CERAKEN.ID — Lombok Ethno Fusion (LEF) kembali menandai perjalanan kreatifnya melalui peluncuran single terbaru berjudul “Feel The Motions” pada Minggu, 14 Juni 2026. Karya ini menjadi rilisan ketujuh grup tersebut setelah sebelumnya menghadirkan “Lalo Ngaro”.
Kehadiran single baru ini sekaligus mempertegas konsistensi LEF dalam meramu kekayaan musik tradisi Sasak dengan pendekatan musik modern yang semakin matang dan berkarakter.
Sebagaimana karya-karya sebelumnya, “Feel The Motions” masih mempertahankan identitas musikal khas Lombok Ethno Fusion. Nuansa suling bambu, tembang Sasak, gaya vokal dalang dan pembayun, ritme gamelan, hingga instrumen tradisional seperti saron dan gendang berpadu harmonis dengan sentuhan jazz yang lebih emosional, dinamis, dan groovy.
Perpaduan tersebut menciptakan ruang musikal yang tidak hanya merepresentasikan akar budaya Lombok, tetapi juga membuka kemungkinan dialog dengan audiens global.
Merayakan Perjalanan Kreatif
Bagi personel LEF, “Feel The Motions” bukan sekadar lagu baru. Single ini merupakan perayaan atas perjalanan panjang proses kreatif yang terus berlangsung dan memberikan kebahagiaan bagi para personelnya.
Dalam sambungan telepon pada Minggu (14/6/2026) pukul 17.37 Wita, pemain suling bambu LEF, Syahrul Barak, menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari semangat untuk menghadirkan wajah lain musik Lombok yang lebih ekspresif dan penuh energi.
“Mereka ingin menunjukkan bahwa musik Lombok tidak selalu terdengar lirih dan meratap, tetapi ada lompatan-lompatan kreativitas serta ruang eksplorasi yang perlu dicoba,” ujar Syahrul Barak.
Pemeran Rawi dalam pertunjukan Gula Gending 2.0 itu menambahkan bahwa eksplorasi tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan transisi warna musik Lombok agar semakin relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.
Menurutnya, generasi musisi Lombok hari ini memiliki tantangan untuk menjaga tradisi sekaligus membangun bahasa musikal yang mampu berkomunikasi dengan publik yang lebih luas. Karena itu, pendekatan etnik-jazz yang selama ini dikembangkan LEF menjadi salah satu jalan kreatif yang terus mereka tempuh.
Membuka Panggung bagi Musik Lombok di Dunia
Peluncuran “Feel The Motions” juga menjadi langkah lanjutan Lombok Ethno Fusion dalam memperkenalkan musik Lombok kepada komunitas pencinta World Jazz Music di tingkat global. Kehadiran platform digital memungkinkan karya-karya daerah menjangkau pendengar lintas negara tanpa batas geografis.
Kini, “Feel The Motions” telah tersedia dan dapat dinikmati melalui berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, serta layanan streaming lainnya. LEF mengusung pesan sederhana namun kuat melalui rilisan ini: “Feel the motions, embrace the journey.”
Strategi merilis karya dalam format single juga dinilai relevan dengan perkembangan industri musik digital saat ini. Pandangan tersebut disampaikan oleh Ary Juliyant, pemusik dari Rumah Kucing Montong (RKM), Lombok Barat, yang tengah menjalankan agenda Tourgerilya #14.
Saat ditemui di RKM, Ary menyampaikan apresiasinya terhadap rilisan terbaru LEF.
“Selamat dan sukses,” ujarnya.
Ary menilai format single memberikan banyak keuntungan bagi musisi independen dalam membangun audiens dan menjaga keberlanjutan promosi karya.
“Merilis single lebih efektif di era digital karena memberikan visibilitas yang konsisten, mempermudah fokus promosi, dan lebih hemat biaya produksi. Strategi ini sangat ideal untuk membangun audiens secara bertahap dan beradaptasi dengan algoritma platform streaming,” katanya.
Harmoni Tradisi dan Modernitas
Apresiasi terhadap “Feel The Motions” juga datang dari luar Pulau Lombok. Pendidik sekaligus “musikalisator” puisi asal Sukabumi, Jawa Barat, Soni Hendrawan, melihat single terbaru LEF sebagai contoh menarik bagaimana musik tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Menurut Soni, kekuatan utama lagu ini terletak pada keberhasilan menggabungkan instrumen tradisional Sasak dengan perangkat musik modern secara seimbang.
“Feel The Motion dari Lombok Ethno Fusion sangatlah menarik karena menggabungkan instrumen tradisional Sasak dengan sentuhan modern. Bunyi seruling, ketukan kendang, dan saron menjadi kekuatan akar budaya yang dipertahankan. Sentuhan gitar, drum, dan kibor menjaga lagu ini tetap terasa segar dan mudah dinikmati oleh berbagai kalangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pertemuan antara sistem nada tradisional dan modern yang menghasilkan warna musikal yang unik.
“Harmonisasi nada pentatonik dan diatonis yang unik dan menarik,” katanya.
Lebih jauh, Soni menilai karya tersebut menjadi bukti bahwa musisi daerah memiliki kapasitas untuk bersaing dalam lanskap musik global tanpa harus meninggalkan identitas kulturalnya.
“Lagu ini membuktikan bahwa musisi lokal mampu tampil mendunia dan kekinian tanpa kehilangan ruh tradisi dan akar budaya,” tambahnya.
Di balik lahirnya “Feel The Motions” berdiri para musisi yang selama ini menjadi tulang punggung Lombok Ethno Fusion, yakni Chandra Irawan (gitar), Syahrul Barak (bamboo flute), Mariadi “Adi” Basri (vokal, saron dan gendang), Agustian Putra (drum), Tannya Efritzka (keyboard dan vokal), Lalu Sukmayadi (bass), serta “Ayong” Ferdianto (saron dan rencek).
Melalui single terbaru ini, Lombok Ethno Fusion kembali menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis. Tradisi dapat bergerak, berdialog, dan menemukan bentuk-bentuk baru yang relevan dengan zamannya.
“Feel The Motions” menjadi bukti bahwa denyut budaya Sasak masih terus hidup, tumbuh, dan menari mengikuti gerak dunia yang terus berubah. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































