Ampenan Groove, Ketika Puisi Menjadi Nada dan Kenangan

- Penulis

Kamis, 26 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

“Ampenan Groove”   dirilis pada 27 Maret 2026 diberbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, dan Youtube Music (Foto: ist/ceraken.id)

“Ampenan Groove” dirilis pada 27 Maret 2026 diberbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, dan Youtube Music (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sebuah ruang kreatif yang tidak selalu gaduh oleh tepuk tangan, puisi terkadang menemukan kehidupan keduanya, bukan lagi di halaman buku, melainkan di dalam nada.

Dari ruang sunyi itulah lahir sebuah proyek musikalisasi puisi bertajuk “Ampenan Groove”, yang meramu lima puisi dari buku Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil karya Agus K Saputra menjadi karya musikal yang bernapas baru.

Buku puisi yang terbit pada Maret 2020 itu awalnya hadir sebagai kumpulan refleksi personal tentang kenangan, masa kecil, kehilangan, dan perjalanan batin.

Namun oleh musisi Pipiet Tripitaka, sejumlah puisi di dalamnya diterjemahkan kembali dalam bentuk musikalisasi.

Lima puisi terpilih—Puspa, Terkoyak Ujung Mimpi, Kutulis Kata Maaf, Kereta Langit Sudah Datang, dan Selamat Jalan Kawan—disusun menjadi satu perjalanan musikal yang utuh.

Peracikan artistiknya berada di tangan kriszappa, yang bertindak sebagai produser sekaligus art director. Di tangannya, lima puisi tersebut dirangkai seperti alur cerita kehidupan, membentuk komposisi yang ia beri tajuk “Ampenan Groove”.

Sebuah nama yang tidak sekadar estetis, tetapi juga membawa suasana kontemplatif yang mengalir dari awal hingga akhir.

Salah satu puisi yang paling memiliki jejak kenangan adalah Kereta Langit Sudah Datang. Puisi ini ditulis pada 6 Oktober 2014 dan judulnya terinspirasi dari cerita pendek karya Imtihan Taufan yang pernah terbit di surat kabar Suara NTB pada 4 Oktober 2014.

Bagi lingkar pertemanan kreatif di Mataram, nama Imtihan Taufan bukan sekadar penulis, melainkan bagian dari energi kesenian lokal.

Baca Juga :  Klenang Mencari Bentuk: Dari Pukulan Tradisi Menuju Eksperimentasi Bunyi

Dalam catatan komunitas Akar Pohon, Imtihan dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel, naskah lakon, hingga esai. Ia juga aktif di dunia teater bersama Teater Kamar Indonesia, terutama sebagai penulis naskah dan penata artistik.

Pipiet Tripitaka mengaku memilih puisi secara intuitif. Ia tidak membatasi komposisinya pada format tertentu (Foto: ist/ceraken.id)

Cerpennya Melawan Kucing-Kucing pernah terpilih sebagai cerpen terbaik Suara NTB 2014–2015. Kumpulan cerpennya Interior Nikolo bahkan diterbitkan secara anumerta pada 2015.

Kenangan terhadap Imtihan tidak hanya hidup di karya, tetapi juga dalam pertemanan sehari-hari. Bagi Agus dan kriszappa, salah satu memori paling sederhana adalah berburu kaset-kaset lama.

Jika ada kabar tentang koleksi musik lawas di suatu tempat, mereka akan saling memberi tahu dan memburunya bersama.

Proyek “Ampenan Groove” sendiri rencananya akan dirilis pada 27 Maret 2026 diberbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, Youtube Music, setelah melewati proses kurasi dari pihak penerbit.

Namun di balik rencana rilis itu, yang menarik justru terletak pada proses penciptaannya.

Pipiet Tripitaka mengaku memilih puisi secara intuitif. Ia tidak membatasi komposisinya pada format tertentu.

Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana yang dianggap paling mampu menerjemahkan makna puisi.

Menurutnya, nada yang lahir merupakan interpretasi pribadi terhadap kata-kata penyair. Ia juga sengaja tidak mengurung karya tersebut dalam genre musik tertentu.

Bagi Pipiet, musik harus tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmatinya, entah mereka menyebutnya jazz, pop kreatif, atau genre lain.

Baca Juga :  Rock ’n' Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Dalam pandangannya, musikalisasi puisi adalah proses peleburan dua bahasa seni: kata dan nada. Ketika keduanya menyatu, publik bahkan mungkin tidak lagi menyadari bahwa yang mereka dengarkan berawal dari puisi.

(alm) Imtihan (kiri), Agus (tengah), dan Kris (kanan). Jika ada kabar koleksi musik lawas di suatu tempat, mereka akan saling memberi tahu dan memburunya bersama (Foto: ist/ceraken.id)

Di titik itulah “Ampenan Groove” menemukan identitasnya sebagai karya otentik.

Dari lima puisi yang digarap, Pipiet mengaku memiliki kedekatan khusus dengan Kereta Langit Sudah Datang. Puisi itu baginya seperti cara yang menyenangkan untuk mengenang Imtihan Taufan.

Kenangan yang tidak selalu muram, tetapi tetap hangat dan hidup.

Karena itu, muncul pula gagasan spontan: mungkinkah album mini ini menjadi semacam penghormatan bagi Imtihan? Sebuah tribute yang lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari pertemanan dan kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

kriszappa sendiri memaknai “Ampenan Groove” sebagai perjalanan batin manusia. Ia menggambarkannya seperti fase kehidupan yang berlapis.

Dimulai dari Puspa sebagai simbol harapan dan keindahan hidup. Lalu datang fase Terkoyak Ujung Mimpi, ketika realitas mulai menguji harapan.

Setelah itu muncul refleksi dalam Kutulis Kata Maaf, hingga kesadaran bahwa hidup terus berjalan bahkan ketika seseorang harus turun dari perjalanan, seperti dalam Kereta Langit Sudah Datang.

Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah satu kalimat sederhana: Selamat Jalan Kawan.

Di sanalah musik dan puisi bertemu, bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai cara manusia berdamai dengan waktu, kenangan, dan kehilangan.

Sebab kadang-kadang, sebuah puisi tidak selesai ketika ditulis. Ia baru benar-benar hidup ketika dinyanyikan. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:08 WITA

Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA