CERAKEN.ID — Bagawe Beleq Festival yang digagas Taman Budaya Provinsi NTB memasuki hari keempat pada 24 Agustus 2026.
Malam itu, Arena Luar Taman Budaya berubah menjadi ruang perjumpaan yang cair: musik mengalun, penonton duduk bersila di rerumputan, sebagian berdiri dan menari, sementara pelaku UMKM dan kuliner meramaikan sisi lain arena.
Dua band, Jonny Bonny dan The Labman, datang dengan karakter serta misi musikal masing-masing, menyulap malam menjadi sebuah “rock ‘n’ roll night” yang terasa dekat dengan rakyat.
Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, turut menikmati suasana dari tengah penonton. Ia memilih duduk bersila di rerumputan, bukan sekadar sebagai penonton, melainkan seolah hendak menegaskan bahwa festival ini memang dirancang sebagai ruang bersama.
Baginya, cara sederhana menikmati pertunjukan itu memiliki makna: seni tidak harus berjarak dengan masyarakat.
“Saya turut menikmati langsung peristiwa malam ini, ‘rock n roll night’. Harapannya tentu saja Begawe Beleq ini bukan hanya terjadi di peristiwa malam ini, tetapi juga menjadi kegiatan reguler,” ujar Lalu Suryadi.
Dari Panggung Musik Menjadi Pesta Rakyat
Bagi Lalu Suryadi, kekuatan Begawe Beleq tidak berhenti pada panggung musik. Di dalamnya terdapat pertemuan antara seniman, musisi, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, hingga pengusaha kuliner.
Semuanya tumbuh dalam satu ruang yang sama dan dinikmati oleh masyarakat dengan cara yang sederhana.
Jonny Bonny melalui “Karmila” menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa kini (av: aks / ceraken.id)
“Kedepannya Taman Budaya NTB paling tidak bisa menjadikannya sebagai agenda rutin, karena yang terlibat bukan hanya musisi hebat tetapi juga pelaku-pelaku ekonomi kreatif, ada UMKM, ada kulineran yang khas. Jadi semacam ‘pesta rakyat’: dari rakyat dan untuk rakyat,” katanya.
Malam itu, pernyataan tersebut seperti menemukan bentuknya sendiri. Penonton tidak datang dengan protokol yang kaku. Mereka duduk di rerumputan, bercengkerama, menikmati makanan, menyaksikan pertunjukan, bahkan larut dalam gerak tubuh ketika musik mulai menemukan ritmenya.
“Duduk bersila sebagai simbol ‘merakyat’,” lanjut Lalu Suryadi.
Begawe Beleq tahun ini berlangsung selama lima hari, 21–25 Agustus 2026. Namun, gagasan yang disampaikan Kepala Taman Budaya NTB itu membuka kemungkinan lebih jauh: festival diperpanjang, lebih banyak seniman dilibatkan, dan berbagai genre seni diberi ruang.
“Begawe Beleq tahun ini kita laksanakan selama lima hari, 21–25 Agustus 2026. Mungkin besok-besok bisa seminggu, agar bisa lebih banyak seniman-seniman, musisi, dan pelaku seni juga bisa terlibat di semua genre,” ujarnya.
Ia berharap ruang tersebut tidak hanya menjadi milik musik. Seni pertunjukan lainnya dapat dikombinasikan dan dipadukan sehingga Begawe Beleq berkembang menjadi peristiwa kebudayaan yang lebih luas.
“Karmila” Dibaca Ulang, Rock ’n Roll Menemukan Zaman Baru
Di atas panggung, Jonny Bonny membawa energi rock ’n’ roll yang akrab dengan denyut musik populer. Salah satu lagu yang mereka tampilkan adalah “Karmila”, karya Farid Hardja, yang tercatat dalam album Spesial pada 1977.
Lagu yang lahir dari zaman berbeda itu kemudian hadir kembali melalui pembacaan musikal generasi hari ini. Bukan sekadar memainkan ulang, Jonny Bonny seperti membuka kembali sebuah arsip bunyi, lalu membawanya masuk ke dalam suasana kekinian.
Di tangan mereka, “Karmila” menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Rock ’n’ roll tidak hanya hadir sebagai genre, tetapi sebagai cara membaca kembali karya lama melalui energi panggung yang lebih segar.
The Labman, “Turunkan Senjata, Mainkan Gitar” membuka ruang tafsir yang luas (av: aks / ceraken.id)
Di sinilah Begawe Beleq menjadi menarik. Festival bukan semata-mata menyediakan panggung bagi karya baru, tetapi juga memungkinkan karya lama mendapatkan kehidupan baru. Musik menjadi jembatan yang mempertemukan ingatan dengan zaman.
The Labman dan Ruang Bebas dalam Musik Psikedelik
Setelah energi Jonny Bonny, The Labman menyodorkan karakter yang berbeda. Salah satu karya anyar yang mereka tampilkan berjudul “Turunkan Senjata, Mainkan Gitar”. Lagu berdurasi sekitar 6 menit 25 detik itu bergerak dalam atmosfer musik psikedelik yang mengingatkan pada gejala musikal dekade 1960-an.
Judulnya sendiri membuka ruang tafsir yang luas. “Turunkan Senjata, Mainkan Gitar” seperti mengubah bahasa konflik menjadi bahasa musikal. Senjata diturunkan, gitar dimainkan. Ketegangan dilebur ke dalam bunyi, sementara panggung menjadi ruang kebebasan ekspresi.
Musik itu tidak terasa dibangun untuk sekadar mengikuti pola yang ketat. Instrumen seperti memiliki kesempatan untuk bergerak dan saling menjawab. Penonton pun seolah diajak melayang mengikuti lapisan bunyi yang terus berkembang.
Sebagian dari mereka memilih menikmati musik dengan diam. Sebagian lainnya mulai bergerak. Ketika ritme menemukan tubuh, penonton menari. Batas antara panggung dan penonton pun perlahan mencair.
Arena Luar Taman Budaya malam itu akhirnya menjadi semacam ruang publik yang hidup. Ada pertemuan yang menghangatkan, perniagaan yang merakyat, musik yang bereksperimen, dan penonton yang datang tanpa harus membawa ukuran tertentu tentang bagaimana sebuah pertunjukan harus dinikmati.
Makanan ringan berpindah tangan. Kudapan dengan harga yang masih terjangkau kantong kecil masyarakat menemani malam. Anak-anak muda bergerak mengikuti musik, sementara sebagian lainnya cukup duduk bersila menikmati pertunjukan.
Begawe Beleq, pada titik itu, bukan lagi sekadar festival. Ia menjelma menjadi peristiwa kebudayaan yang mempertemukan musik dengan kehidupan sehari-hari.
Dan ketika Lalu Suryadi duduk bersila di rerumputan, di antara penonton dan bunyi musik yang terus mengalir, sebuah pesan sederhana terasa kuat: kebudayaan akan hidup ketika ia tidak hanya dipentaskan untuk rakyat, tetapi tumbuh bersama rakyat. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































