Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

- Penulis

Sabtu, 22 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Museum justru tampil sebagai etalase yang memperlihatkan perjalanan panjang sebuah peradaban (foto: aks / ceraken.id)

Museum justru tampil sebagai etalase yang memperlihatkan perjalanan panjang sebuah peradaban (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram, Lombok — Malam itu, museum tidak lagi sekadar bangunan yang menyimpan benda-benda lama dalam kesunyian. Di Ruang Khasanah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang baru saja selesai direvitalisasi, cahaya, percakapan, dan perjumpaan menghadirkan suasana berbeda.

Pada Jumat malam, 21 Agustus 2026, ceraken.id menemui Ketua Dewan Kebudayaan Provinsi NTB sekaligus Guru Besar Antropologi Agama Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Abdul Wahid, bersama Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTB, Ahmad Hariri.

Pertemuan itu berlangsung dalam rangkaian “Museum at Night”, sebuah gagasan Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, yang menjadi bagian dari kegiatan “Museum Begawe 2026 Vol. 3” pada 21–23 Agustus 2026.

Ketika Museum Menjadi Ruang Pertemuan

Bagi Prof. Abdul Wahid, terbukanya kembali Ruang Khasanah bukan hanya penanda selesainya sebuah revitalisasi fisik. Lebih dari itu, malam tersebut menghadirkan sebuah kemungkinan baru dalam cara masyarakat NTB berhubungan dengan museum.

“‘Museum at Night’ yang ditandai dengan terbukanya Ruang Khasanah yang baru selesai direvitalisasi merupakan sebuah terobosan dari praktik budaya masyarakat NTB mengunjungi museum. Museum memfasilitasi kita untuk bertemu begini adalah hal yang menarik sekali,” ujarnya.

Menurutnya, perjumpaan semacam itu penting karena museum tidak seharusnya hanya dipahami sebagai ruang penyimpanan. Museum dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan sejarahnya, dengan kebudayaannya, bahkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya.

Sebelum datang ke Museum Negeri NTB, Prof. Abdul Wahid mengaku melakukan pemetaan digital terhadap pemberitaan kebudayaan NTB sepanjang 2023 hingga 2026. Dari pemetaan tersebut, Museum NTB justru muncul sebagai salah satu tema yang sangat dominan dalam pemberitaan.

“Per hari ini, ternyata dalam pemberitaan itu Museum NTB mendominasi pemberitaan-pemberitaan di media, termasuk artikel-artikel yang terkait. Museum NTB itu sangat leading sekali. Setelah kita petakan secara tematik, Museum NTB menempati peringkat tertinggi dan dominan di dalam pemberitaan-pemberitaan itu,” katanya.

Kerinduan untuk Menengok Akar

Dari pembacaan atas pemberitaan dan opini yang berkembang, Prof. Abdul Wahid melihat adanya sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar tingginya angka pemberitaan tentang museum. Ada kerinduan masyarakat untuk kembali melihat dinamika kebudayaannya sendiri.

Masyarakat, menurutnya, membutuhkan wahana bukan hanya untuk mengekspresikan kebudayaan, tetapi juga untuk menyaksikan perjalanan kebudayaan itu dari masa lampau hingga masa kini.

“Yang menarik juga bahwa ternyata di dalam pemberitaan dan opini itu, masyarakat NTB membutuhkan wahana untuk melihat, di samping mengekspresikan, tetapi juga untuk melihat bagaimana dinamika kebudayaan mereka, masa kini, kemudian juga masa lampau. Dan saya kira itulah letak pentingnya museum sebagai ruang publik,” ujarnya.

Di titik inilah, benda-benda sejarah tidak lagi cukup dipandang sebagai barang simpanan. Artefak, cagar budaya, dan berbagai koleksi yang berada di balik vitrin museum memerlukan cara pandang baru.

“Kita membutuhkan paradigma baru di dalam melihat benda-benda sejarah seperti ini, baik cagar budaya maupun artefak-artefak itu. Paradigma yang saya maksudkan adalah transformasi dari sekadar menjadikan barang ini sebagai sebuah simpanan, sebagai sebuah memori, tetapi ternyata ini penting untuk meneguhkan pendefinisian kita tentang ke-NTB-an kita,” tutur Prof. Abdul Wahid.

Ia melihat kerinduan terhadap akar kebudayaan sebagai salah satu gejala masyarakat yang sedang bergerak menuju kehidupan yang semakin kosmopolit. Semakin jauh masyarakat bergerak, semakin besar pula kemungkinan munculnya keinginan untuk menoleh kembali.

“Kita ternyata rindu. Dan sebetulnya kerinduan itu menurut saya adalah cerminan kita sedang beranjak ke masyarakat kosmopolit, karena masyarakat kosmopolit itu masyarakat yang pergi sudah jauh keberanjakannya, dan mereka membutuhkan untuk menengok ke akar. Itulah sebetulnya kecenderungan sosiologi dari masyarakat yang mulai beranjak,” katanya.

Museum dalam Haluan Kebudayaan NTB

Pandangan tentang pentingnya museum, menurut Prof. Abdul Wahid, juga menemukan tempat dalam proses penyusunan haluan pemajuan kebudayaan NTB 2026–2045 yang sedang dirancang Dewan Kebudayaan Provinsi NTB.

Baca Juga :  Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Haluan tersebut berbasis pada Objek Pemajuan Kebudayaan atau OPK. Jika Undang-Undang mengenal 10 OPK, maka melalui regulasi daerah NTB terdapat tambahan dua objek, yakni cagar budaya dan indikasi geografis.

Namun, dari proses pemetaan yang dilakukan, museum justru muncul sebagai tema tersendiri.

“Penting. Museum NTB itu jadi salah satu tema. Kami kebetulan sedang merancang Haluan Pemajuan Kebudayaan 2026–2045. Itu basis OPK. OPK itu ada 12. Menurut Undang-Undang ada 10 dan ditambah oleh Perda kita jadi 12, yakni cagar budaya dan indikasi geografis. Tapi ternyata setelah kami melakukan pemetaan, museum itu adalah sebuah tema tersendiri, di luar itu. Artinya, betapa pentingnya museum,” jelasnya.

Bagi Prof. Abdul Wahid, museum di kota-kota besar dunia bukanlah ruang yang berada di pinggiran kehidupan masyarakat. Museum justru tampil sebagai etalase yang memperlihatkan perjalanan panjang sebuah peradaban.

“Museum itu bukan last but not least. Bukan sekadar ruang publik terakhir. Tapi dia adalah etalase untuk melihat cermin dari perkembangan masyarakat. Jadi semakin maju dia, semakin masyarakat itu menampilkan museum untuk menjawab pertanyaan, how come your culture or your civilization sampai seperti ini? ‘Oh, itu lihat saja, kami punya akar yang panjang,’” katanya.

Generasi muda membutuhkan ruang untuk kembali mengenali koleksi, cerita, dan nilai-nilai yang tumbuh dari daerahnya sendiri (foto: aks / ceraken.id)

Karena itu, ia menilai perhatian terhadap museum tidak cukup hanya dibebankan kepada pengelola museum. Pemerintah daerah, Dinas Kebudayaan, hingga kementerian terkait perlu melihat museum sebagai bagian penting dari pembangunan kebudayaan.

“Saya kira harus, Dinas Kebudayaan dan pihak Kementerian. Kenapa Kementerian harus ikut turun tangan, karena NTB ini adalah salah satu wajah baru dari Indonesia menurut saya. Saya kira harus diakui itu. Selama ini orang melihat Indonesia dari Jawa, central archipelago yang lain, kota-kota lain yang sudah berkembang, tapi NTB itu adalah wajah baru Indonesia,” tegasnya.

Inovasi Kunjungan di Tengah Malam

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTB, Ahmad Hariri, melihat “Museum at Night” sebagai sebuah inovasi yang memberi pengalaman berbeda kepada masyarakat.

Ia menyebut, selama puluhan tahun Museum Negeri NTB beroperasi, kegiatan kunjungan museum pada malam hari seperti itu merupakan sesuatu yang baru.

“Kegiatan malam ini menurut saya luar biasa. Saya juga mendapat cerita bahwa ini sudah 44 tahun sejak beroperasinya museum, baru diselenggarakan suatu program yang dinamakan ‘Night at Museum’. Jadi kunjung museum di tengah malam hari, ini satu hal yang menurut saya salah satu inovasi yang menarik, satu terobosan untuk Nusa Tenggara Barat,” katanya.

Memang, menurut Hariri, model kunjungan museum pada malam hari telah diterapkan di sejumlah kota lain. Namun bagi NTB, format tersebut menghadirkan pengalaman baru, terutama ketika disandingkan dengan pembukaan kembali Ruang Khasanah yang telah mengalami penataan ulang.

“Seperti yang tadi disampaikan saat sambutan bahwa koleksi museum dan tata pamer ini belum banyak berubah setelah sekian puluh tahun. Nah, di malam ini sekaligus peresmian ruangan koleksi baru ini, yang belum lama selesai ditata ulang, sehingga ini momen yang bertepatan. Masyarakat juga animonya sangat tinggi,” ujarnya.

Hariri mengapresiasi program-program yang dapat meningkatkan kunjungan masyarakat ke museum. Baginya, museum adalah salah satu wajah kebudayaan daerah.

Baca Juga :  Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

“Tentu kami sangat mengapresiasi terkait dengan program-program yang bisa mendongkrak tingkat kunjungan masyarakat ke museum, karena bagaimanapun museum itu sebetulnya salah satu wajah dari kebudayaan kita. Wajah dari daerah kita itu adalah di museum,” katanya.

Generasi Muda dan Jejak Para Pendahulu

Di tengah derasnya globalisasi, Ahmad Hariri melihat museum memiliki peran yang semakin vital. Generasi muda membutuhkan ruang untuk kembali mengenali koleksi, cerita, dan nilai-nilai yang tumbuh dari daerahnya sendiri.

Semakin banyak anak muda yang datang ke museum, semakin besar pula peluang terjadinya perjumpaan antara generasi masa kini dengan warisan para pendahulunya.

“Semakin banyak generasi muda yang berkunjung ke museum, mengenal koleksi-koleksi museum yang berkaitan dengan daerah lokal mereka, tentu ini satu hal yang sangat baik. Apalagi di masa sekarang ini, bagaimana pengaruh globalisasi betul-betul terasa dampaknya di generasi muda,” ujarnya.

Karena itu, museum tidak hanya berurusan dengan masa lalu. Ia dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai luhur yang pernah diwariskan, sekaligus membuka ruang dialog bagi generasi yang sedang tumbuh dalam dunia yang berubah cepat.

“Peran museum untuk mengenalkan kembali bagian dari budaya kita, mungkin nilai-nilai luhur yang dulu ditinggalkan oleh para pendahulu kita, ini menjadi sangat vital,” kata Hariri.

Pandangan itu sejalan dengan suasana yang dibangun Museum Negeri NTB pada malam tersebut. Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur karena setelah beberapa windu, museum kembali menggelar kegiatan pada malam hari.

Bagi Nuralam, kehadiran masyarakat dan berbagai komunitas menjadi penanda bahwa museum tidak sedang berjalan sendiri dalam upaya membangun kebudayaan di Nusa Tenggara Barat.

“Kehadiran bapak ibu sekalian adalah satu penghargaan dan kebanggaan bagi kami bahwa museum tidak sendiri dalam membangun kebudayaan, bahwa museum memiliki teman dalam berjalan memajukan kebudayaan di Nusa Tenggara Barat,” katanya.

Malam itu sekaligus menjadi momentum pembukaan kembali Ruang Khasanah yang telah direvitalisasi. Nuralam secara khusus memberikan perhatian kepada tim kuratorial dan para pekerja museum yang terlibat dalam proses penataan ulang ruang tersebut.

Di antara koleksi yang menarik perhatian di Ruang Khasanah adalah sebuah Mahkota Emas. Dalam narasi yang tertera pada vitrin, mahkota tersebut memiliki tulisan huruf Arab dan motif bunga.

Koleksi itu diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1990-an, dibuat di Bali dan diperoleh dari Bali. Mahkota tersebut menjadi koleksi Museum Negeri NTB melalui pengadaan tahun 1997/1998 dengan Nomor Registrasi 6743.

Di balik kaca vitrin, benda itu barangkali hanya tampak sebagai artefak. Namun malam itu, di tengah ruang yang baru direvitalisasi dan percakapan tentang masa lalu, masa kini, serta masa depan kebudayaan NTB, ia seperti mengajukan pertanyaan yang lebih besar: sejauh apa masyarakat mengenal akar yang membentuk dirinya?

“Museum at Night” kemudian menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan pada malam hari. Ia menjadi peristiwa ketika museum menyalakan lampunya lebih lama, agar masyarakat memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak, memandang kembali jejak-jejak perjalanan, lalu memahami bahwa masa depan kebudayaan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru.

Kadang-kadang, ia justru bermula dari keberanian untuk membuka kembali ruang-ruang ingatan. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon
Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA