CERAKEN.ID — Pengalaman bermusik sering kali mengajarkan satu hal yang jarang disadari: keterbatasan sering kali bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada cara kita memandang diri sendiri.
Catatan tentang perjalanan Lombok Ethno Fusion ke Rusia dalam ajang Moscow Jazz Festival 2024 menghadirkan pelajaran itu dengan gamblang. Di tengah perjumpaan dengan musisi-musisi dari berbagai negara, muncul sebuah kesadaran bahwa kualitas para seniman daerah sesungguhnya tidak berada di bawah siapa pun.
Yang kerap menjadi penghalang justru rasa minder yang diwariskan oleh cara pandang yang terlalu lama menempatkan diri di pinggir panggung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar itu saya dengar dari Syahrul Barak, musisi sekaligus pemain suling di Lombok Ethno Fusion. Dalam kelompok musik yang mengawinkan unsur etnik Lombok dengan warna jazz dan musik dunia tersebut, Syahrul menjadi salah satu penjaga napas tradisi yang diterjemahkan ke dalam bahasa musik kontemporer.
Baginya, pengalaman tampil di Rusia menjadi bukti bahwa musisi daerah memiliki kapasitas untuk berdiri sejajar di ruang-ruang seni internasional.
“Musisi kita tidak kalah dengan mereka. Kita terlalu merendahkan diri,” ujar Syahrul.
Ketika Panggung Dunia Menjadi Cermin
Pernyataan itu lahir bukan dari semangat membanggakan diri secara berlebihan, melainkan dari pengalaman langsung selama mengikuti Moscow Jazz Festival 2024. Menurut Syahrul, kualitas musikal para musisi Indonesia, khususnya dari Lombok, mampu berbicara dengan bahasa universal yang dipahami publik internasional.
Ia bahkan meyakini bahwa semakin banyak seniman daerah yang berani tampil di luar daerah maupun luar negeri, semakin besar pula peluang nama daerah ikut dikenal.

“Jika saja mereka banyak bermain ke luar daerah, tentu nama baik daerah pun turut berkibar,” katanya.
Dalam dunia seni, perjalanan memang bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah proses pertukaran gagasan, pembelajaran, sekaligus pengujian kualitas.
Ketika seorang seniman berani keluar dari lingkaran yang akrab, ia menemukan bahwa batas-batas yang selama ini dianggap kokoh ternyata hanya dinding psikologis yang mudah runtuh.
Chandra Irawan dan Kekaguman di Sebuah Toko Gitar Rusia
Salah satu momen yang paling membekas bagi Syahrul terjadi bukan di panggung festival, melainkan di sebuah toko alat musik di Moskow. Saat itu, gitaris Lombok Ethno Fusion, Chandra Irawan, diberi kesempatan mencoba sebuah gitar yang dipajang di sana.
Apa yang terjadi kemudian membuat orang-orang di sekitar terdiam.
Menurut Syahrul, para pengunjung toko terlihat terbelalak menyaksikan permainan gitar Chandra yang spontan namun memikat. Teknik, rasa, dan improvisasi yang keluar dari jemarinya seketika menarik perhatian banyak orang.
“Padahal itu belum seberapa,” ujar Syahrul sambil menirukan respons rendah hati Chandra.
Kisah sederhana itu menjadi simbol bahwa pengakuan sering kali datang lebih cepat dari luar dibandingkan dari lingkungan sendiri. Banyak talenta yang sehari-hari dianggap biasa di tempat asalnya justru mendapatkan apresiasi tinggi ketika tampil di ruang yang lebih luas.
Dari Panggung Teater ke Nada-Nada Flute
Menariknya, perjalanan musikal Syahrul sendiri tidak bermula dari suling. Pria yang kini dikenal sebagai pemain alat musik tiup dalam Lombok Ethno Fusion itu mengaku baru serius mempelajari suling sekitar tahun 2015, setelah sebelumnya aktif di dunia teater.
“Sebenarnya baru-baru saja saya pegang. Sekitar tahun 2015. Itu pun selepas bermain teater,” tuturnya.
Perbincangan kami kemudian beralih ke musik jazz Indonesia. Ketika saya menyebut nama grup fusion legendaris Karimata, mata Syahrul langsung berbinar.
“Saya suka komposisi Seng Ken Ken,” katanya.
Saya lalu memutar beberapa karya Karimata, antara lain Why Not, Kharisma ’90, dan Confession. Namun sebelum lagu selesai diperdengarkan, Syahrul hampir setengah berteriak.
“Dari suara flute ini pastinya dimainkan Dave Valentin!”
Tebakannya tepat. Kepekaan itu memperlihatkan keluasan referensi musikal yang ia miliki. Dave Valentin dikenal sebagai salah satu pemain flute jazz Latin paling berpengaruh, dengan karakter permainan yang khas dan mudah dikenali oleh para pencinta jazz.
Perjalanan Lombok Ethno Fusion ke Moscow Jazz Festival 2024 akhirnya bukan sekadar cerita tentang tampil di panggung internasional. Ia menjadi pengingat bahwa kualitas tidak mengenal pusat dan pinggiran.
Di sebuah pulau yang jauh dari pusat industri musik nasional, lahir musisi-musisi yang mampu membuat publik di negeri lain terkesima. Yang dibutuhkan mungkin bukan kemampuan baru, melainkan keberanian untuk percaya bahwa karya yang lahir dari daerah pun layak berdiri di panggung dunia.
Karena sering kali, dunia lebih dulu percaya kepada kita sebelum kita percaya kepada diri sendiri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































