Acapella dan Kepunahan

- Penulis

Sabtu, 13 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

CERAKEN.ID — David Asher Brown berhasil merekam audio sebuah nyanyian ritual Suku Mbuti di kawasan hutan hujan tropis Ituri di Afrika Tengah. Tepat nya di Republic Demokratik Congo pada tahun 1992.
Nyanyian ritual tersebut dalam rangka memulai sebuah kegiatan perburuan gajah. Tradisi miris yang meng-asosiasikan saya terhadap terancamnya kepunahan satwa. Khususnya gajah.
Bunyi lelaguan atau kompisisi musik nya berbentuk Acapella yaitu paduan suara vokal manusia yang ber improvisasi berlapis- lapis atau polyphonic.
Bentuk suguhan musik Acapella ini memiliki kemiripan juga dengan tradisi ” Cepung ” khas Lombok. Yaitu musik yang mencoba meniru bunyi alat musik yang ada dari masa lalu. Sebuah ensembel yang terdiri dari 4 atu ,5 orang penyaji.
Pada sekitar 5 tahun yang lalu pernah dibuat sebuah sajian rekaman lagu karya Ary Juliyant yang memiliki bentuk sajian Acapella atau paduan suara milik Ary Juliyant sendiri.
Lagu ini berjudul “KEPUNAHAN” yang ditulis pada sekitar tahun 1996.
Sebuah sajian rekam ulang karya ini dibuat pada sekitar tahun 2020-an.
Tampilan video performance art nya digarap oleh Kang Osenk Rahadyan Shalat dengan pemeran olah gerak oleh IQBAL SUKABUMI seorang mahasiswa Antropologi Budaya ISBI Bandung yang tengah berkunjung singgah di ErKaEm Lombok saat itu.
Sebuah rangkaian pengantar singkat yang ingin coba memetakan kehadiran Musik Tradisi Acapella Poliphonic Suku Mbuti Afrika yang mengantar prosesi perburuan gajah yang mengancam terjadinya kepunahan satwa.
Sementara Cepung tradisi Acapella Lombok yang sedang terancam kepunahan dikarenakan tidak terjadinya prosesi pelestarian ataupun regenerasi pertunjukan ini.
Kemudian hadirlah lagu” KEPUNAHAN ” Ary Juliyant berkisah tentang rasa prihatin menghadapi persoalan kepunahan satwa di Indonesia yang disajikan dalam.bentuk Acapella vokal Ary Juliyant berkolaborasi dengan aransemen biola Arif Prasojo serta video performance art karya kang Osenk dan Iqbal Sukabumi.
Semoga dokumentasi karya ini ada manfaat nya sebagai perenungan bagi kita semua lewat apresiasi Anda. Terimakasih. (AJ)

 

Baca Juga :  Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: aj

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA