CERAKEN.ID — Sabtu malam, 16 Mei 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB dipersiapkan menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, bunyi, kegelisahan, dan harapan. Pukul 20.00 Wita nanti, para peserta Workshop Seni Pertunjukan Swara Loka Karsa akan menampilkan hasil proses kreatif yang ditempa selama tiga hari penuh, sejak 13 hingga 15 Mei 2026.
Bukan sekadar pentas biasa, melainkan sebuah laboratorium kebudayaan yang mencoba membuka keberanian baru bagi generasi seni pertunjukan di Nusa Tenggara Barat.
Di balik lampu panggung yang akan menyala malam itu, ada proses panjang yang berjalan dalam diam: diskusi, pencarian bentuk, eksperimen bunyi, tubuh yang dilatih membaca emosi, hingga kegelisahan para peserta saat mencoba keluar dari pola-pola lama. Taman Budaya Provinsi NTB tampak sedang mengambil langkah yang tidak biasa: memilih tari dan musik kontemporer sebagai medium pembelajaran utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Misalnya, dari tari kontemporer kerap dianggap rumit, liar, bahkan jauh dari akar tradisi. Namun justru di titik itulah keberanian institusi kebudayaan diuji. Mereka tidak sekadar menyelenggarakan pelatihan teknis, tetapi mencoba membangun cara berpikir baru tentang seni.
Workshop tersebut dimulai pada Rabu, 13 Mei 2026, melalui pengenalan program dan diskusi awal tari serta musik dalam format Focus Group Discussion (FGD). Hari kedua diisi dengan workshop tari kontemporer, workshop seni musik, eksplorasi kreatif, evaluasi, hingga sesi berbagi pengalaman.
Sementara hari terakhir menjadi ruang pendalaman materi, latihan gabungan, simulasi produksi, tata panggung, hingga briefing pementasan.
Dari proses itulah lahir tiga karya pertunjukan untuk tari kontemporer: “Ini Mami Papi”, “Anak dan Emak”, dan “Tiang”. Ketiganya berbicara tentang keluarga, relasi anak dan orang tua, serta kegelisahan generasi muda yang tumbuh tanpa arah.
Membaca Tubuh sebagai Bahasa Emosi
Di ruang latihan, tubuh-tubuh muda bergerak tanpa sekat. Tidak lagi sekadar menghafal gerak, tetapi mencoba memahami apa yang ingin disampaikan oleh tubuh itu sendiri.
Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., seniman tari kontemporer dari ISBI Bandung yang menjadi pemateri tari kontemporer, tampak sengaja membawa peserta keluar dari zona nyaman mereka.
Menurut Alfiyanto, inti utama workshop bukanlah hasil akhir pertunjukan, melainkan proses pencarian kreatif yang berlangsung selama pelatihan.
“Pada dasarnya kegiatan ini sangat luar biasa, karena Taman Budaya Provinsi NTB berani memilih event tentang tari kontemporer. Bagi saya tari kontemporer tempat berkumpulnya ilmu-ilmu koreografi ada di situ. Tujuan akhir dari kegiatan ini bukan dilihat dari hasil karyanya, tapi yang paling penting adalah prosesnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak orang salah memahami tari kontemporer sebagai seni yang harus melepaskan diri dari akar budaya lokal. Padahal menurutnya, kontemporer justru memberi ruang bagi tradisi untuk berbicara dengan bahasa baru.
“Nah di dalam proses ini, saya mencoba memantik keberanian daya kreatif setiap peserta. Mereka bebas untuk bereksplorasi, dirangsang untuk mencari dan menemukan,” katanya.
Dari sanalah muncul kesadaran baru di kalangan peserta. Tari bukan lagi sekadar parade gerak yang indah dipandang mata. Tari adalah emosi yang dihidupkan menjadi ekspresi.
“Saat ini mereka memahami bahwa tari itu bukan parade gerak, tapi bagaimana emosi bisa menjadi sebuah ekspresi,” tegas Alfiyanto.
Pilihan tema keluarga pun bukan tanpa alasan. Waktu workshop yang singkat membuat Alfiyanto memilih pendekatan yang sederhana tetapi dekat dengan pengalaman keseharian peserta. Ia ingin para penari tidak sibuk menerjemahkan konsep filosofis yang terlalu jauh, melainkan benar-benar merasakan emosi yang mereka tampilkan.

Karya “Ini Mami Papi” berbicara tentang kegelisahan orang tua terhadap perkembangan anak-anak mereka. “Anak dan Emak” mengangkat perjuangan ibu dalam membesarkan dan menjaga anak. Sementara “Tiang” menghadirkan potret anak muda yang kehilangan arah karena minimnya perhatian keluarga.
Ketiga karya itu menjadi semacam cermin sosial yang dipantulkan lewat tubuh dan gerak. Ada kritik, ada kasih sayang, ada kegelisahan zaman yang diam-diam hidup di tengah masyarakat hari ini.
Alfiyanto bahkan menilai perkembangan peserta berlangsung sangat cepat.
“Jika saya beri angka proses workshop ini dari mulai awal 10 persen hingga saat ini sudah masuk ke 80 persen,” ungkapnya.
Musik sebagai Ruang Eksperimen dan Keberanian
Jika tari menjadi bahasa tubuh, maka musik di Swara Loka Karsa hadir sebagai ruang keberanian untuk mendengar ulang bunyi-bunyian yang selama ini dianggap biasa. Di tangan I Wayan Ary Wijaya, S.Sn., musik tidak sekadar soal nada, tetapi juga keberanian melawan rasa takut.
