IPK NTB 60,41: Ketika Angka Maju, Data dan Kesadaran Diminta Menyusul

- Penulis

Rabu, 18 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Prof. Abdul Wahid memandang capaian IPK 2024 sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, meski tetap menyisakan ruang kritik (Foto: ist/ceraken,id)

Prof. Abdul Wahid memandang capaian IPK 2024 sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, meski tetap menyisakan ruang kritik (Foto: ist/ceraken,id)

CERAKEN.ID –Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mencatat capaian yang mengundang optimisme. Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) tahun 2024 berada di angka 60,41—melampaui rata-rata nasional yang tercatat 59,98.

Di atas kertas, selisih ini menjadi penanda bahwa pembangunan kebudayaan di NTB bergerak ke arah yang positif. Namun seperti lazimnya angka, ia tak pernah benar-benar selesai dibaca dalam satu dimensi.

Guru Besar Antropologi Agama Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Abdul Wahid, memandang capaian tersebut sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, meski tetap menyisakan ruang kritik.

Baginya, IPK NTB sudah menunjukkan performa yang baik. Tetapi ketika ditelisik lebih dalam, terutama pada aspek gender, muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

Persoalan itu bermula dari basis data statistik yang dinilai kurang merepresentasikan realitas. Wahid mengingat kembali temuan yang pernah disampaikan almarhum Fairus Abu Macel saat menjabat sebagai kepala bidang kebudayaan.

Menurutnya, data yang digunakan dalam penghitungan keterwakilan perempuan cenderung timpang.

Baca Juga :  Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB

“Yang dihitung waktu itu hanya Ketua DPRD Provinsi,” ujarnya. Padahal, dalam periode yang sama, NTB memiliki kepala daerah perempuan di Kabupaten Bima serta seorang Wakil Gubernur perempuan.

Fakta-fakta ini, jika tidak terakomodasi dalam perhitungan, tentu berpotensi mengaburkan gambaran sesungguhnya.

Di titik ini, angka IPK tak lagi sekadar soal capaian, tetapi juga soal akurasi. Wahid menekankan pentingnya verifikasi dan sinkronisasi data dengan Badan Pusat Statistik agar indikator yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Namun kritik Wahid tidak berhenti pada soal data. Ia menggeser fokus ke dimensi yang lebih mendasar: pendidikan kebudayaan.

Baginya, pembinaan dan pengembangan objek pemajuan kebudayaan adalah fondasi yang menentukan keberlanjutan.

Kebudayaan, dalam pandangan antropologis, bukan sekadar warisan yang dipamerkan, melainkan praktik hidup yang terus dipelajari, diajarkan, dan ditransformasikan. Tanpa proses pendidikan yang memadai, kebudayaan berisiko menjadi statis atau lebih buruk lagi, terputus dari generasi berikutnya.

Baca Juga :  Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Penulis buku Heterarki Masyarakat Muslim Indonesia ini menegaskan bahwa dimensi pendidikan memiliki peran strategis yang kerap luput dari perhatian ketika pembangunan kebudayaan direduksi menjadi angka-angka indeks. Di sinilah tantangan sesungguhnya: memastikan bahwa kebudayaan tidak hanya terukur, tetapi juga tumbuh.

Dalam konteks NTB, capaian IPK 60,41 dapat dibaca sebagai pijakan awal, bukan garis akhir. Ia menandai kemajuan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan kebudayaan membutuhkan lebih dari sekadar statistik yang baik.

Ia memerlukan data yang jujur, representasi yang adil, dan investasi serius pada pendidikan kebudayaan itu sendiri.

Pada akhirnya, kebudayaan bukan hanya soal siapa yang tercatat, tetapi siapa yang benar-benar terlibat.

Dan di antara angka-angka yang terus bergerak setiap tahun, ada satu hal yang tak boleh tertinggal: kesadaran untuk memastikan bahwa setiap capaian benar-benar mencerminkan kehidupan yang sedang dijalani masyarakatnya. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA