Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CERAKEN.ID — Minggu malam, 21 Juni 2026, sebuah sudut di Lombok Barat akan menjelma menjadi ruang perjumpaan yang berbeda. Bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang tempat musik bertemu dengan kepedulian sosial, tempat nada-nada berpadu dengan semangat inklusi.

Di Jalan Biduri, Dusun Aik Are, Desa Tanjung Are, Sandik, Kecamatan Batu Layar, Yayasan LombokCare menggelar Music Charity for Disability Children bertajuk “Pentas Kebaikan Vol.1”, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat merayakan kemanusiaan melalui musik.

Acara yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 22.00 Wita itu hadir dengan misi yang sederhana namun penting: memberikan dukungan bagi anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam suasana yang diperkirakan hangat dan penuh kebersamaan, sejumlah musisi lokal akan tampil menyumbangkan karya dan energi positif mereka. Di antara nama yang paling dinantikan adalah Sound of Magic Island, selain Nusaria dan Paris Hasan.

Musik yang Bertumbuh dari Tanah Lombok

Sound of Magic Island bukan nama baru bagi penikmat musik independen di Lombok. Proyek musik solo yang digawangi Apip Sutardi ini telah lama dikenal melalui warna musik Jamaican yang memadukan ska, rock steady, dan reggae.

Namun yang membuat karya-karyanya menonjol bukan hanya irama yang riang, melainkan kemampuan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Lewat lagu-lagunya, Apip kerap menuturkan kisah tentang kemanusiaan, alam, dan identitas Pulau Lombok. Musik menjadi medium untuk merawat ingatan sekaligus menyampaikan pesan-pesan sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem

Memasuki 2026, Sound of Magic Island kembali memperkaya katalog karyanya melalui dua single terbaru, “Senggigi” dan “Nikmati Syukuri”, yang memperlihatkan konsistensi Apip dalam menjadikan musik sebagai ruang refleksi.

Surat Cinta untuk Senggigi

Dirilis pada 22 Februari 2026, “Senggigi” menjadi semacam surat cinta bagi kawasan wisata legendaris di pesisir barat Lombok tersebut. Lagu ini merekam pengalaman personal Apip ketika pertama kali tampil di Senggigi pada tahun 2001, sekaligus menghadirkan kembali memori tentang keramahan masyarakat dan pesona alam yang menjadikan kawasan itu begitu istimewa.

Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat merayakan kemanusiaan melalui musik (foto: lombokcare / ceraken.id)

Bagi yang ingin merasakan langsung nuansa lagu tersebut, video klip “Senggigi” dapat disaksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=nnSyN2FbB9I&list=RDnnSyN2FbB9I&start_radio=1

Melalui lirik yang hangat dan nuansa reggae yang santai, Apip mengajak pendengarnya menelusuri jejak kenangan yang melekat pada salah satu ikon pariwisata Lombok. Lagu ini bukan hanya tentang sebuah tempat, tetapi tentang hubungan emosional antara manusia dan ruang yang membentuk perjalanan hidupnya.

Ketika Musik Menjadi Seruan untuk Bumi

Jika “Senggigi” berbicara tentang kenangan, maka “Nikmati Syukuri” mengajak pendengar memandang masa depan. Single yang mulai tersedia di berbagai platform digital sejak 15 Mei 2026 ini menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam.

Video musik “Nikmati Syukuri” dapat dinikmati melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=69tuOeN5hQE&list=RD69tuOeN5hQE&start_radio=1

Baca Juga :  Humanity Itu Utopia: Refleksi Wing Sentot tentang AI dan Musik

Dalam lagu tersebut, Apip mengingatkan bahwa bumi bukan hanya ruang yang ditempati hari ini, tetapi juga titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Pesan itu disampaikan tanpa nada menggurui, melainkan melalui ajakan sederhana untuk menikmati apa yang ada dan mensyukuri anugerah alam yang sering kali dianggap biasa.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan, karya ini terasa relevan. Musik tidak lagi hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga medium untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Lalu, apakah kedua single terbaru itu akan dibawakan dalam Music Charity for Disability Children “Pentas Kebaikan Vol.1”? Hingga tulisan ini dibuat, pertanyaan tersebut masih menjadi teka-teki. Ceraken.id belum memperoleh jawaban langsung dari sang pentolan Sound of Magic Island, Apip Sutardi.

Namun mungkin justru di situlah letak daya tariknya. Ada kejutan yang menunggu di atas panggung, ada harapan yang tumbuh dari setiap tiket kehadiran, dan ada kesempatan untuk menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang nyata.

Maka daripada sekadar menebak-nebak daftar lagu yang akan dimainkan, mungkin pilihan terbaik adalah datang bersama keluarga dan sahabat pada Minggu malam itu. Sebab terkadang, musik yang paling berkesan bukan hanya yang didengar, melainkan yang mampu menggerakkan kepedulian. (aks)

Berita Terkait

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem
Humanity Itu Utopia: Refleksi Wing Sentot tentang AI dan Musik
Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas
TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah
Sukarare: Menenun Identitas di Jantung Pariwisata Lombok
Menakar Kedaulatan Pangan dari Kandang dan Kampus
Lalu Anis Mujahid Akbar Terima “Pinangan” Peserta Muswil, Siap Pimpin Dekopinwil NTB
Laporan Muswil Dekopinwil NTB 2025: LPJ Diterima Aklamasi, Sinergi dengan Pemerintah Jadi Penegas Arah Baru

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:47 WITA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:28 WITA

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:15 WITA

Humanity Itu Utopia: Refleksi Wing Sentot tentang AI dan Musik

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:10 WITA

Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:05 WITA

TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

(foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Algoritma Air dan Akar

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:15 WITA

Bedah buku Ajoeba Wartabone (1894-1957):

BEDAH BUKU

Ajoeba Wartabone Direkomendasikan Jadi Pahlawan Nasional

Sabtu, 20 Jun 2026 - 18:42 WITA

MUSIK

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:46 WITA

MUSIK

Nada dari Ufuk Selatan

Jumat, 19 Jun 2026 - 20:55 WITA

RUPA RUPA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Jumat, 19 Jun 2026 - 15:47 WITA