CERAKEN.ID — Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat capaian yang layak diapresiasi. Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) tahun 2024 berada di angka 60,41—sedikit di atas rata-rata nasional 59,98. Angka ini kerap dibaca sebagai indikator bahwa kebudayaan di NTB masih hidup, bahkan memiliki fondasi sosial yang kuat.
Namun, seperti halnya kebudayaan itu sendiri, makna sesungguhnya sering kali justru tersembunyi di balik pengalaman sehari-hari, pada hal-hal kecil yang tak tercatat dalam statistik.
Pandangan itu datang dari seorang dalang yang tak biasa. Sigit Susanto, yang dikenal lewat eksplorasi Wayang Kulit Kafka, melihat IPK bukan dari angka, melainkan dari perjumpaan-perjumpaan sederhana selama ia hidup sebagai “pendatang baru” di Lombok.
“Saya bukan ahli angka-angka,” ujarnya, “tapi saya melihat yang kasatmata.”
Dari pengamatan yang tampak sepele, Sigit justru menemukan denyut kebudayaan yang autentik. Di jalan menuju Senggigi, ia kerap melihat anak-anak pulang sekolah sambil menenteng sepatu, kaki mereka telanjang menyentuh aspal.
Sebuah pemandangan yang, baginya, nyaris tak lagi ditemukan di Jawa atau Bali.
Di kesempatan lain, ia menyaksikan anak-anak kecil berjalan pulang sambil bergandengan tangan. Keakraban yang sederhana, tetapi di zaman yang semakin individualistik, justru terasa langka.
“Di sini masih ada,” katanya, seolah menemukan sesuatu yang nyaris hilang di tempat lain.
Pengalaman lain datang secara tak terduga. Di jalan menuju Ampenan, ia melihat puluhan anak muda menggotong jenazah dengan penuh semangat.
Bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi partisipasi yang hidup, bahkan nyaris menyerupai energi kolektif dalam ritual besar. Ia menyebutnya mirip suasana ngaben di Bali, meski tanpa seragam dan berlangsung di jalan raya.
Gotong royong, dalam pandangan Sigit, bukan sekadar konsep. Ia hadir dalam tindakan nyata; dari tukang bangunan yang rela meninggalkan pekerjaan demi melayat tetangga, hingga solidaritas spontan di ruang-ruang publik.
Bahkan dalam hal kecil, seperti berkendara, ia menemukan bentuk lain dari kepedulian. Beberapa kali, orang asing menghentikan lajunya hanya untuk memberi tahu bahwa lampu sein motornya masih menyala.
Dari ibu-ibu berjilbab hingga anak muda bermotor sport, semuanya menunjukkan satu hal yang sama: perhatian terhadap sesama.
“Hal seperti ini jarang saya temui di tempat lain,” ujarnya.
Dari sisi ini, angka IPK 60,41 menemukan pembenarannya. Gotong royong, kekerabatan, dan toleransi bukan sekadar indikator; ia benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat NTB.
Namun, seperti dua sisi mata uang, Sigit juga melihat ruang yang belum selesai. Ia menyoroti isu gender sebagai titik lemah yang masih terasa kuat dalam praktik sosial.
Pengalamannya bersifat personal, tetapi justru karena itu menjadi jujur. Ia menceritakan bagaimana seorang tamu laki-laki hanya menyalaminya, tetapi mengabaikan istrinya yang duduk di samping.
Dalam kesempatan lain, seorang seniman datang berdiskusi dengannya tanpa menyapa istrinya sama sekali.
“Istri saya komplain,” katanya. “Kenapa hanya kamu yang disalami?”
Bagi Sigit, hal-hal seperti ini bukan sekadar etika sosial, melainkan refleksi dari struktur budaya yang masih patriarkis. Ia membandingkannya dengan beberapa negara lain yang pernah ia kunjungi; di mana patriarki mungkin ada, tetapi tidak selalu tampil sejelas itu dalam interaksi sehari-hari.
Di Indonesia, bahkan di banyak tempat, ruang sosial laki-laki dan perempuan sudah mulai membaur. Namun di beberapa konteks di Lombok, ia melihat batas-batas itu masih terasa.
Di titik ini, angka IPK seolah kehilangan daya jelajahnya. Ia mampu menangkap kekuatan kolektif seperti gotong royong, tetapi belum sepenuhnya menyentuh relasi kuasa yang lebih halus; termasuk bagaimana penghormatan diberikan atau tidak diberikan secara setara.
Meski demikian, Sigit tetap optimistis. Baginya, kekuatan utama NTB terletak pada fondasi sosial yang masih utuh. Keakraban, solidaritas, dan kepedulian adalah modal besar yang tidak dimiliki semua daerah.
“Ini bisa jadi kekuatan untuk bangkit,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada apa yang sudah baik. Isu gender, menurutnya, harus menjadi perhatian serius; bukan untuk menghapus tradisi, tetapi untuk menyempurnakannya.
“Jangan sampai hanya sesama laki-laki saja yang dihormati,” katanya.
Capaian IPK 60,41 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar angka. Ia adalah pintu masuk untuk membaca kebudayaan secara lebih utuh; melihat apa yang sudah hidup dengan kuat, sekaligus menyadari apa yang masih perlu diperbaiki.
Dan dari mata seorang pendatang, NTB tampak sebagai ruang yang hangat dan hidup; namun, seperti kebudayaan mana pun, tetap membutuhkan keberanian untuk berbenah dari dalam. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































