CERAKEN.ID — Di sebuah rumah sederhana di Desa Sakra, Lombok Timur, denting klenang kembali bergema pada Jumat, 17 Juli 2026.
Bunyi gong, petuk, gendang, suling, dan bilah-bilah logam berkelindan, menghadirkan suasana yang tidak sekadar musikal, tetapi juga menghadirkan ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan melewati zaman.
Kunjungan Tim Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Komunitas Klenang Taruna Jaya menjadi lebih dari sekadar observasi lapangan. Pertemuan itu menjelma ruang dialog antara tradisi, kreativitas, dan kemungkinan masa depan musik Sasak di tengah derasnya arus modernisasi.
Komunitas Klenang Taruna Jaya sendiri telah berdiri sejak 1986 dan menjadi salah satu kelompok pelestari musik tradisional Sasak yang masih aktif menjaga kesinambungan pengetahuan antargenerasi.
Tradisi yang Hidup dari Generasi ke Generasi
Musisi tradisi Lalu Prima Wiraputra melihat keunikan yang berbeda dibandingkan kelompok-kelompok klenang lain yang sebelumnya dikunjungi.
“Yang saya lihat di tempat ini sangat mentradisi. Ada kesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Irama itu sudah menjadi sesuatu yang terinternalisasi dalam diri para pemainnya,” ujarnya.
Menurut Prima, para pemain Klenang Taruna Jaya menunjukkan sensitivitas musikal yang luar biasa. Meskipun sebagian besar anggotanya telah berusia lanjut, mereka tetap mampu memainkan ritme cepat dengan dinamika yang variatif dan kekompakan yang terjaga.
Ia menilai kelompok ini tidak sekadar mewarisi lagu-lagu lama, melainkan mengolahnya kembali sesuai pola musikal yang mereka miliki sendiri.
“Perpaduan ritmis dan melodisnya sangat kuat. Bahkan alat-alat musiknya mereka buat sendiri berdasarkan rasa musikal yang mereka miliki. Ini menunjukkan kemandirian yang luar biasa,” katanya.
Kemandirian tersebut, menurutnya, menjadikan Taruna Jaya sebagai model pelestarian yang patut dicontoh oleh komunitas seni tradisi lainnya di Lombok.
“Taruna Jaya” menawarkan perspektif baru dalam membaca kemungkinan eksperimentasi musik tradisi (av: aks / ceraken.id)
Struktur Musikal dan Kepemimpinan dalam Klenang
Dari sudut pandang musikal, Kasi Penyelenggaraan Seni Budaya UPTD Taman Budaya NTB, I Nyoman Gde Adimusti TBL, menemukan kompleksitas struktur yang menarik dalam permainan Klenang Taruna Jaya.
Ia melihat bahwa setiap komposisi memiliki struktur yang jelas, yakni bagian “kepala”, “badan”, dan “kaki”, sebagaimana lazim ditemukan dalam berbagai tradisi musik Nusantara.
“Pada bagian awal atau kepala, mereka menggunakan tempo cepat seperti teknik kekebyaran. Kemudian masuk ke badan dengan tempo yang lebih ajeg dan dinamis. Di bagian akhir, temponya kembali meningkat sehingga menciptakan klimaks musikal,” ujarnya.
Yang menarik, menurut Nyoman, adalah peran pemain gendang sebagai pemimpin musikal.
“Leader-nya ada pada pemain gendang. Ia harus hafal seluruh lagu karena dari sanalah seluruh pemain mendapatkan kode transisi, aksen, dan arah permainan musik,” jelasnya.
Meski sebagian pola permainan tampak terstruktur, banyak improvisasi yang lahir secara alami melalui kebiasaan dan pengalaman panjang para pemain.
“Setiap pemain gendang memiliki rasa dan pola improvisasinya sendiri. Mereka mungkin tidak menyadari ada pola tertentu, tetapi sesungguhnya pola itu terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun,” tambahnya.
Harmoni yang Berbeda dari Gamelan
Musisi Ary Juliyant mengaku mendapatkan kejutan baru dari perjumpaannya dengan Klenang Taruna Jaya. Baginya, kelompok ini menawarkan perspektif baru dalam membaca kemungkinan eksperimentasi musik tradisi.
“Saya merasa mendapatkan bentuk-bentuk baru yang bisa menjadi referensi untuk didiskusikan lebih jauh dalam eksperimentasi musik,” ujarnya.
Ary melihat kekuatan utama klenang terletak pada bunyi rampaknya, yakni ketika beberapa nada dimainkan secara bersamaan sehingga menghasilkan getaran harmoni yang berbeda dengan gamelan pada umumnya.
“Kalau gamelan banyak bergerak secara tunggal, satu-satu. Di sini ada nada-nada yang berjalan bersamaan dalam ketukan yang sama. Itu menghasilkan getaran yang berbeda dan sangat menarik,” katanya.
Pemain mendapatkan kode transisi, aksen, dan arah permainan musik dari leader (av: aks / ceraken.id)
Ia juga menilai masih terbuka kemungkinan adanya variasi klenang lain di berbagai wilayah Lombok yang memiliki kekhasan masing-masing.
Sementara itu, musisi tradisi Mariadi Basri mencatat bahwa Klenang Taruna Jaya memiliki repertoar gending yang lebih banyak, pola permainan yang lebih rumit, serta kreativitas yang lebih variatif.
“Penadaannya juga lebih mengarah pada sistem pentatonik laras selendro,” ungkapnya.
Mimpi Menghadirkan Musik Sasak di Ruang Publik
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Program Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya NTB yang bertujuan merumuskan bentuk baru penyajian musik tradisi Sasak.
Kasi Pelestarian Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya NTB, Ni Wayan Sri Artini, mengatakan bahwa hasil observasi lapangan nantinya akan menjadi bahan untuk menciptakan musik kamar dan musik publik yang berakar pada identitas lokal Lombok.
“Kami ingin membuat musik yang bisa diperdengarkan di bandara, pusat perbelanjaan, rumah makan, dan ruang-ruang publik lainnya. Selama ini kita sering mendengar musik dari luar, tetapi belum memiliki identitas musikal Lombok yang kuat di ruang publik,” ujarnya.
Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk memastikan bahwa musik tradisi tidak hanya bertahan di ruang adat dan seremoni, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Dalam kunjungan tersebut turut hadir anggota tim lainnya, yaitu Lalu Jagat, Akmal, Burhanuddin, dan perupa Hajjah Esti Ebhi Evolisa, serta penulis Agus Saputra.
Pada akhirnya, denting kelenang dari Sakra mengingatkan bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu yang beku. Ia hidup, bergerak, dan terus menemukan bentuk-bentuk baru melalui tangan para pewarisnya.
Di tengah perubahan zaman, Komunitas Klenang Taruna Jaya menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat tetap relevan, bahkan berpotensi menjadi identitas bunyi Lombok di ruang publik masa depan.
Sebab kebudayaan tidak hanya dirawat dengan nostalgia, melainkan juga dengan keberanian untuk membawanya memasuki zaman baru tanpa kehilangan jiwanya. (aks)
Editor : cereken editor
Sumber Berita: liputan



























































