CERAKEN.ID — Di ruang terbuka yang menghadap lereng Rinjani di Sembalun, Lombok Timur, Rabu (22/7), masa depan musik tradisi Sasak mulai dirumuskan. Semilir angin pegunungan, bentang sawah, dan keheningan alam menjadi latar ketika para musisi, seniman, dan budayawan mendiskusikan satu gagasan: bagaimana menjaga bunyi tradisi tetap otentik, sekaligus menghadirkannya dalam perspektif masa depan.
Dari ruang terbuka itulah Workshop Eksperimentasi Musik 2026 UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi dimulai.
Kegiatan dibuka Kasi Pelestarian Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya NTB, Ni Wayan Sri Artini, yang meminta seluruh hasil observasi lapangan segera dipetakan menjadi konsep yang utuh.
“Kita langsung ya. Untuk kegiatan workshop hari ini kita akan petakan dalam sebuah konsep sesuai yang telah disampaikan Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026 H. L. Agus Fathurrahman sebagaimana tertera dalam jadwal kegiatan. Begitu pula soal pematangan konsep yang akan dilanjutkan dalam jadwal latihan bisa diputuskan hari ini, termasuk kebutuhan alat musik. Semoga kegiatan workshop hari ini menelurkan sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua.”
Merumuskan Musik Tradisi yang Berperspektif Futuristik
Bagi Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. L. Agus Fathurrahman, eksperimen bukanlah upaya menghadirkan musik kontemporer. Yang ingin dibangun justru sebuah perspektif baru terhadap musik tradisi, yakni bagaimana bunyi-bunyi warisan leluhur tetap terdengar otentik sekaligus akrab bagi telinga masyarakat masa depan.
“Saya tidak akan menggunakan musik kontemporer dalam eksperimentasi musik ini. Kita akan membuat musik tradisi dengan perspektif futuristik sehingga mau didengar kapan saja tetap enak.”
Pengalaman observasi ke Klenang Nunggal Pinang Sejati di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, menjadi pijakan penting. Ia menemukan pola pukulan yang mengingatkannya pada Rantoq, Grantung, hingga musik ladang masyarakat Sasak. Dari sana pula muncul kembali istilah-istilah penamaan nada yang sangat arkais seperti Panglima, Pengempat, Ceroncong, Penegak, hingga Pemotok.
Temuan tersebut kemudian dijadikan dasar membangun karakter musikal baru tanpa menghilangkan rasa aslinya.
“Kita tentu akan memilih nada rendah, tempo lambat. Mengalir bukan mengikuti suasana hati musisinya, tetapi mengikuti suasana budaya setempat. Jadi orang mendengar bukan Ary Juliyant, bukan Prima, tetapi tetap mengatakan, ini Sasak.”
Menyatukan Cara Pandang Para Musisi
Konsep yang dipaparkan Miq Agus Fathurrahman perlahan menyamakan persepsi seluruh peserta workshop.

Musisi tradisi Mariadi Basri mengaku semula membayangkan kata “eksperimentasi” akan melahirkan bentuk musik yang jauh dari tradisi. Namun setelah mendengar penjelasan konsep, ia justru melihat arah yang sederhana sekaligus kuat.
“Kerangka kerjanya atau intinya adalah musiknya enak didengar, mudah diterima dan mengalun. Artinya siapa pun yang mendengar semoga bisa menerima, baik kalangan bukan musisi maupun musisi.”
Ni Wayan Sri Artini kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan dunia tari.
“Di tari pun bisa tanpa musik. Walaupun kita tahu fungsi musik itu ada tiga, yaitu memberi suasana, sebagai iringan dengan ketukan, dan sebagai ilustrasi.”
Miq Agus kembali mengingatkan bahwa eksperimen tidak boleh menghilangkan identitas musik tradisi.
“Yang kita harapkan adalah orang tetap mengatakan ini Klenang. Tidak kita memaksakan nada diatonik masuk ke pentatonik. Kita tetap berangkat dengan alat tradisi, dengan nada tradisi.”
Ketika Bunyi Menjadi Gagasan Visual
Workshop ini tidak hanya mempertemukan para musisi tradisi. Sejumlah seniman lintas disiplin ikut membaca kemungkinan-kemungkinan baru yang lahir dari bunyi. Salah satunya perupa Lalu Muhamad Asysaukani, yang melihat proses kreatif tersebut sebagai ruang untuk menerjemahkan suara menjadi pengalaman visual.
