yang lembut, menggambarkan kehangatan hubungan antarmanusia.
Memasuki bagian berikutnya, tempo berubah semakin tenang melalui Gending Sadru. Ritme melambat, memberi ruang bagi pendengar untuk memasuki suasana kontemplatif. Di kaki Rinjani yang sunyi, gending ini terasa seperti percakapan panjang antara manusia dan alam.
Sebagai penutup, dimainkan Gending Penangkilan. Komposisi yang khidmat ini menjadi klimaks spiritual pertunjukan, menghadirkan kesan berserah diri kepada Sang Pencipta melalui bahasa bunyi yang sederhana namun mendalam.
Tradisi yang Terus Menginspirasi Generasi Baru
Kekhasan repertoar malam itu mendapat perhatian dari I Nyoman Gde Adimusti TBL, Kasi Penyelenggaraan Seni Budaya UPTD Taman Budaya NTB.
“Beberapa lagu yang dimainkan merupakan repertoar lama yang sekarang sudah sangat jarang terdengar. Yang paling mengesankan adalah dedikasi para penabuh yang tetap setia merawat tradisi ini meskipun sebagian besar sudah berusia lanjut,” ujarnya.
Bagi musisi Tonie Moersajied, kunjungan ke Sanggar Pinang Sejati merupakan kesempatan memperoleh pola pukulan yang masih sangat autentik.
“Kami datang untuk mendapatkan pukulan asli Klenang Nunggal. Di sini pola ritmenya masih sangat pakem sehingga menjadi bahan yang sangat berharga untuk proses eksperimentasi musik,” katanya.
“Paudan” Lalu Prima Wiraputra (audio: aks / ceraken.id)
Kekuatan musikal tersebut juga menginspirasi perupa Lalu Muhamad Asysaukani. Ia melihat konsistensi ritme para penabuh sebagai kekuatan visual yang tidak kalah menarik dibanding bunyinya sendiri.
Sementara Mariadi Basri dari Sanggar Teruna Jaya Dasan Tereng menilai bahwa Klenang Nunggal Lombok memiliki identitas musikal yang sangat berbeda dibanding tradisi gamelan Jawa maupun Bali.
“Penadaan, struktur lagu, sampai pola pukulannya memiliki karakter sendiri. Di Sanggar Pinang Sejati, nuansa musikal Sasaknya masih terasa sangat murni,” ujarnya.
Bahkan Lalu Prima Wiraputra membayangkan bagaimana karakter melankolis Gending Sadru dapat dipadukan dengan instrumen modern seperti biola tanpa kehilangan roh tradisinya.
Pinang Sejati dan Pelajaran Tentang Kebersamaan
Menjelang malam berakhir, yang tertinggal bukan hanya gema denting perunggu, melainkan kesadaran bahwa Klenang Nunggal sesungguhnya sedang mengajarkan cara hidup.
Puluhan orang duduk berjajar dengan kesabaran yang sama. Mereka menunggu giliran memukul satu nada yang dipercayakan kepada masing-masing. Tidak ada yang mendominasi. Tidak ada pula yang merasa paling penting. Semua hadir sebagai bagian dari keseluruhan.
Di tengah geliat modernisasi Kecamatan Sikur sebagai salah satu gerbang pariwisata Lombok Timur, Klenang Nunggal “Pinang Sejati” berdiri sebagai pengingat bahwa kebudayaan tidak selalu bertahan melalui bangunan megah atau teknologi mutakhir. Ia bertahan karena ada manusia-manusia yang rela menjaga satu nada agar nada-nada lain tetap memiliki makna.
Barangkali, di situlah pelajaran terbesar dari malam di kaki Rinjani itu. Harmoni tidak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan setiap orang menjaga perannya sendiri, sekecil apa pun, demi menghadirkan bunyi yang utuh bagi kehidupan bersama. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































