Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

- Penulis

Sabtu, 22 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kebudayaan akan terus hidup selama ada ruang untuk menampilkannya dan masyarakat yang bersedia hadir untuk merayakannya (foto: balaibahasprovinsintb / ceraken.id)

Kebudayaan akan terus hidup selama ada ruang untuk menampilkannya dan masyarakat yang bersedia hadir untuk merayakannya (foto: balaibahasprovinsintb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram Malam di Arena Luar Taman Budaya Provinsi NTB, Jumat, 21 Agustus 2026, tidak sekadar menghadirkan keramaian. Festival Begawe Beleq mempertemukan masyarakat dengan beragam ekspresi seni, bahasa, dan budaya dalam sebuah ruang bersama yang terbuka.

Di antara musik, tari, kreativitas komunitas, dan perjumpaan antarmanusia, kebudayaan seolah kembali menemukan panggungnya yang paling alami: masyarakat itu sendiri.

Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali mengambil bagian dalam perayaan budaya yang diselenggarakan Taman Budaya Provinsi NTB tersebut. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, hadir menyaksikan langsung berbagai atraksi budaya, bahasa, dan seni daerah Sasak yang berpadu dalam rangkaian pertunjukan malam.

Kehadiran berbagai unsur dalam festival itu memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam ruang arsip, buku, atau bangunan-bangunan bersejarah. Kebudayaan tumbuh ketika masyarakat datang, berkumpul, menikmati, dan mengambil bagian di dalamnya.

Ruang Pertemuan Masyarakat dan Kreativitas

Arie Andrasyah Isa memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan budaya yang secara konsisten dihadirkan setiap tahun oleh Taman Budaya Provinsi NTB. Menurutnya, festival semacam ini telah memantik keterlibatan dan antusiasme masyarakat untuk datang dan berbaur dalam arena pertunjukan.

Di ruang terbuka itu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Mereka menjadi bagian dari suasana kebudayaan yang dibangun bersama melalui bahasa, seni, musik, dan berbagai ekspresi kreatif lainnya.

Arie melihat kegiatan tersebut sebagai ruang penting bagi para seniman dan budayawan untuk menunjukkan kemampuan, gagasan, dan bakat yang mereka miliki. Karena itu, keberlangsungan festival budaya menjadi penting, terutama jika terus membuka kesempatan bagi generasi muda dan para pegiat kreatif untuk ikut mengambil peran.

Pelvist tampil membawakan enam lagu indie (av: aks / ceraken.id)

Kebudayaan, dalam konteks seperti ini, tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia bergerak, beradaptasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru melalui kreativitas generasi yang hidup pada zamannya.

Baca Juga :  Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Dua Puluh Komunitas Menghidupkan Taman Budaya

Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, dalam laporannya menyampaikan bahwa Begawe Beleq merupakan kegiatan budaya yang terus diupayakan untuk memantik animo masyarakat terhadap seni dan kebudayaan.

Sedikitnya 20 komunitas, pelaku kreatif, seniman, dan pegiat seni berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mereka menjadikan kawasan Taman Budaya sebagai ruang pertemuan antara kreativitas, hiburan, seni, budaya, dan aktivitas masyarakat.

“Harapan kami bahwa kegiatan seperti ini lebih sering dilaksanakan sehingga masyarakat, seniman, dan pelaku ekonomi kreatif dapat sering berkunjung ke Taman Budaya. Malam ini kita melihat antusias dan animo masyarakat hadir pada kegiatan ini. Kami berharap dapat memberikan kontribusi ajang seni dan budaya terbaik untuk masyarakat,” harap Lalu Suryadi saat menyampaikan laporan kegiatan.

Harapan itu menjadi penting karena Taman Budaya bukan semata-mata tempat berlangsungnya pertunjukan. Ia dapat tumbuh menjadi ruang publik kebudayaan, tempat masyarakat bertemu dengan karya-karya kreatif sekaligus memberi energi bagi seniman dan pelaku ekonomi kreatif.

Kehadiran masyarakat pada malam itu pun menjadi penanda bahwa ruang budaya masih memiliki daya tarik ketika dikemas sebagai peristiwa yang terbuka dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kebudayaan Bukan Sekadar yang Tampak

Festival Begawe Beleq juga dihadiri perwakilan Inspektorat Jenderal Kementerian Kebudayaan, Sunarto, bersama tim. Kehadiran mereka sekaligus membawa harapan agar aktivitas-aktivitas kebudayaan yang tumbuh di daerah dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indeks Pemajuan Kebudayaan.

Di ruang terbuka, masyarakat tidak hanya menjadi penonton (foto: aks / ceraken.id)

Bagi Sunarto, kegiatan seperti Begawe Beleq dapat menjadi praktik baik dalam mendorong kemajuan kebudayaan di berbagai daerah. Terlebih, NTB kini memiliki perangkat kelembagaan kebudayaan yang berdiri sebagai dinas tersendiri.

“Kebudayaan itu bukan hanya fisik, tetapi juga pelestarian kearifan lokal masing-masing daerah. Kita harus bangga berbudaya Indonesia. Kami mewakili Kementerian Kebudayaan selalu mengapresiasi dan bersemangat dalam mendampingi kegiatan-kegiatan budaya di NTB,” jelas Sunarto.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa kebudayaan memiliki wilayah yang jauh lebih luas daripada sekadar benda atau bangunan. Bahasa, tradisi, pengetahuan lokal, kesenian, nilai-nilai hidup, hingga cara masyarakat memaknai lingkungannya merupakan bagian dari kekayaan yang perlu terus dirawat.

Baca Juga :  Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Di tengah perubahan zaman, perayaan seperti Begawe Beleq menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kembali kekayaan tersebut ke tengah masyarakat.

Dari Lagu Indie hingga Tari Kreasi

Malam Begawe Beleq kemudian bergerak melalui berbagai penampilan. Pelvist tampil membawakan enam lagu indie, yakni “Semua Sama”, “Cerita Sepetak Ladang”, “Rinjani”, “Sofa Merah”, “Jalan dan Arah”, serta “Hahihuheho”.

Penampilan tersebut dilanjutkan oleh para pegiat seni lainnya yang menghadirkan lagu dan musik dengan nuansa kearifan lokal. Tari kreasi pun ikut menambah semarak panggung, menghadirkan bahasa tubuh yang memperkaya perjumpaan antara tradisi dan kreativitas masa kini.

Di situlah Begawe Beleq menemukan maknanya. Festival ini bukan hanya deretan penampilan yang berganti dari satu panggung ke panggung berikutnya. Ia menjadi ruang tempat berbagai ekspresi bertemu; musik dengan tradisi, bahasa dengan seni, seniman dengan masyarakat, serta kreativitas dengan harapan tentang masa depan kebudayaan.

Pada akhirnya, malam di Arena Luar Taman Budaya Provinsi NTB itu memperlihatkan satu hal sederhana: kebudayaan akan terus hidup selama ada ruang untuk menampilkannya dan masyarakat yang bersedia hadir untuk merayakannya. (*/aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: balaibahasaprovinsintb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon
Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA