CERAKEN.ID — Di tengah arus industri kreatif yang terus bergerak ke arah global, pertanyaan mengenai bagaimana tradisi dapat tetap hidup menjadi semakin relevan.
Apakah musik tradisi hanya akan bertahan sebagai artefak masa lalu yang dipertontonkan dalam seremoni adat, ataukah ia dapat hadir sebagai bagian dari pengalaman keseharian masyarakat modern?
Pertanyaan inilah yang sedang dijawab oleh Tim Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2026.
Di ruang diskusi internal pada 7 Juli 2026, Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. Lalu Agus Fathurrahman, mengemukakan bahwa eksperimentasi dalam dunia musik pada dasarnya berkaitan dengan upaya menghadirkan pengalaman auditif yang berbeda dari konvensi musik arus utama.
“Musik eksperimental pada umumnya lahir dari keberanian mengeksplorasi bunyi, teknik permainan, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya,” ujar Lalu Agus Fathurrahman.
Namun, apa yang dilakukan Taman Budaya NTB tidak sepenuhnya sama dengan konsep musik eksperimental yang berkembang secara umum. Eksperimentasi yang dilakukan justru berangkat dari akar tradisi, yakni musik Cilokaq dan Klenang, untuk kemudian ditata ulang menjadi karya yang lebih adaptif terhadap ruang-ruang publik masa kini.
Dari Tradisi Menuju Musik Kamar
Pilihan terhadap musik Cilokaq dan Klenang bukanlah tanpa alasan. Kedua genre tersebut masih hidup di tengah masyarakat Sasak dan tetap dimainkan dalam berbagai acara adat maupun kegiatan kebudayaan. Di dalamnya tersimpan memori kolektif, nilai filosofis, dan identitas kultural masyarakat Lombok.
Melalui pendekatan eksperimentasi, kedua musik tradisi tersebut tidak diubah esensinya, melainkan direaransemen menjadi bentuk musik kamar (chamber music) yang lebih subtil dan sesuai dengan kebutuhan ruang publik modern.
Dalam konteks kajian ini, musik kamar dimaknai bukan semata-mata sebagai tradisi musik klasik Barat yang berkembang pada era Barok, tetapi sebagai bentuk komposisi musik yang memiliki karakter menenangkan, kualitas audio yang merata, serta mampu membangun identitas suatu ruang.
Musik semacam ini dinilai layak hadir di lobi hotel, ruang tunggu bandara, restoran, maupun berbagai ruang publik lain yang membutuhkan atmosfer nyaman dan berkarakter.
Eksperimentasi tersebut sekaligus membuka kemungkinan baru bahwa musik tradisi tidak hanya menjadi objek pelestarian, tetapi juga dapat menjadi bagian dari industri pariwisata dan ekonomi kreatif NTB.
Mencari Nada Dasar Masa Depan
Proses penciptaan karya tidak dilakukan secara instan. Tim Eksperimentasi Musik menerapkan metode penelitian kualitatif yang dimulai dari observasi pertunjukan musik tradisi dan wawancara dengan para pelatih serta pemain kelompok musik yang masih mempertahankan pola asli.
Kelompok-kelompok yang dipilih sebagai objek kajian adalah sanggar-sanggar yang belum banyak melakukan improvisasi, baik dari sisi nada maupun instrumen. Pilihan ini penting agar tim memperoleh bentuk dasar musik tradisi yang masih otentik.
Kajian kemudian diarahkan pada berbagai aspek, mulai dari identifikasi instrumen pokok dan instrumen pelengkap, pemetaan tangga nada, sejarah dan filosofi musik, hingga persebaran tradisi musik tersebut di masyarakat.
Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis melalui pendekatan abstraksi dan eksplorasi deskriptif. Nada-nada inti, karakter bunyi, serta fungsi sosial instrumen dijadikan bahan dasar untuk membangun kemungkinan komposisi baru.
Di sinilah proses kreatif dimulai.
Tim menggunakan pendekatan penciptaan yang dikembangkan oleh Alma Hawkins (1990), yakni melalui tiga tahapan utama: eksplorasi, improvisasi, dan forming atau pembentukan.
Tahapan eksplorasi menjadi ruang penjajakan berbagai kemungkinan bunyi. Improvisasi menjadi arena percobaan untuk menemukan bentuk-bentuk musikal baru. Sementara forming merupakan proses pembentukan gagasan tersebut ke dalam struktur komposisi yang lebih utuh dan dituangkan dalam bentuk partitur.
Ketika Cilokaq dan Klenang Menyapa Dunia
Eksperimentasi ini pada dasarnya merupakan ikhtiar kebudayaan untuk memperluas ruang hidup musik tradisi Sasak. Selama ini, musik tradisi sering kali ditempatkan hanya dalam ruang-ruang seremonial atau festival budaya.
Padahal, di banyak negara, musik tradisi justru berhasil memasuki industri hospitality dan pariwisata melalui pendekatan rearansemen yang elegan.
Jika gamelan Bali dapat menjadi identitas bunyi hotel-hotel internasional, maka bukan tidak mungkin Cilokaq dan Klenang juga dapat menghadirkan pengalaman serupa bagi wisatawan yang datang ke Lombok.
Karena itu, tahapan akhir dari kajian ini tidak berhenti pada penciptaan karya, melainkan dilanjutkan dengan uji keberterimaan publik. Karya-karya hasil eksperimen akan diperdengarkan di berbagai ruang publik seperti Bandara Internasional Lombok, hotel-hotel di kawasan Kuta, Kota Mataram, dan Senggigi.
Melalui proses tersebut, tim akan mengukur sejauh mana musik yang diciptakan mampu membangun kesan, menghadirkan ketenangan, dan diterima oleh pengunjung.
Dalam perspektif yang lebih luas, langkah ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti menjaga tradisi dalam bentuk yang beku. Tradisi justru dapat terus hidup ketika mampu berdialog dengan zaman.
Eksperimentasi musik yang dilakukan Taman Budaya NTB menjadi sebuah upaya untuk mempertemukan masa lalu dengan masa depan; menjaga akar, tetapi sekaligus membuka cabang-cabang kemungkinan baru.
Barangkali, di suatu waktu nanti, ketika seorang wisatawan menunggu penerbangan di Bandara Internasional Lombok atau menikmati senja di sebuah hotel di Senggigi, yang mengalun di telinganya bukan lagi musik generik tanpa identitas, melainkan nada-nada Cilokaq dan Klenang yang telah bertransformasi menjadi wajah baru kebudayaan NTB: lembut, futuristik, dan mendunia. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































