Humanity Itu Utopia: Refleksi Wing Sentot tentang AI dan Musik

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sentot menghubungkan perdebatan AI dengan pertanyaan klasik tentang eksistensi manusia (foto: aks / ceraken.id)

Sentot menghubungkan perdebatan AI dengan pertanyaan klasik tentang eksistensi manusia (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Catatan ceraken.id berjudul “Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia” yang terbit pada Selasa, 16 Juni 2026, memantik respons dari berbagai kalangan musisi. Salah satunya datang dari vokalis Yoiakustik, Wing Sentot Irawan.

Alih-alih melihat perdebatan antara karya manusia dan kecerdasan buatan semata sebagai persoalan teknis, Sentot membawanya ke wilayah yang lebih filosofis: hubungan antara intuisi, intelektualitas, dan hakikat kemanusiaan itu sendiri.

Menurut Sentot, setiap pembicaraan tentang musik, teknologi, maupun kreativitas sering kali terjebak dalam bayang-bayang gagasan ideal yang sulit dijangkau. Namun justru di ruang itulah manusia terus berusaha mendefinisikan dirinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Musikalitas sebagai Rekonstruksi Tanda

Sentot memandang musikalitas bukan sekadar persoalan bunyi, melainkan proses penciptaan makna yang melibatkan simbol, tanda, dan pengalaman manusia. Dalam pandangannya, musik selalu bekerja di antara ruang-ruang interpretasi yang tak pernah benar-benar selesai.

“Bagus sih. Setiap topik terkesan utopia padanya. Musikalitas itu merekonstruksi tanda, semiotik, simbol. Tapi hakekatnya kita mengabaikan jarak antara intuisi dan intelektual,” ujar Sentot.

Pernyataan itu menempatkan musik sebagai medium yang bukan hanya lahir dari keterampilan teknis, tetapi juga dari pergulatan batin penciptanya.

Baca Juga :  Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem

Di tengah perkembangan teknologi generatif seperti Suno dan berbagai platform AI lainnya, pertanyaan tentang sumber kreativitas menjadi semakin relevan. Apakah sebuah karya cukup dinilai dari hasil akhirnya, atau justru dari proses kemanusiaan yang melahirkannya?

AI dan Pergeseran Posisi Subyek

Bagi Sentot, kecerdasan buatan tidak hadir sebagai entitas yang sepenuhnya terpisah dari manusia. Ia melihat AI sebagai kelanjutan dari kecenderungan manusia sendiri untuk mengumpulkan, mengolah, dan memprioritaskan berbagai teks serta pengetahuan yang telah ada.

“Sebagai subyek kita gagap berpijak. Terkooptasi obyek gagasan. Nah AI, itu insting subyek yang mendapat prioritas untuk diamini sebagai obyek gagasan,” katanya.

Ia menilai perkembangan AI tumbuh dari inkubator berbagai prioritas antarteks yang selama ini dibangun manusia. Karena itu, keberadaan AI bukan hanya soal teknologi, melainkan juga cerminan cara manusia memahami dan mengorganisasi pengetahuan.

Dalam konteks musik, AI menghadirkan kemungkinan baru sekaligus tantangan baru tentang bagaimana manusia memaknai kreativitas.

Utopia, Humaniora, dan Kesadaran “Aku Ada”

Di titik yang lebih mendasar, Sentot menghubungkan perdebatan AI dengan pertanyaan klasik tentang eksistensi manusia. Baginya, baik teknologi maupun ilmu humaniora sama-sama bergerak dalam wilayah yang bersifat utopis: sebuah upaya terus-menerus untuk mencapai keutuhan yang mungkin tak pernah benar-benar selesai.

Baca Juga :  Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

“Hakekat humanity itu AI. Skala yang diamini untuk menjadi komplit atau utuh. Jarak pengertian musikalitas antarteks itu yang perlu mendapat prioritas. Bahwa sesuatu menjadi mungkin atau tidak mungkin,” ungkapnya.

Ia kemudian menambahkan bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dilepaskan dari hasrat manusia untuk memahami dirinya sendiri. “Apakah temuan teknologi itu utopia? Yoilah. Humanity dan ilmu humaniora itu utopia padanya, ‘aku ada’,” tutur Sentot.

Pandangan tersebut menghadirkan perspektif yang berbeda dalam perdebatan seputar lagu yang dibuat manusia dan lagu yang dihasilkan AI. Jika selama ini diskusi sering berfokus pada persoalan keaslian karya, Sentot justru mengajak melihat lapisan yang lebih dalam.

Bagaimana teknologi menjadi cermin bagi manusia untuk kembali mempertanyakan siapa dirinya, dari mana kreativitas berasal, dan sejauh mana makna dapat dibangun di antara intuisi, intelektualitas, serta kesadaran akan keberadaan diri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan
Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem
Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas
TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah
Sukarare: Menenun Identitas di Jantung Pariwisata Lombok
Menakar Kedaulatan Pangan dari Kandang dan Kampus
Lalu Anis Mujahid Akbar Terima “Pinangan” Peserta Muswil, Siap Pimpin Dekopinwil NTB
Laporan Muswil Dekopinwil NTB 2025: LPJ Diterima Aklamasi, Sinergi dengan Pemerintah Jadi Penegas Arah Baru

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:47 WITA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:28 WITA

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Anggaran: Arah Baru Birokrasi NTB dalam Menekan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:15 WITA

Humanity Itu Utopia: Refleksi Wing Sentot tentang AI dan Musik

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:10 WITA

Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:05 WITA

TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

(foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Algoritma Air dan Akar

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:15 WITA

Bedah buku Ajoeba Wartabone (1894-1957):

BEDAH BUKU

Ajoeba Wartabone Direkomendasikan Jadi Pahlawan Nasional

Sabtu, 20 Jun 2026 - 18:42 WITA

MUSIK

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:46 WITA

MUSIK

Nada dari Ufuk Selatan

Jumat, 19 Jun 2026 - 20:55 WITA

RUPA RUPA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Jumat, 19 Jun 2026 - 15:47 WITA