CERAKEN.ID — Di sebuah sudut Kota Mataram, berdiri sebuah bangunan yang tidak sekadar menyimpan benda-benda lama. Ia menyimpan cerita panjang tentang perjalanan keyakinan manusia.
Bangunan itu adalah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, yang sejak diresmikan pada 23 Januari 1982 menjadi ruang ingatan kolektif bagi masyarakat di dua pulau besar wilayah provinsi ini: Lombok dan Sumbawa.
Melalui koleksi dan catatan sejarahnya, museum ini merekam perjalanan panjang “Sejarah Perkembangan Agama dan Kepercayaan” di Nusa Tenggara Barat. Sebuah perjalanan yang dimulai jauh sebelum agama-agama besar masuk ke wilayah ini, ketika masyarakat masih hidup dalam alam kepercayaan yang sangat dekat dengan alam dan kekuatan gaib.
Masa Awal: Ketika Alam Menjadi Pusat Kepercayaan
Sebelum pengaruh agama-agama besar hadir di wilayah Nusa Tenggara Barat, masyarakat setempat menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam sistem ini, alam tidak sekadar menjadi ruang hidup, tetapi juga menjadi ruang sakral.
Gunung, hutan, sungai, dan batu-batu besar dipercaya memiliki roh atau kekuatan gaib yang memengaruhi kehidupan manusia.
Kepercayaan semacam ini membentuk hubungan spiritual yang kuat antara manusia dan alam. Setiap aktivitas kehidupan, mulai dari bercocok tanam, berburu, hingga membangun permukiman, sering disertai ritual yang bertujuan menjaga keseimbangan dengan kekuatan tak kasat mata.
Jejak kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya hilang hingga kini. Dalam masyarakat Sasak di Lombok, misalnya, masih dikenal kelompok kepercayaan yang mempertahankan tradisi lama, salah satunya kelompok Sasak Boda.
Kelompok ini diyakini sebagai salah satu representasi dari lapisan kepercayaan masyarakat sebelum pengaruh agama-agama besar datang.
Pengaruh Hindu-Buddha dan Perubahan Struktur Sosial
Perubahan besar mulai terjadi ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara. Gelombang pengaruh ini berkaitan erat dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan awal di Indonesia, seperti Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, dan Kerajaan Sriwijaya.
Pada masa kejayaan Sriwijaya, wilayah Nusa Tenggara Barat disebut sebagai salah satu daerah yang berada dalam lingkup pengaruh kekuasaan kerajaan maritim tersebut. Interaksi perdagangan, pelayaran, serta jaringan politik membuat gagasan keagamaan dan kebudayaan dari pusat-pusat peradaban di Sumatra dan Jawa menjangkau wilayah timur Nusantara.
Pengaruh ini kemudian semakin kuat ketika Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya di Jawa. Melalui jaringan politik, perdagangan, dan ekspansi budaya, unsur-unsur Hindu-Buddha semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Nusantara, termasuk Nusa Tenggara Barat.
Masuknya ajaran Hindu-Buddha membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan keyakinan spiritual. Ia juga membawa perubahan dalam struktur sosial masyarakat. Kehidupan masyarakat mulai tertata lebih sistematis.
Muncul kepemimpinan yang lebih terorganisir, dari kelompok-kelompok kecil hingga terbentuknya kerajaan atau kedatuan.
Dalam konteks inilah struktur kekuasaan, sistem hukum adat, hingga sistem sosial mulai berkembang lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.
Jejak Arkeologis di Lombok dan Sumbawa
Pengaruh Hindu-Buddha di Nusa Tenggara Barat tidak hanya tercatat dalam narasi sejarah, tetapi juga terlihat melalui berbagai peninggalan arkeologis yang ditemukan di beberapa wilayah.

Salah satu yang paling dikenal adalah situs Candi Tebing Wadu Pa’a di Bima yang diperkirakan berasal dari abad ke-7. Candi ini dipahat langsung pada tebing batu dan menjadi salah satu bukti kuat bahwa pengaruh Hindu-Buddha pernah berkembang di wilayah Pulau Sumbawa.
Di Pulau Lombok, jejak serupa juga ditemukan melalui arca Buddha dari perunggu yang ditemukan di Lombok Timur. Para peneliti memperkirakan arca tersebut berasal dari abad ke-9 hingga ke-10.
Selain itu terdapat pula Situs Pendua di Lombok Utara yang menunjukkan jejak pengaruh budaya Hindu-Buddha.
Meski demikian, berbeda dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, pengaruh Hindu-Buddha di Nusa Tenggara Barat tidak bertahan lama sebagai agama dominan. Seiring waktu, gelombang pengaruh baru datang dari arah berbeda.
Datangnya Islam Melalui Jalur Perdagangan
Agama Islam mulai masuk ke wilayah Lombok sekitar abad ke-13. Penyebarannya tidak lepas dari jalur perdagangan yang sejak lama menghubungkan wilayah Nusantara dengan berbagai pusat perdagangan di Asia.
Para pedagang dari Jawa, Palembang, Banten, Gresik, hingga Sulawesi memainkan peran penting dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat pesisir.
Namun pada tahap awal, penyebarannya belum merata. Islam lebih dahulu berkembang di kawasan pesisir yang menjadi pusat interaksi perdagangan.
Perkembangan yang lebih luas terjadi pada abad ke-16 ketika seorang ulama dari Jawa, Sunan Prapen, datang untuk menyebarkan Islam di Lombok. Dari pulau ini, dakwah Islam kemudian meluas ke wilayah lain di Nusa Tenggara Barat, termasuk Sumbawa, Dompu, hingga Bima.
Di Pulau Sumbawa sendiri, penyebaran Islam juga dipengaruhi oleh ulama-ulama dari kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17 atau sekitar tahun 1018 Hijriah.
Namun proses penyebaran ini tidak selalu berlangsung mudah. Para penyebar Islam menghadapi masyarakat yang telah memiliki sistem kepercayaan kuat. Akibatnya, proses islamisasi berlangsung secara bertahap dan melahirkan berbagai bentuk adaptasi budaya.
Wetu Telu dan Keragaman Praktik Keagamaan
Dalam proses penyebaran Islam di Lombok, muncul beberapa kelompok praktik keagamaan yang menunjukkan adanya perpaduan antara ajaran lama dan ajaran baru.
Beberapa kelompok yang dikenal dalam sejarah masyarakat Lombok antara lain Sasak Boda, Waktu Lima, dan Waktu Tiga atau yang lebih dikenal sebagai Islam Wetu Telu.
Kelompok Waktu Lima merujuk pada masyarakat yang menjalankan praktik Islam secara ortodoks, termasuk salat lima waktu. Sementara Wetu Telu merupakan bentuk sinkretisme antara kepercayaan pra-Islam, tradisi lokal, dan ajaran Islam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa agama di Nusantara sering berkembang melalui proses adaptasi budaya yang panjang. Alih-alih menggantikan sepenuhnya sistem kepercayaan lama, agama baru sering berinteraksi dengan tradisi yang sudah ada.
Warisan Islam dalam Koleksi Museum
Jejak perkembangan Islam di Nusa Tenggara Barat juga tersimpan dalam berbagai koleksi di Museum Negeri NTB.

Beberapa benda yang berkaitan dengan tradisi Islam yang disimpan di museum antara lain sungkup masjid dari Sumbawa, kempu dan ganta sebagai tempat beras fitrah dari Bima, rehan atau alas Al-Qur’an dari Lombok, serta Al-Qur’an tulis tangan yang berasal dari Lombok.
Selain itu terdapat pula benda-benda seperti takepan doa yang mencerminkan tradisi literasi keagamaan masyarakat masa lalu.
Benda-benda ini menjadi bukti bahwa tradisi Islam di Nusa Tenggara Barat tidak hanya berkembang melalui institusi keagamaan, tetapi juga melalui praktik budaya sehari-hari.
Tradisi Hindu dalam Koleksi Ritual
Selain koleksi Islam, museum ini juga menyimpan berbagai perlengkapan ritual agama Hindu yang digunakan dalam upacara Panca Yadnya.
Dalam ajaran Hindu dikenal lima jenis upacara utama yang disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya, Rsi Yadnya, dan Butha Yadnya. Setiap upacara memiliki tingkat pelaksanaan yang berbeda, mulai dari nista (kecil), madya (sedang), hingga utama (besar).
Peralatan ritual yang tersimpan di museum antara lain blakas pengentas yang digunakan dalam prosesi kematian, patung lembu sebagai tempat prasasti atau simbol pemujaan, talam, ceret untuk air suci, sangku beralaskan bokor, pratima sebagai lambang pemujaan dewa, dulang, serta pedupaan.
Koleksi ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan Hindu juga menjadi bagian penting dari kehidupan budaya di Nusa Tenggara Barat, terutama melalui komunitas Bali yang menetap di Lombok sejak abad ke-9 dan semakin berkembang setelah kekuasaan kerajaan Bali di Lombok pada abad ke-17.
Museum sebagai Penjaga Ingatan
Hari ini, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Ia juga menjadi ruang edukasi dan penelitian bagi masyarakat yang ingin memahami perjalanan panjang kebudayaan di wilayah ini.
Menurut Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, museum saat ini tengah mempersiapkan sebuah langkah penting dalam memperkenalkan warisan budaya daerah ke panggung internasional.
Pada Juni 2026 mendatang, museum akan terlibat dalam peluncuran buku berjudul Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok & Bali yang akan digelar di Adelaide, Australia. Buku ini mengangkat hubungan budaya antara Lombok dan Bali melalui tradisi tekstil yang berkembang di kedua pulau.
Dalam acara tersebut, Lalu Muhamad Iqbal dijadwalkan menjadi pembicara (keynote speaker), sementara Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menyatakan kesiapannya memberikan sambutan dan pengantar dalam buku tersebut.
Langkah ini menunjukkan bahwa museum tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membangun jembatan antara warisan budaya lokal dengan percakapan global.
Sejarah perkembangan agama dan kepercayaan di Nusa Tenggara Barat adalah cerita tentang perjumpaan berbagai budaya. Animisme dan dinamisme, Hindu-Buddha, serta Islam bertemu dalam perjalanan panjang yang membentuk identitas masyarakat hari ini.
Melalui koleksi dan catatan sejarahnya, Museum Negeri NTB membantu masyarakat memahami bahwa keberagaman keyakinan bukanlah sesuatu yang baru. Ia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat di dua pulau ini.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, museum menjadi pengingat bahwa masa depan sebuah masyarakat sering kali ditentukan oleh seberapa baik ia memahami masa lalunya.
Dan di ruang-ruang sunyi museum itulah, sejarah terus berbicara. (aks)



























































