CERAKEN.ID — Ada “letupan” yang disodorkan musisi tradisi, Kobar, nama panggilan akrab dari I Komang Tri W, di Ruang Musik Taman Budaya NTB, saat Tim Eksperimentasi Musik 2026 memasuki pertemuan keenam, Selasa sore (18/8/2026).
Letupan itu bukan sekadar bunyi yang muncul dari instrumen, melainkan tanda bahwa proses pencarian bentuk musik mulai menemukan arah.
Setelah melewati sejumlah pertemuan, setiap bagian dalam struktur musik yang sedang dibangun mulai memiliki gambaran. Yang tersisa adalah merawat, mempertemukan, sekaligus memperkuat bagian-bagian tersebut agar menjadi satu kesatuan yang utuh.
Ketika ditanya ceraken.id mengenai perkembangan tim pada pertemuan keenam, Kobar menyebut progres sudah mulai terlihat di hampir setiap bagian.
“Menurut saya sih sudah ada progress yang pasti. Di setiap bagian sudah ada gambarannya, tinggal bagaimana kita menghiasi setiap bagian yang sudah dibuat,” ujar Kobar.
Ia menambahkan, tim kini tinggal menyelesaikan dua bagian yang menjadi pekerjaan berikutnya, yakni Pengawak Angin dan Pemotoq Api.
“Jadi, tinggal dua bagian saja, yaitu Pengawak Angin dan Pemotoq Api. Oleh karena itu, tim lebih semangat dan kompak lagi latihan,” tambahnya.
Mengejar Bentuk Sebelum Evaluasi

Semangat tersebut berjalan beriringan dengan dorongan Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. L. Agus Fathurrahman. Bagi Miq Agus Fn, waktu menuju Evaluasi Pertama semakin dekat. Karena itu, proses eksperimentasi tidak lagi sekadar mencari kemungkinan, tetapi mulai diarahkan untuk menemukan bentuk yang lebih kokoh.
Ia berharap Yuga Anggana dan Mariadi Basri semakin intens berdiskusi untuk mempertemukan karakter musik tradisi dengan musik modern. Pertemuan dua karakter musik tersebut menjadi salah satu kunci dari eksperimen yang sedang dilakukan.
“Sehingga kita berharap Kang Yuga Anggana dan Kak Mariadi Basri bisa lebih intens berdiskusi untuk mempertemukan chemistry antara musik tradisi dengan musik modern,” kata Miq Agus Fn.
Menurutnya, bila diperlukan, tim dapat menjadwalkan latihan khusus untuk membicarakan struktur musik secara lebih mendalam. Targetnya, pada akhir Agustus bentuk musik sudah dapat difinalkan sehingga tidak lagi tersita oleh diskusi mengenai bentuk ketika memasuki September.
“Bila perlu, kita jadwalkan latihan khusus untuk mendiskusikan struktur supaya lebih paten. Hingga pada akhir Agustus sudah final dan tidak ada lagi diskusi bentuk. Karena pada bulan September itu sudah masuk ke evaluasi pertama,” ujarnya.
Mendengar Ulang untuk Menemukan Chemistry
Dalam proses itu, Yuga Anggana mengusulkan agar setiap bagian musik dimainkan secara utuh. Dengan cara tersebut, ia dapat mendengarkan kembali setiap struktur, mengingatnya, sekaligus menyimpannya dalam soundcard untuk kemudian diolah kembali.
“Saya ingin setiap bagian dimainkan. Lantas saya mendengarkan hingga bisa merekayasa ulang bagian-bagian tersebut sebagai bagian dari chemistry,” terang Yuga.
Front man Nusaria itu menilai, proses mendengarkan kembali menjadi penting karena musik yang sedang dibangun tidak hanya membutuhkan hubungan antarbunyi, tetapi juga jembatan yang mempertemukan satu struktur dengan struktur lainnya.

“Hal ini juga sebagai persiapan ke bagian berikutnya, Pengawak Angin dan Pemotoq Api. Terutama dalam membangun jembatan di antara bagian dari struktur tersebut,” tambahnya.
Dengan demikian, eksperimentasi tidak berhenti pada penciptaan bagian-bagian musik secara terpisah. Setiap bagian harus mampu berkomunikasi dengan bagian lainnya, sehingga keseluruhan komposisi memiliki alur dan karakter yang dapat dirasakan sebagai satu karya.
Satu Putaran untuk Menguji Kelemahan
Pertemuan keenam tersebut dihadiri Ni Wayan Sri Artini, I Nyoman Gde Adimusti TBL, Lalu Prima Wiraputra, Lalu Jagat, Akmal, I Nyoman Jovi, Hamdi, Burhanuddin, Sahiran, dan Peng.
Menutup sesi eksperimentasi hari itu, Miq Agus Fn kembali mengingatkan tim agar tidak kehilangan momentum. Pada malam berikutnya, seluruh tim dijadwalkan memainkan tiga struktur yang telah tersedia dalam satu putaran penuh.
Setelah permainan tersebut, tim akan menggelar diskusi untuk melihat kembali bagian-bagian yang masih memiliki kelemahan. Dengan cara itu, hasil latihan tidak berhenti sebagai pengalaman bermain, tetapi terdokumentasi dan dapat menjadi bahan evaluasi bersama.
“Di bagian mana yang harus diperbaiki, terdokumentasi secara musikal dan menjadi pegangan tim hingga menjelang awal September sebagai tahapan Evaluasi Pertama,” pungkas Miq Agus Fn.
Di Ruang Musik Taman Budaya NTB, eksperimentasi itu pun terus bergerak. Dari bunyi yang dicoba, bagian yang diulang, hingga diskusi yang mempertemukan gagasan, sebuah bentuk musik perlahan sedang dibangun.
Waktu menuju evaluasi pertama semakin pendek, sementara pekerjaan tim justru memasuki tahap yang menentukan: memastikan setiap bunyi tidak hanya terdengar, tetapi memiliki hubungan dan makna di dalam keseluruhan struktur. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