Menurutnya, eksperimen yang sedang dilakukan tetap harus diawali oleh rasa yang lahir dari tradisi. Musik etnik tetap menjadi fondasi, sementara unsur modern hanya menjadi aksen yang memperkaya tanpa menggeser identitasnya.
“Saya coba mendengar bagaimana racikan musik dari teman-teman. Seperti dikatakan Mariadi Basrie sudah sama konsepnya. Bahasanya sama, kita coba eksperimen terlebih dahulu. Menyitir Miq Prima Wiraputra, supaya berasa terlebih dahulu layaknya pelecing Sasak. Kita tetap bermain dengan etnik di pembukanya, di tengah bisa kita improve, kemudian untuk mengentalkan kembali tradisi itu kembali ke pola awal pada penutupnya. Jadi bahasa modernnya hanya sedikit di situ, apalagi dalam konteks musik masa depan tanpa menghilangkan akar tradisi.”
Sebagai perupa, Asysaukani justru menemukan tantangan lain, yakni bagaimana bunyi yang lahir dari proses eksperimen itu dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual yang merepresentasikan Lombok.
“Bahasa kita sama, coba kita eksperimen, kemudian kita dengarkan, diskusikan. Di sini ada Miq Agus Fathurrahman yang memantau, keluar tidak dari rel ini, itu persoalannya. Dan sebagai perupa saya akan berusaha memvisualkan sebagai gagasan yang berasal dari suara musik, Lombok itu seperti apa. Rasanya seperti apa.”
Tetap berangkat dengan alat tradisi, dengan nada tradisi (av: lma / ceraken.id)
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa Eksperimentasi Musik 2026 tidak hanya berbicara tentang komposisi bunyi, tetapi juga membuka kemungkinan dialog antarcabang seni. Musik menjadi sumber gagasan yang dapat diterjemahkan ke dalam rupa, ruang, bahkan narasi kebudayaan.
Musisi Tonie Moersajied pun mengaku mengalami perubahan pandangan setelah mengikuti observasi lapangan.
“Saat observasi di Klenang Pinang Sejati saya merasa jatuh cinta. Pun saat di Sikur, saya melihat gambusnya. Itu yang saya lihat sehingga saya coba di rumah.”
Fondasi Telah Dibangun, Eksperimen Masih Berlanjut
Selesai workshop di Sembalun, Tim Eksperimentasi Musik 2026 kembali ke UPTD Taman Budaya NTB pada Kamis (23/7). Musisi tradisi Lalu Prima Wiraputra menjelaskan bahwa seluruh hasil observasi kini mulai diterjemahkan menjadi pola dasar yang masih terus dikembangkan.
“Setelah menemukan bahan-bahan dasar dari mendengar di lapangan observasi, lalu pada tahap workshop kita coba mengekspresikan apa yang kita tangkap untuk dipertimbangkan mana sound yang kita sepakati menjadi bahan ke depan. Itu belum final.”
Menurut Prima, penyusunan konsep baru mencapai sekitar 60 persen karena belum seluruh anggota tim hadir mengikuti workshop.
“Kalau melihat komposisi dan ketidakhadiran anggota yang lain, saya kira kita sudah mencapai sekitar 60 persen. Kehadiran tim lain seperti Ary Juliyant menjadi penting karena kita membutuhkan insight untuk mewujudkan konsep musik futuristik, bukan kontemporer.”
Ia menegaskan bahwa futuristik sebagaimana dimaksud Ketua Tim bukanlah meninggalkan tradisi, melainkan menjaga keasliannya sambil mengembangkan metodologi penyajiannya.
“Keaslian tradisinya tetap terjaga, tetapi secara metodologis berkembang mengikuti zamannya.”
Di penghujung workshop, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya sebuah komposisi musik baru. Tim Eksperimentasi Musik 2026 tengah merumuskan cara pandang baru terhadap musik tradisi Sasak: masa depan tidak harus lahir dengan memutus hubungan dari masa lalu.
Sebaliknya, masa depan dapat dibangun justru dengan mendengarkan kembali bunyi-bunyi lama, memahami logika budaya yang melahirkannya, lalu menyajikannya dalam wajah baru yang tetap dikenali sebagai Sasak. Dari Sembalun, bunyi-bunyi itu mulai menemukan jalannya menuju masa depan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































