CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus hiburan digital yang sering menjadikan panggung sekadar ruang pertunjukan, sebuah inisiatif di Lombok Barat mencoba mengembalikan makna seni pada fungsi paling mendasarnya: menyentuh kemanusiaan.
Pada Minggu malam, 21 Juni 2026, Yayasan LombokCare akan menggelar Pentas Kebaikan Vol. 1, sebuah perjumpaan antara musik, solidaritas sosial, dan perjuangan menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat.
Bagi sebagian musisi yang terlibat, acara ini bukan sekadar agenda tampil atau memperkenalkan karya terbaru. Di balik panggung yang akan berdiri di Dusun Aik Are, Desa Sandik, terdapat ikatan emosional yang jauh lebih dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya dirasakan oleh Yuga Anggana, personel duo indie pop retro Nusaria.
“Secara pribadi dan sebagai representasi dari Nusaria, kami merasa sangat terhormat dan emosional bisa terlibat dalam Pentas Kebaikan ini. Bagi saya, acara ini bukan sekadar panggung musik biasa, melainkan sebuah gerakan yang memiliki misi kemanusiaan yang sangat nyata,” ujar Yuga.
Ketika Persahabatan Menjadi Gerakan Sosial
Keterlibatan Yuga dan Nusaria dalam acara tersebut tidak lahir dari hubungan profesional semata. Ada kisah persahabatan yang menjadi fondasi keterlibatan mereka.
Apip, pengelola LombokCare, merupakan sahabat dekat yang selama ini disaksikannya bekerja tanpa lelah mendampingi anak-anak disabilitas di NTB.
Menurut Yuga, dedikasi yang ditunjukkan LombokCare menjadi alasan utama mengapa dirinya merasa perlu turut mengambil bagian. Baginya, perjuangan yang dilakukan sahabatnya telah melampaui batas-batas kerja sosial biasa.
“Saya menjadi saksi hidup bagaimana dedikasi, air mata, dan kerja keras yang dia curahkan setiap hari demi memperjuangkan hak-hak anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat. Ketika seorang sahabat bergerak untuk kebaikan yang begitu besar, tidak ada alasan bagi saya dan Nusaria untuk tidak berdiri di sampingnya dan memberikan dukungan penuh,” katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa gerakan sosial sering kali tumbuh dari relasi manusia yang sederhana: kepercayaan, persahabatan, dan kepedulian yang kemudian menjelma menjadi aksi kolektif.
Musik Sebagai Bahasa Inklusi
Bagi Nusaria, musik bukan hanya medium ekspresi artistik. Di tengah berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi kelompok rentan, musik dapat menjadi pengeras suara yang memperluas jangkauan pesan kemanusiaan.

Duo yang dibentuk pada Februari 2026 oleh Yuga Anggana dan Sangga Boemi ini memaknai keterlibatan mereka sebagai upaya menghadirkan kesadaran publik terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak disabilitas, mulai dari akses kesehatan, pendidikan, alat bantu, hingga pemenuhan nutrisi.
“Melalui Pentas Kebaikan, kami menemukan jawabannya. Musik punya kekuatan luar biasa untuk menyatukan orang-orang, dan malam ini kami menggunakan energi musik itu untuk menyuarakan isu-isu penting; mulai dari pemenuhan hak kesehatan, pendidikan, alat bantu, hingga pemenuhan nutrisi anak-anak disabilitas di pelosok NTB yang selama ini mungkin luput dari perhatian,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Nusaria juga ingin mengangkat pentingnya deteksi dini kasus clubfoot atau kaki pengkor bawaan pada anak. Menurut mereka, kesadaran masyarakat terhadap penanganan dini masih perlu diperkuat agar potensi disabilitas permanen dapat dicegah sejak awal.
Pesan yang dibawa sejalan dengan semangat inklusi yang selama ini menjadi nafas LombokCare: memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Nada-Nada dari Generasi Baru Lombok
Kehadiran Nusaria dalam Pentas Kebaikan juga menarik perhatian karena mereka merupakan salah satu wajah baru dalam ekosistem musik independen Lombok. Nama “Nusaria” berasal dari kata nusa atau pulau, sebuah identitas yang merepresentasikan tempat mereka bertumbuh dan berkarya.
Secara musikal, duo ini mengusung nuansa retro yang terinspirasi oleh estetika musik era 1960-an hingga 1980-an, dengan pengaruh yang terasa dari kelompok seperti The Beatles hingga Naif. Meski baru terbentuk awal tahun ini, mereka telah merilis dua karya di platform digital, yakni Tanpa Nama yang dirilis pada 10 April 2026 dan Tak Punya Pulang yang meluncur pada 5 Juni 2026.
Namun, di balik identitas musikal tersebut, Yuga menegaskan bahwa nilai terpenting yang ingin mereka bawa adalah semangat kolektivitas dan keberpihakan terhadap sesama.
“Gerakan inklusif yang digagas LombokCare ini mengajarkan kita semua bahwa perbedaan bukanlah sebuah hambatan. Semua orang, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan ruang yang sama untuk diterima dan berkontribusi di dalam masyarakat. Kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa mendukung anak-anak hebat ini dan orang tua mereka bukanlah tugas LombokCare sendirian, melainkan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Malam Pentas Kebaikan nanti akan mempertemukan Nusaria dengan Paris Hasan serta Sound of Magic Island dalam satu panggung amal yang berlangsung pukul 19.30 hingga 22.00 Wita di Jalan Biduri, Dusun Aik Are, Desa Sandik, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi NTB, panggung itu mungkin tidak akan mengubah dunia dalam semalam. Namun seperti sebuah lagu yang perlahan menemukan pendengarnya, gerakan-gerakan kecil semacam ini kerap menjadi frekuensi awal yang menyalakan perubahan lebih besar.
Dari sebuah pulau, dari sekelompok musisi, dan dari anak-anak yang selama ini menunggu untuk lebih didengar. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