Komposer dan Founder Palawara Music Company itu datang bukan untuk menggurui. Ia memilih berbagi pengalaman tentang bagaimana proses kreatif tumbuh melalui eksperimen.
“Saya diundang sebagai pemateri awalnya adalah ingin meregenerasi composer dan koreografer bersama Dr Alfiyanto. Jadi saya hanya berbagi bukan mengajari,” ujarnya.
Pengalaman Ary Wijaya di Bali membuatnya percaya bahwa musik kontemporer lahir dari keberanian mencampur berbagai kemungkinan. Ia mengingat masa kuliahnya ketika mulai bereksperimen dengan berbagai alat musik dan aliran.
“Eksperimen menunjukkan sebuah kebebasan,” katanya.
Bagi Ary, problem terbesar para pemusik muda bukan kurangnya kemampuan teknik, melainkan rasa takut untuk memulai penciptaan karya.
“Salah satunya bagaimana menghilangkan rasa takut untuk penggarapan. Menggarap sebuah karya karena mereka tidak tahu harus berjalan dari mana,” jelasnya.
Ia kemudian membawa peserta memahami musik bukan hanya dari aspek teknis, tetapi juga dari karakter bunyi. Menurutnya, setiap alat musik memiliki warna suara yang berbeda, bahkan ketika jenis instrumennya sama.
“Warna suara itu penting, bukan hanya teknik kerumitan,” tegas Ary.
Dalam workshop itu, peserta diperkenalkan pada berbagai pendekatan musikal: improvisasi freemath, dramatik, meditatif, unism, hingga team work tempo. Mereka diajak memahami hubungan antara ritme musik dan gerak tari, termasuk bagaimana membangun transisi emosi dalam pertunjukan.
Ary juga menekankan pentingnya memahami semiotika bunyi dan karakter frekuensi suara. Dari situlah ilustrasi suasana dibangun.
“Ketika anda mengkomposisi sesuatu anda harus tahu warna suara terlebih dahulu,” katanya.

Yang menarik, ia tidak ingin peserta sekadar meniru melodi yang diberikan. Mereka justru diminta mengembangkan sendiri gagasan musikalnya.
“Untuk pementasan nanti malam, para peserta yang menentukan judul, harus murni dari mereka,” ujarnya.
Dari proses itulah kemudian lahir komposisi musik berjudul “Swara Loka Karsa”, sebagaimana disampaikan peserta workshop, Mariadi “Adi” Basri. Karya tersebut menggambarkan gema suara dan kehendak mulia masyarakat Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo dalam semangat religius Pulau Seribu Masjid.
Ary melihat potensi besar seni pertunjukan NTB, terutama karena kekayaan unsur etnik yang bisa dipadukan dalam karya kontemporer.
“Saya melihat para peserta sangat mempunyai potensi yang luar biasa, karena banyaknya unsur etnik yang bisa digabung,” katanya.
Namun ia juga menyadari keterbatasan waktu workshop yang hanya berlangsung singkat.
“Penilaian saya hingga di angka 70 persen, karena waktu workshop yang singkat,” ungkapnya.
Taman Budaya dan Taruhan Masa Depan Kebudayaan NTB
Swara Loka Karsa pada akhirnya bukan hanya soal tiga hari workshop atau satu malam pertunjukan. Kegiatan ini terasa seperti upaya membangun ekosistem baru seni pertunjukan di NTB. Sebuah usaha untuk melahirkan generasi koreografer dan komposer muda yang tidak takut bereksperimen, tetapi tetap berpijak pada identitas budaya daerahnya.
Dalam catatan ceraken.id pada Kamis, 14 Mei 2026, peserta workshop datang dari berbagai wilayah di NTB. Sebanyak 11 orang mengikuti kategori koreografer, sembilan orang dari penata musik, dan sekitar 40 peserta lainnya berasal dari sanggar seni, komunitas, pelaku tari, pemusik, hingga guru ekstrakurikuler seni.
Komposisi peserta yang beragam itu menunjukkan bahwa geliat seni pertunjukan NTB sebenarnya hidup dan tumbuh. Yang dibutuhkan hanyalah ruang pertemuan, pembinaan, dan keberanian institusi untuk membuka peluang.
Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab kebudayaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia seni.
“Diharapkan dari Workshop Seni Pertunjukan ini bisa meningkatkan kualitas SDM baik dari karya tari dan musik, serta melahirkan koreografer dan komposer muda yang berkualitas dan bisa bersaing di level nasional bahkan internasional,” harapnya.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan tantangan besar. Dunia seni pertunjukan hari ini bergerak sangat cepat.
Kompetisi bukan hanya antar daerah, tetapi antar bangsa. Jika NTB ingin hadir dalam percakapan seni nasional maupun global, maka keberanian seperti Swara Loka Karsa perlu terus dijaga.
Yang paling menarik dari workshop ini mungkin bukan soal seberapa sempurna pertunjukan malam nanti. Bukan pula tentang tata lampu atau koreografi yang selesai dengan rapi. Melainkan tentang keberanian para peserta untuk mulai percaya bahwa mereka mampu mencipta.
Di ruang-ruang latihan itu, para guru seni, pemusik, penari, dan pelaku komunitas sedang belajar mendengar diri mereka sendiri. Mereka belajar bahwa tradisi tidak harus dibekukan dalam bentuk lama. Tradisi bisa bergerak, berdialog, bahkan gelisah mengikuti zaman.
Dan ketika malam nanti panggung akhirnya dibuka, sesungguhnya yang dipertontonkan bukan hanya karya seni. Yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan imajinasi kebudayaan NTB itu sendiri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































