Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

- Penulis

Rabu, 26 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ia bukan lagi sekadar milik lembaga, melainkan milik “kami” (foto: aks / ceraken.id)

Ia bukan lagi sekadar milik lembaga, melainkan milik “kami” (foto: aks / ceraken.id)

Mataram, ceraken.id – Puncak Begawe Beleq Festival akhirnya terlewati. Selasa malam, 25 Agustus 2026, menjadi penanda berakhirnya rangkaian festival yang dalam beberapa hari terakhir menghadirkan perjumpaan antara musik, seni, komunitas, pelaku UMKM, media, dan beragam energi kreatif di ruang Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Bhavana Ethnic dan Yoiakustik tampil sebagai dua penampil terakhir, menutup festival dengan warna musikal yang berbeda, tetapi menyisakan kesan yang serupa: kehangatan, kebersamaan, dan rasa rindu yang segera muncul justru ketika panggung telah ditinggalkan.

Di antara para pelaku Begawe Beleq Festival, ada perasaan yang seolah “menggelayut” setelah seluruh rangkaian berakhir. Festival bukan hanya menjadi agenda pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan.

Karena itu, berakhirnya acara juga meninggalkan sebuah pertanyaan: apakah event seperti ini masih akan menjadi prioritas Taman Budaya Provinsi NTB pada tahun-tahun mendatang?

Bukan Sekadar Milik Taman Budaya

Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, mengakui bahwa suasana penutupan mungkin tidak seramai dan semeriah pembukaan. Namun, justru di balik kesederhanaan malam terakhir itu, ia menangkap energi lain yang lebih sulit diukur: rasa kebersamaan.

“Mungkin acara penutupan ini tidak semeriah pembukaan. Tapi rasa dan semangat kebersamaannya sangat kuat,” kata Lalu Suryadi Mulawarman kepada ceraken.id.

Miq Surya, sapaan akrabnya, menyebut seluruh pihak yang terlibat datang dengan potensi masing-masing. Mereka kemudian berbaur dalam satu euforia yang sama, membangun sebuah peristiwa kebudayaan secara bersama-sama.

Bhavana Ethnic – Musik Ekplorasi (av: aks / ceraken.id)

“Semua menyumbangkan potensi masing-masing, berbaur dalam euforia yang sama, dan banyak yang berpendapat momentum dan event ini bukan cuma milik Taman Budaya, tapi milik ‘KAMI’. Pernyataan ini yang membuat terharu,” tambahnya.

Kata “kami” menjadi menarik karena memperlihatkan perubahan cara memandang sebuah festival.

Taman Budaya tidak lagi sekadar tampil sebagai penyelenggara, sementara seniman, komunitas, pelaku UMKM, media, dan penonton hanya menjadi pelengkap. Dalam Begawe Beleq Festival, semuanya seperti menemukan ruang untuk merasa ikut memiliki.

Panggung bagi Kreativitas yang Terus Tumbuh

Apresiasi terhadap perjalanan festival juga disampaikan Kepala Seksi Penyelenggaraan Seni Budaya Taman Budaya NTB, I Nyoman Gde Adimusti TBL. Ia menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah ikut menopang berlangsungnya Begawe Beleq Festival.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh talent dalam acara Begawe Beleq Festival, seluruh pelaku UMKM, media partner, dan para sponsor yang mendukung acara ini sehingga acara ini berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Bli D’goh, demikian ia akrab disapa, berharap penyelenggaraan festival pada tahun berikutnya dapat berlangsung lebih baik dengan melibatkan lebih banyak talenta dari berbagai latar belakang seni.

“Semoga tahun depan kami, Taman Budaya NTB, bisa menyelenggarakan acara lebih baik lagi dan melibatkan lebih banyak talent yang lain. Bagaimanapun Taman Budaya merupakan tempat bagi para seniman atau pelaku seni untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Harapan itu sekaligus menjadi penegasan tentang posisi Taman Budaya sebagai ruang tumbuh. Bukan hanya tempat untuk mempertunjukkan karya yang telah selesai, tetapi juga ruang bagi proses, eksperimen, pertemuan gagasan, hingga kemungkinan lahirnya kolaborasi baru.

Bhavana Ethnic – Dewa Ruci (av: aks / ceraken.id)

Bli D’goh pun mengajak para seniman untuk terus berkarya dan melahirkan karya-karya kreatif serta inovatif. Baginya, kemajuan seni dan budaya NTB harus dibangun melalui keberanian untuk terus bergerak, agar karya-karya daerah semakin dikenal dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Baca Juga :  Klenang Menemukan Struktur: Tim Eksperimentasi Musik 2026 Mematangkan Bahasa Bunyi
Bhavana Ethnic, Mendaur Ulang Karya dan Membalik Dominasi Instrumen

Malam penutupan itu, Bhavana Ethnic hadir dengan enam sajian, yakni Intro, Eling, Bait Kata di Langit Nusa, Pilah Nurani, Dewa Ruci, dan ditutup dengan Musik Eksplorasi.

Grup ini diusung oleh Gde Agus Mega Saputra, Giyanto, Rizky, dan Sanggaita. Menariknya, penampilan tersebut lahir dari formasi terbaru yang baru sempat berproses selama dua hari sebelum naik panggung.

Namun, keterbatasan orang dan waktu justru menjadi ruang eksplorasi bagi mereka. Pentolan Bhavana Ethnic, Gde Agus Mega Saputra, mengatakan, karya-karya yang disajikan pada malam itu pada dasarnya kembali didaur ulang dan diterjemahkan dalam momentum yang berbeda.

Biasanya, Bhavana Ethnic tampil dengan formasi tujuh orang, menggunakan perpaduan alat combo band dan instrumen musik tradisi. Namun, dalam penampilan di puncak Begawe Beleq Festival, mereka justru sepakat untuk menegaskan kembali bahwa keterbatasan personel dan waktu dapat menjadi tantangan untuk melahirkan sebuah sajian baru.

Mereka kemudian mempertebal posisi instrumen tradisi di atas panggung. Sebaliknya, instrumen combo band ditempatkan dalam posisi yang berbeda dari kebiasaan mereka.

“Secara umum rata-rata musik combo band yang dominan dan kehadiran alat musik tradisi hanya sebagai pajangan dan ornamen tempelan. Jadi ini yang kita coba lihat ulang dan eksplorasi, apakah persoalan hadirnya musik tradisi masih mampu dibaca hari ini,” ujar Agus Mega.

Eksplorasi itu menjadi semacam upaya membalik kebiasaan. Jika selama ini instrumen modern kerap menjadi pusat komposisi dan instrumen tradisi hadir sebagai pelengkap, Bhavana Ethnic justru mencoba menempatkan instrumen tradisi sebagai kekuatan utama, sementara combo band menjadi elemen yang menopang dan memberi aksentuasi.

Pucat Lempung (av: aks / ceraken.id)

Hadirnya Sanggaita dan Rizky juga menjadi persinggungan baru yang menarik. Keduanya untuk pertama kalinya berproses bersama Bhavana Ethnic. Dalam waktu dua hari, keempat personel dituntut untuk menerjemahkan isi kepala masing-masing, kemudian merangkainya menjadi sebuah komposisi yang dianggap cocok oleh telinga mereka.

Proses singkat itu bukan sekadar latihan untuk memenuhi kebutuhan panggung, melainkan ruang perjumpaan berbagai gagasan musikal. Setiap personel membawa tafsirnya sendiri, lalu mencoba menemukan titik temu melalui bunyi.

“Jadi dua hari itu kita dituntut menerjemahkan masing-masing isi kepala untuk membuat komposisi yang menurut telinga berempat cocok, dan mencoba menu tersebut kita suguhkan ke penonton,” kata Agus Mega.

