CERAKEN-ID — Mataram — Jumat malam, 21 Agustus 2026, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat tidak sekadar membuka pintunya lebih lama. Ketika jarum jam bergerak melewati pukul 19.37 WITA, taman museum mulai dipenuhi undangan, pegiat seni, komunitas, dan masyarakat yang datang untuk menyaksikan sebuah kemungkinan lain: museum yang hidup pada malam hari.
“Pada malam hari ini kita sudah berada di salah satu tempat paling eksotis di Nusa Tenggara Barat, yaitu kita berada di Museum, dan kita akan menikmati acara Night at Museum,” ujar pembawa acara, mengundang para tamu untuk mendekat ke area yang telah disediakan.
Malam itu, Museum Negeri NTB seakan sedang menguji sebuah cara pandang lama. Bahwa museum tidak harus selalu dibayangkan sebagai bangunan yang sunyi, ruang dengan vitrinnya yang diam, atau tempat yang hanya ramai ketika musim liburan sekolah tiba.
Dalam gelap malam yang diselingi cahaya lampu, Museum Begawe Vol. 3 Tahun 2026 justru menawarkan museum sebagai ruang perjumpaan, hiburan, kreativitas, kenangan, dan percakapan tentang masa depan.
Kegiatan Museum at Night menjadi bagian dari rangkaian besar Museum Begawe 2026 Vol. 3 yang berlangsung pada 21 hingga 23 Agustus 2026. Selain kegiatan kunjungan museum pada malam hari, rangkaian acara juga diisi dengan Arkeolog Cilik, Museum untuk Disabilitas, Lombok Melukis Caping, Lomba Modern Ethnic Dance, Lomba Mewarnai, Pasar Malam, Mataram Berlari, hingga PUBG Competition.
Di tengah rangkaian yang beragam itu, malam di museum menjadi seperti sebuah pernyataan: masa lalu tidak harus tinggal di belakang. Ia dapat diajak hadir, dibaca ulang, bahkan dirayakan.
Rasa Penasaran Seorang Perupa
Sebelum acara dibuka, Ketua Lombok Art Community, Muzhart, mengaku datang dengan rasa penasaran yang besar. Baginya, pengalaman menikmati museum pada malam hari merupakan sesuatu yang tidak biasa.
“Ini baru pertama kali saya diundang dan ini sepertinya acara yang sangat luar biasa di malam hari. Saya sangat penasaran malam ini. Maka daripada itu saya sangat antusias untuk datang menghadiri acara Night at Museum,” katanya.
Muzhart membayangkan sebuah layanan kunjungan museum yang berbeda dari biasanya. Museum pada malam hari, menurutnya, menghadirkan kemungkinan pengalaman yang lebih eksotis sekaligus membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mendekati koleksi dan sejarah.
“Memang saya membayangkan akan ada layanan kunjungan museum di malam hari. Sepertinya bakalan sangat luar biasa. Makanya saya sangat penasaran melihat acara malam hari di Museum NTB,” ujarnya.
Bagi Muzhart, Museum NTB sendiri bukan ruang yang asing. Ia pernah menjadi bagian dari pameran yang digelar di museum tersebut. Saat ditanya ceraken.id tentang pengalamannya sebagai perupa berpameran di Museum NTB, ia mengingat sebuah peristiwa pada 2022.
“Kebetulan pameran perdana saya di Museum NTB tahun 2022. Kalau tidak salah, saat itu Museum NTB bekerja sama dengan Museum Basoeki Abdullah, Jakarta Pusat, menggelar Pameran Temporer Seni Rupa bertajuk Sense of Basoeki Abdullah. Itu antusiasnya luar biasa juga,” jawabnya.
Kenangan itu kemudian mengantarkan pada pembicaraan tentang relevansi museum dan seni rupa hari ini. Menurut Muzhart, semangat pameran seperti itu tetap penting untuk terus dihidupkan.
“Sangat-sangat ada, karena beliau adalah salah satu tokoh seni rupa Indonesia. Saya rasa sangat berkaitan juga dengan museum saat ini. Karena Basoeki Abdullah adalah salah satu pelukis yang menangkap sejarah di Indonesia, maupun menangkap wajah-wajah yang ada di masanya. Jadi spirit ini yang harus tetap digelorakan,” tambahnya.
Dalam pandangan seorang perupa, museum bukan hanya tempat menyimpan benda. Museum juga menyimpan cara manusia memandang zamannya.
Ruang Khasanah dan Jejak yang Akan Berubah
Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur karena setelah beberapa windu, Museum Negeri NTB kembali menggelar kegiatan pada malam hari.
Bagi Nuralam, kehadiran masyarakat dan berbagai unsur komunitas menjadi penanda penting bahwa museum tidak sedang berjalan sendirian dalam upaya membangun kebudayaan di Nusa Tenggara Barat.
“Kehadiran bapak ibu sekalian adalah satu penghargaan dan kebanggaan bagi kami bahwa museum tidak sendiri dalam membangun kebudayaan, bahwa museum memiliki teman dalam berjalan memajukan kebudayaan di Nusa Tenggara Barat,” katanya.
Malam itu juga menjadi momentum pembukaan kembali Ruang Khasanah yang telah direvitalisasi. Nuralam secara khusus memanggil tim kuratorial dan para pekerja museum yang terlibat dalam proses perubahan ruang tersebut.
Ia menyebut karya itu tidak sekadar hasil pekerjaan teknis. Ada sidik jari, pemikiran, pengalaman, dan pengabdian panjang yang tertinggal di dalam ruang tersebut.
“Khususnya Pak Satarudin dan Pak Ishak, ini adalah karya terakhir beliau di Museum sebelum pensiun pada 31 Desember 2026. Dan ini adalah persembahan putera terbaik Museum untuk negeri ini,” ujar Nuralam.
Namun revitalisasi yang disaksikan malam itu bukanlah akhir dari perubahan. Justru sebaliknya. Tata pamer yang ada akan memasuki babak baru dalam beberapa bulan mendatang.
“Di bulan Desember akan ada tata pamer yang baru. Malam ini kita menyaksikan perpisahan itu, after and before-nya. Sehingga saya mohon kepada masyarakat NTB, silakan datang sebelum ini berubah,” katanya.
Ada sebuah cerita yang kemudian disampaikan Nuralam, sederhana tetapi menyimpan pertanyaan yang selama ini mungkin juga ada di kepala banyak orang.
Seorang pengunjung pernah bercerita kepadanya bahwa ketika masih duduk di sekolah dasar, ia diajak ayahnya melihat Museum NTB. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia datang kembali bersama anaknya yang masih TK, ia merasa museum itu seolah tidak banyak berubah.
“Eh, museumnya tidak berubah waktu saya ajak anak saya yang TK,” cerita Nuralam menirukan pengunjung tersebut.
Baginya, revitalisasi menjadi salah satu jawaban atas kegelisahan itu.
“Malam ini kita jawab bersama-sama keresahan bapak ibu, kenapa Museum NTB tidak pernah berubah,” katanya.
Perubahan, dalam konteks itu, bukan berarti meninggalkan sejarah. Justru perubahan menjadi cara agar sejarah tetap dapat dibaca oleh generasi yang berbeda.

Mengubah Cara Pandang terhadap Museum
Gagasan tentang perubahan cara pandang itu juga disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Arifin, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB.
Menurutnya, salah satu pekerjaan penting yang harus terus dilakukan adalah mengubah persepsi masyarakat bahwa museum hanya berisi benda-benda lama yang disimpan dalam ruang tertutup.
“Seperti yang sering disampaikan oleh Bapak Gubernur bahwa Museum NTB harus mengubah cara pandang orang di luar sana, atau mindset orang-orang. Museum itu bukan hanya identik dengan barang-barang yang sudah lama,” katanya.
Karena itu, kegiatan malam hari menjadi salah satu bentuk inovasi untuk memperluas pengalaman masyarakat terhadap museum.
“Ini sebuah inovasi yang dilaksanakan oleh teman-teman Museum terkait dengan acara malam hari ini, bahwa museum itu tidak hanya dikunjungi pada siang hari,” ujar Arifin.
Ia menilai Museum Begawe juga menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang dengan banyak pintu masuk. Anak-anak dapat datang melalui kegiatan Arkeolog Cilik atau lomba mewarnai. Komunitas kreatif dapat menemukan ruangnya dalam seni dan pertunjukan. Masyarakat umum dapat hadir melalui pasar malam, olahraga, hingga berbagai kegiatan kontemporer.
Museum tidak harus meminta semua orang masuk melalui pintu yang sama.
Yang lebih penting, museum menyediakan alasan untuk datang.
Arifin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Museum Negeri NTB atas berbagai upaya untuk mengubah wajah dan citra permuseuman di daerah.
“Tadi sudah disampaikan oleh Pak Ahmad Nuralam, Kepala Museum NTB, rugi kita kalau tidak melihat museum sekarang, karena sebentar lagi akan berubah,” katanya.
Perubahan fisik, tentu saja, hanya satu bagian dari perubahan yang lebih besar. Yang lebih penting adalah perubahan dalam cara museum berkomunikasi dengan masyarakatnya.
Ketika Mantan Kepala Museum Pulang Bernostalgia
Malam semakin larut ketika Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB, H. Lalu Moh. Faozal, yang mewakili Gubernur NTB, berdiri di depan hadirin.
Ia datang membawa sambutan gubernur. Tetapi malam itu, ia memilih lebih banyak membawa cerita.
“Kalau dilihat dari ruang lingkup koordinasinya mestinya Asisten yang lain. Tapi mungkin karena saya mantan Kepala Museum,” katanya, yang langsung disambut tepuk tangan.
Bagi Miq Faozal, Museum Negeri NTB bukan sekadar salah satu kantor tempat ia pernah ditugaskan. Museum memiliki ruang tersendiri dalam perjalanan karier dan kehidupannya.
“Saya terus terang, Museum ini punya tempat yang spesial dalam perjalanan karier saya dan hidup saya,” katanya.
Kenangan itu membawanya kembali ke sekitar tahun 2014, ketika ia ditugaskan memimpin museum. Ia mengenang kondisi museum pada masa itu dengan segala keterbatasannya.
Ada lampu yang mati ketika acara digelar. Ada fasilitas yang belum memadai. Bahkan, untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan, museum harus berhadapan dengan berbagai persoalan teknis.
Namun justru dari keterbatasan itu, katanya, tumbuh semangat untuk membuat museum menjadi lebih hidup.
“Saya ingin memberikan semangat ke seluruh kawan-kawan untuk kita bangga punya museum ini,” ujarnya.
Salah satu gagasan yang terus melekat dalam ingatannya adalah kampanye “Museum di Hatiku: Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan.”
Baliho-baliho di Kota Mataram pernah digunakan untuk menyebarkan pesan itu. Museum, dengan segala keterbatasannya, harus keluar dari gedung dan masuk ke dalam kesadaran masyarakat.
Malam itu, Miq Faozal seperti menemukan kembali serpihan-serpihan masa lalu.
Ia mengingat kegiatan Hari Kartini, perayaan hari jadi daerah, pameran wastra NTB di Museum Tekstil Jakarta, hingga berbagai kegiatan yang pernah mencoba menjadikan museum sebagai ruang yang tidak kaku.
“Ini cerita masa lalu supaya hari ini kita bisa semangat,” katanya.
Dari Wastra hingga Putri Thailand
Salah satu cerita yang kembali diangkat Miq Faozal adalah ketika tim Museum NTB membawa pameran wastra ke Museum Tekstil Jakarta.
Dengan penuh kebanggaan, ia mengenang bagaimana tim dari NTB mampu mengemas dan menyajikan kekayaan tekstil daerah di hadapan publik ibu kota.
“Orang-orang Jakarta kaget melihat bagaimana bisa mengemas pameran. Kita bawa wastra kita dan kita coba suguhkan di ibu kota itu, dan luar biasa,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan anggaran dan fasilitas tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti. Kreativitas, keberanian, dan kerja bersama sering kali menjadi modal yang tidak kalah penting.
Ia juga mengingat bagaimana Museum NTB pernah mencoba menjadikan kunjungan museum sebagai bagian dari pengalaman wisatawan, termasuk ketika kapal pesiar datang ke Gili Mas.

Inspirasi itu, katanya, datang dari pengalamannya ketika berkunjung ke Korea.
“Ketika kita berkunjung ke Korea, traveling di Korea itu, maka guide Korea yang pertama dia tawarkan itu adalah museum. Maka itu yang menginspirasi kita menghadirkan museum ini di setiap kunjungan,” ujarnya.
Ada pula kisah kunjungan tamu penting dari Thailand. Awalnya, kunjungan tersebut dijadwalkan hanya berlangsung sekitar 10 menit. Namun ketika tiba di Museum NTB, waktu kunjungan itu berubah menjadi berjam-jam.
Bagi Miq Faozal, peristiwa-peristiwa seperti itu menjadi bukti bahwa museum memiliki daya tarik besar ketika mampu bercerita dengan baik.
Koleksi yang tersimpan di dalam vitrin tidak akan berbicara dengan sendirinya.
Ia membutuhkan kurator, penata pamer, pemandu, penulis narasi, seniman, komunitas, dan masyarakat yang bersedia mendengarkan.
“Museum ini sangat tergantung sama inovasi, sangat tergantung pada kreativitas. Kalau dibiarkan saja gedung ini bangunannya seperti ini, ya tidak ada yang melihat,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar Museum Begawe tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ketiga.
“Cari inovasi-inovasi baru,” pesannya.
Masa Lalu yang Sedang Berbicara kepada Masa Depan
Nostalgia malam itu tidak sepenuhnya tentang kerinduan terhadap masa lalu. Ada pesan yang lebih jauh: museum harus terus bergerak.
Miq Faozal mengingatkan bahwa perubahan tata pamer dan wajah museum perlu dibangun melalui percakapan bersama. Budayawan, pemerhati kebudayaan, para pensiunan museum, kurator, dan masyarakat perlu dilibatkan agar perubahan tidak memutus hubungan dengan jejak sejarah yang telah dibangun sebelumnya.
“Tidak apa-apa dia berubah, tetapi sekali lagi ini harus ada perjalanan yang saya kira bisa kita membangun konsensus bersama terkait dengan perubahannya itu,” katanya.
Museum, dalam pengertian itu, tidak boleh menjadi bangunan yang membeku.
Ia harus berubah tanpa kehilangan ingatan.
Ia harus modern tanpa menanggalkan jejak.
Ia harus terbuka terhadap generasi baru tanpa menghapus cerita generasi sebelumnya.
Di tengah rencana pembaruan tersebut, Museum Negeri NTB juga terus membawa koleksi dan kebudayaan daerah ke ruang yang lebih luas. Ahmad Nuralam menyampaikan bahwa pada 12 September mendatang Museum NTB dijadwalkan mengikuti pameran kain Lombok bertajuk “Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok and Bali”, sekaligus terkait dengan peluncuran buku.
Harapannya sederhana, tetapi arahnya jauh: kebudayaan NTB semakin mendunia.
Miq Faozal, yang malam itu kembali sebagai seorang mantan kepala museum, menutup rangkaian panjang nostalgianya dengan satu pesan yang seolah merangkum seluruh perjalanan Museum Negeri NTB.
Ia percaya bahwa museum harus terus bekerja sama dengan komunitas dan para pemerhati. Sebab museum tidak mungkin memahami seluruh dirinya sendirian.
“Kita tidak tahu apa-apa soal museum. Saya pun hadir di museum tidak mengerti soal vitrin, tidak mengerti soal koleksi, tapi saya kira dengan diskusi-diskusi kita semakin hari semakin memahami apa yang bercerita di dalam vitrin itu,” katanya.
Dan mungkin, di situlah makna Night at Museum malam itu.
Ketika malam turun, museum justru sedang membuka percakapan.
Ketika ruang-ruang koleksi diterangi cahaya, yang muncul bukan hanya benda-benda dari masa silam, melainkan ingatan tentang orang-orang yang pernah merawatnya. Tentang generasi yang pernah bekerja di dalamnya. Tentang pengunjung yang dahulu datang sebagai anak-anak dan kemudian kembali membawa anak-anak mereka.
Di Taman Mantar, Jumat malam itu, museum tidak sedang sekadar membuka acara.
Ia sedang membuka dirinya.
Untuk dikenang.
Untuk dikritik.
Untuk diubah.
Untuk kembali dicintai.
Dan dari nostalgia seorang mantan kepala museum, kerja tim yang masih bertahan, hingga harapan tentang wajah baru yang akan datang, sebuah kalimat lama kembali menemukan maknanya: “Museum Tetap di Hatiku”. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































