Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Senin, 15 Juni 2026, sebuah ruang diskusi sederhana mendadak menjadi arena perdebatan yang menarik tentang masa depan kreativitas. Percakapan itu dibuka oleh Agung dengan sebuah pernyataan yang terdengar provokatif sekaligus menggelisahkan.

“Revolusi penciptaan, membuat para pencipta lagu gulung tikar. Bagaimana komentarmu, Bud?” tanyanya.

Saat itu Budi masih menyimak sebuah lagu yang lahir dari “keajaiban” teknologi kecerdasan buatan Suno. Ia mendengarkannya dengan saksama sebelum akhirnya memberikan jawaban yang tenang.

“Kalau untuk lagu, tetap yang ‘asli’ lebih berasa,” ujarnya.

Jawaban singkat itu menjadi pintu masuk bagi perbincangan yang lebih dalam tentang teknologi, kreativitas, dan makna menjadi manusia di tengah perubahan zaman.

Keaslian yang Tak Tergantikan

Bagi Agung, lagu yang dihasilkan Suno pada dasarnya adalah hasil pembacaan pesan tulisan yang kemudian dilagukan oleh sistem kecerdasan buatan. Namun Budi melihat persoalan itu dari sudut yang berbeda.

“‘Asli’ di sini tidak melalui sentuhan Suno. Namun demikian Suno memberi keajaiban bagi mereka yang selama ini tidak pernah bikin lagu, yang menurut Anda bikin yang lain gulung tikar,” katanya.

Menurut Budi, istilah “gulung tikar” terlalu berlebihan untuk menggambarkan hadirnya teknologi baru. Ia menolak pandangan yang menganggap setiap kelahiran inovasi selalu menjadi petaka bagi sesuatu yang telah ada sebelumnya.

“Sebenarnya istilah gulung tikar itu sangat berlebihan. Seolah setiap kelahiran membawa petaka bagi yang lain: mati atawa gulung tikar. Jika Suno adalah kebaikan atau kebaruan, maka itu adalah pilihan,” lanjutnya.

Dalam pandangan tersebut, teknologi bukanlah musuh kreativitas, melainkan salah satu kemungkinan baru yang terbuka bagi manusia. Kehadirannya tidak otomatis menghapus karya-karya yang lahir dari pengalaman, intuisi, dan pergulatan emosional seorang pencipta.

Baca Juga :  Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Era VUCA dan Ancaman Ketertinggalan

Agung tidak sepenuhnya sependapat. Baginya, sejarah menunjukkan bahwa perubahan selalu menyingkirkan mereka yang menolak beradaptasi.

“Gulung tikar selalu terjadi dan dialami oleh yang tak melihat ruang perbaikan cara. Di era VUCA, ketika imposibilitas begitu cepat menjadi posibilitas, dan itu bisa dilakukan oleh mereka yang semula unable person, maka gulung tikar terjadi,” tegasnya.

Ia kemudian mengaitkan fenomena Suno dengan revolusi digital yang telah mengubah banyak sektor kehidupan. Menurutnya, para pelaku yang bertahan secara kaku pada pola-pola lama pada akhirnya menghadapi risiko kehilangan relevansi.

“Revolusi digitalisasi membuat para pelaku yang tetap bersikukuh di jalur konvensional akhirnya banyak yang gulung tikar,” ujarnya.

Pandangan Agung mencerminkan kegelisahan sekaligus keyakinan bahwa teknologi selalu menciptakan medan persaingan baru. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan teknis tertentu. Namun di sisi lain, ia memaksa para pelaku lama untuk terus beradaptasi.

Antara Umur Teknologi dan Makna Kehidupan

Budi kembali menanggapi dengan perspektif yang lebih filosofis. Ia tidak menolak pembaruan, tetapi juga tidak menganggap teknologi sebagai jawaban akhir bagi keberlangsungan hidup manusia maupun karya-karyanya.

“Ya itu juga pilihan berani, karena akhirnya semuanya mati. Pembaharuan atau teknologi itu hanya untuk memperpanjang napas saja. Seperti teori product life cycle. Memperpanjang juga ukurannya relatif. Bisa setengah detik atau mungkin 100 tahun kemudian,” katanya.

Di titik ini, diskusi bergeser dari soal teknologi menuju perenungan yang lebih eksistensial. Tidak ada yang benar-benar abadi. Inovasi, produk, karya seni, bahkan peradaban sekalipun pada akhirnya memiliki siklus hidupnya masing-masing.

Baca Juga :  Mencari Napas Musik Klenang: Dari Pengotak, Mengalir ke Aiq, Menuju Tanaq

Tak lama kemudian Agung mengirimkan sebuah tautan berjudul “Bikin Lagu AI Dapet Milyaran View”. Sebuah fakta yang mungkin cukup untuk menunjukkan betapa besar daya tarik karya yang dihasilkan kecerdasan buatan.

Namun bagi Budi, ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada jumlah penonton atau angka statistik. Dalam diam, ia membalas tautan itu dengan sebuah keyakinan yang tidak terucapkan: bahwa pilihan manusia tidak selalu tunduk pada logika pasar maupun popularitas.

Sebab pada akhirnya, seperti kematian yang datang pada waktunya sendiri, setiap orang akan menentukan jalannya masing-masing. Entah menghasilkan miliaran tayangan atau tidak sama sekali, yang paling penting bukanlah angka, melainkan makna yang ditemukan dalam proses menjalaninya.

Di tengah derasnya gelombang kecerdasan buatan yang mampu menciptakan lagu hanya dalam hitungan menit, pertanyaan yang tersisa mungkin bukan lagi apakah manusia akan tergantikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah teknologi mampu menghadirkan rasa yang sama ketika sebuah karya lahir dari pengalaman hidup, luka, harapan, dan kebahagiaan manusia?

Jawabannya barangkali berbeda bagi setiap orang. Tetapi sebagaimana tersirat dalam percakapan Agung dan Budi, kreativitas bukan semata urusan alat yang digunakan. Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA