CERAKEN.ID — Museum Negeri Nusa Tenggara Barat selalu memiliki cara tersendiri untuk mengajak pengunjung menengok masa lalu. Di balik vitrin yang tampak tenang, tersimpan benda-benda yang sesungguhnya menyimpan cerita panjang tentang manusia, kebudayaan, teknologi, kepercayaan, hingga cara hidup masyarakat pada zamannya.
Salah satu ruang yang menarik perhatian adalah vitrin yang menyimpan sejumlah benda arkeologi prasejarah.
Di dalamnya terdapat foto sarkopagus, kapak serpih, kapak persegi, kapak genggam, kapak corong, kendi temuan Situs Gunung Pirung, Desa Truwai, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, tahun 1976, serta kendi temuan Situs Lendang Berora, Pemenang, Lombok Utara, tahun 1996. Ada pula kerang-kerangan, manik-manik, dan fragmen gerabah.
Benda-benda itu mungkin tampak sederhana. Sebagian bahkan hanya berupa pecahan atau benda yang telah kehilangan fungsi awalnya. Namun, dalam perspektif arkeologi, setiap benda dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan manusia pada masa lalu.
Arkeologi dan Benang Merah Kebudayaan
Sebagaimana tercatat dalam dokumentasi Museum Negeri NTB, peninggalan arkeologi di wilayah Nusa Tenggara Barat dapat digunakan untuk membangun kembali gambaran mengenai kebudayaan masa lampau. Mata pencaharian hidup, sistem kepercayaan, sistem nilai, sistem kekerabatan, hingga perkembangan teknologi dapat ditelusuri melalui peninggalan benda-benda arkeologi.
Dalam pembabakan sejarah kebudayaan, peninggalan arkeologi di NTB dikelompokkan ke dalam tiga masa besar, yakni masa prasejarah, masa klasik Hindu-Buddha, dan masa Islam.
Masa prasejarah ditandai antara lain dengan penemuan kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, sarkopagus di Aik Renung Sumbawa, periuk berhias dari Situs Gunung Piring Lombok Tengah, serta nekara perunggu yang ditemukan di Sambelia dan Pringgabaya, Lombok Timur, juga di Desa Seran, Kecamatan Seteluk, Sumbawa Barat.
Jejak masa klasik Hindu-Buddha dapat diketahui melalui peninggalan seperti Candi Siwa di Pendua, Lombok Barat, Candi Wadu Pa’a di Bima, dan Candi Ncandi di Sila Bumi.
Sementara itu, masa Islam meninggalkan jejak berupa bangunan keagamaan dan pusat kekuasaan. Masjid Bayan Beleq, Masjid Pujut, dan Masjid Rembitan menjadi bagian dari warisan tersebut. Selain itu terdapat makam Selaparang, makam raja-raja Bima, serta Istana Kesultanan Bima dan Sumbawa.
Dengan demikian, benda-benda yang berada di dalam vitrin museum tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam sebuah rangkaian panjang perjalanan kebudayaan manusia di NTB.
Benda Kecil, Cerita yang Panjang
Bagi Tenaga Ahli Madya Bidang Permuseuman Museum Negeri NTB, Bunyamin, arkeologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari warisan budaya yang tertimbun di bawah tanah maupun berada di bawah air.
“Arkeologi sangat penting untuk mengungkap peristiwa masa lalu yang tertimbun di bawah tanah atau air yang menjadi benang merah sejarah kebudayaan berikutnya bahkan sampai saat ini,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Pernyataan itu membuat benda-benda di dalam vitrin dapat dilihat dengan cara yang berbeda. Kapak tidak lagi sekadar kapak. Gerabah bukan sekadar pecahan tanah liat. Manik-manik tidak hanya menjadi benda hias.
Masing-masing merupakan petunjuk yang memungkinkan manusia hari ini membaca kehidupan manusia yang telah lama berlalu.
Dalam arkeologi, objek yang dipelajari tidak terbatas pada artefak. Artefak merupakan benda buatan manusia yang dapat dipindahkan, seperti kapak batu, gerabah, dan perhiasan. Ada pula ekofak, yakni benda alam yang berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti sisa tulang hewan atau sisa makanan.
Sementara fitur merupakan peninggalan yang tidak dapat dipindahkan, misalnya struktur bangunan, tiang rumah panggung, atau makam. Adapun situs merupakan lokasi yang menyimpan kumpulan bukti mengenai aktivitas manusia pada masa lalu.
Dari pengelompokan tersebut tampak bahwa arkeologi sesungguhnya bukan semata-mata aktivitas menggali tanah. Ia adalah usaha membaca hubungan antara manusia, benda, ruang, dan waktu.
Dari Survei hingga Menyusun Kembali Kehidupan
Kerja arkeologi berlangsung melalui tahapan yang panjang. Survei dilakukan untuk mencari dan memetakan lokasi atau potensi situs. Ketika sebuah situs dianggap memiliki potensi penting, ekskavasi dilakukan secara hati-hati untuk mengangkat temuan tanpa merusak konteksnya.
Benda yang ditemukan kemudian memasuki tahap analisis. Berbagai ilmu bantu dapat digunakan, antara lain sejarah, geologi, hingga radiokarbon. Dari proses tersebut, arkeolog berusaha menyusun interpretasi mengenai kehidupan dan kebudayaan manusia pada masa lalu.
Konteks menjadi penting karena sebuah benda tidak hanya berbicara tentang bentuk dan bahan pembuatnya. Lokasi penemuan, lapisan tanah, benda lain yang berada di sekitarnya, bahkan jarak antara satu temuan dengan temuan lainnya dapat memberikan informasi penting.
Karena itu, kendi dari Situs Gunung Pirung dan kendi dari Situs Lendang Berora, misalnya, tidak berhenti sebagai dua benda koleksi. Keduanya dapat menjadi bagian dari pembacaan mengenai aktivitas manusia, teknologi, pola kehidupan, maupun hubungan antarkelompok masyarakat pada masa tertentu.
Museum kemudian mengambil peran penting dalam menghadirkan kembali benda-benda tersebut kepada publik. Temuan yang sebelumnya berada dalam konteks penggalian atau penelitian dipindahkan ke ruang pengetahuan yang dapat diakses oleh masyarakat.
Masa Lalu untuk Membaca Masa Depan
Di titik inilah museum tidak semestinya dipahami hanya sebagai tempat menyimpan benda lama. Museum merupakan ruang untuk membaca ingatan kebudayaan.
Melalui arkeologi, manusia dapat menelusuri akar kebudayaan, memahami bagaimana tradisi, teknologi, dan pola kehidupan berkembang, sekaligus melihat bagaimana manusia beradaptasi terhadap lingkungan dan perubahan zaman.
Arkeologi juga memungkinkan manusia belajar dari kegagalan masa lalu. Keruntuhan suatu komunitas atau peradaban dapat ditelaah melalui perubahan lingkungan, konflik, perubahan pola pangan, maupun faktor sosial lainnya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi cermin untuk memahami persoalan kehidupan masa kini.
Di sisi lain, arkeologi berkembang melalui kerja lintas disiplin. Geologi, biologi, metalurgi, teknologi pemindaian, hingga berbagai metode ilmiah modern dapat digunakan untuk membaca peninggalan masa lalu.
Teknologi seperti ground penetrating radar (GPR) dan LiDAR bahkan membuka kemungkinan baru dalam pencarian dan pemetaan situs tanpa harus selalu melakukan penggalian secara langsung.
Warisan arkeologi juga memiliki dimensi ekonomi dan sosial. Situs-situs sejarah dapat berkembang menjadi tujuan wisata warisan budaya, membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar, sekaligus menginspirasi industri kreatif melalui buku, film, karya seni, hingga berbagai bentuk narasi kebudayaan.
Namun, lebih jauh dari semua itu, nilai utama arkeologi terletak pada kemampuannya menghubungkan manusia hari ini dengan manusia yang hidup jauh sebelum dirinya.
Vitrin Museum Negeri NTB dengan demikian bukan sekadar ruang kaca yang menampilkan benda-benda lama. Ia adalah semacam ruang percakapan. Kapak, kendi, manik-manik, kerang, fragmen gerabah, dan jejak sarkopagus berbicara dengan caranya sendiri. Bahasa yang digunakan adalah bahasa benda, konteks, dan jejak.
Dari sana, masa lalu perlahan mendapatkan kembali suaranya. Dan museum menjadi salah satu tempat di mana suara itu masih dapat didengar. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