Bagi Bhavana Ethnic, proses seperti itulah yang menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif mereka. Tidak ada satu tafsir tunggal yang harus diikuti secara mutlak. Justru, perbedaan cara membaca dan menerjemahkan gagasan menjadi bagian dari dialektika dalam proses penciptaan.

Baca Juga :  MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

“Dialektika itu yang kita ingin capai, bahwa Bhavana mengajak siapa pun yang ikut berproses dengan terjemahannya masing-masing tanpa harus terkena intervensi,” tambahnya, pada Rabu (26/8).

Dari formasi yang baru bertemu hingga waktu latihan yang terbatas, Bhavana Ethnic memperlihatkan bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari kondisi yang serba lengkap. Kadang, justru keterbatasan memaksa para musisi untuk melihat ulang karya, membongkar kebiasaan, membalik posisi instrumen, lalu menemukan kemungkinan bunyi yang sebelumnya belum pernah mereka dengar.

Dengan demikian, enam sajian yang tampil di panggung penutupan Begawe Beleq Festival bukan sekadar daftar lagu. Ia menjadi hasil dari sebuah proses mendaur ulang gagasan, mempertemukan tafsir, serta menguji kembali posisi musik tradisi dalam lanskap musik hari ini.

Yoiakustik dan Anak Muda yang Diberi Panggung

Setelah Bhavana Ethnic, giliran Yoiakustik mengambil ruang panggung penutup. Grup ini membawakan sejumlah lagu, yaitu Kopi O, Selalu, Lelaki Kecil Berpeci, Wek Wek Wek, Titip Rindu Buat Emak, Anggrek Hutan, dan Pucat Lempung.

Yoiakustik – Kopi O (av: aks / ceraken.id)

Yoiakustik digawangi Wing Sentot Irawan pada gitar dan vokal, Arif Prasojo pada biola, Yuga Anggana pada bass, serta Gde Agus Mega Saputra pada cajón.

Usai tampil, frontman Yoiakustik, Wing Sentot Irawan, melihat Begawe Beleq Festival tidak semata dari kemeriahan acaranya. Perhatiannya justru tertuju pada kepedulian dan perhatian Kepala Taman Budaya terhadap anak-anak muda yang diberi ruang untuk terlibat.

“Bukan maksud menghargai kegiatannya, yang saya soroti adalah kepedulian dan perhatian Kepala Taman Budaya terhadap anak-anak muda,” kata Sentot kepada ceraken.id.

Menurutnya, generasi muda memiliki modal kreativitas yang besar. Potensi itu, katanya, perlu diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk tumbuh melalui pengalaman langsung.

“Notabenenya, mereka itu kreatif, banyak punya kreativitas, dan mampu mengelola suatu kegiatan,” katanya.

Sentot kemudian memberi satu kata kunci: panggung. Anak-anak muda, menurutnya, perlu diberi kesempatan untuk mengambil peran. Dari sana, mereka dapat memancing animo generasinya sendiri, menjadi lebih kreatif, sekaligus belajar bagaimana merancang dan melaksanakan sebuah kegiatan.

“Anak-anak muda itu perlu diberi panggung, sehingga bisa memancing animo kaumnya, agar bisa lebih kreatif dan belajar untuk melaksanakannya,” ujarnya.

Maka, ketika Begawe Beleq Festival berakhir, yang tersisa bukan sekadar daftar penampil atau dokumentasi selama beberapa hari penyelenggaraan. Ada rasa kepemilikan yang tumbuh, ada ruang kreatif yang telah dibuka, dan ada kerinduan yang muncul justru setelah panggung terakhir ditutup.

Barangkali, dari situlah pertanyaan tentang masa depan Begawe Beleq Festival menemukan jawabannya. Jika sebuah event telah membuat para pelakunya merasa bahwa ia bukan lagi sekadar milik lembaga, melainkan milik “kami”, maka festival itu sesungguhnya telah meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kemeriahan sebuah perhelatan. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi
Klenang Mencari Bentuk: Dari Pukulan Tradisi Menuju Eksperimentasi Bunyi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA