Menenun Diplomasi dari Lombok ke Adelaide

- Penulis

Rabu, 25 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Gubernur sebagai Duta Budaya (Foto: Museum NTB/ceraken.id)

Gubernur sebagai Duta Budaya (Foto: Museum NTB/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Undangan itu datang dari seberang samudra. Bukan sekadar surat elektronik biasa, melainkan penanda bahwa wastra Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah bergerak menembus batas negara.

Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Ahmad Nuralam, mengungkapkan bahwa Gubernur NTB diundang menjadi pembicara dalam peluncuran buku Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok & Bali yang akan digelar Juni 2026 di Adelaide, Australia.

Undangan itu dikirim langsung oleh Art Gallery of South Australia (AGSA) dan ditandatangani direkturnya, Jason Smith. Momen peluncuran buku akan dirangkaikan dengan pameran bersama antara AGSA dan Museum Negeri NTB di Kota Adelaide.

Sebuah kolaborasi lintas negara yang mempertemukan dua pulau, dua tradisi, dalam satu benang kebudayaan.

Gubernur sebagai Duta Budaya

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang akrab disapa Mamiq Iqbal, diminta menjadi keynote speaker. Alasannya bukan semata jabatan, melainkan kontribusinya dalam buku tersebut melalui kata sambutan yang mempertegas posisi NTB dalam diplomasi budaya.

Selain gubernur, Fadli Zon juga diminta memberikan sambutan dan pengantar. Konfirmasi dari Menteri Kebudayaan itu, menurut Ahmad Nuralam, telah diterima langsung dan menjadi sinyal dukungan pemerintah pusat terhadap inisiatif kebudayaan NTB.

Buku ini sendiri disponsori oleh kolektor asal Australia, Michael Abbott, yang selama ini dikenal memiliki perhatian besar terhadap tekstil Asia Tenggara. Ia bukan sekadar kolektor, tetapi juga penghubung antara komunitas seni Australia dan kekayaan wastra Indonesia.

Bagi NTB, kehadiran gubernur sebagai pembicara utama menegaskan bahwa diplomasi budaya bukan agenda sampingan, melainkan bagian dari strategi pembangunan daerah.

Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok & Bali diperkirakan setebal 500 halaman. Judulnya sendiri menyiratkan gagasan besar: Lombok dan Bali mungkin terpisah laut, tetapi terhubung oleh tradisi tekstil yang saling berkelindan.

Mempertegas posisi NTB dalam diplomasi budaya (Foto: Museum NTB/ceraken.id)

Buku ini dieditori oleh James Bennett, Ph.D., seorang Indonesianis asal Australia yang memiliki keilmuan mendalam tentang peradaban Islam di Asia Tenggara. Kehadirannya sebagai editor memberi bobot akademik sekaligus jembatan pemahaman lintas budaya.

Baca Juga :  Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Sejumlah penulis lokal turut ambil bagian, di antaranya H. Khaerul Anwar, Bunyamin, Salsabila Luqyana, Ahmad Sugeng, dan lainnya. Mereka mengulas beragam aspek wastra Lombok: mulai dari corak, warna, benang, teknik pewarnaan alami, hingga bahan yang digunakan dalam menenun kain tradisional seperti songket dan limpot umbaq.

Wastra dalam konteks ini bukan sekadar kain. Ia adalah teks budaya, menyimpan simbol, nilai sosial, struktur ekonomi, bahkan kosmologi masyarakat. Setiap motif memiliki cerita; setiap warna memiliki makna; setiap helai benang adalah hasil kerja tangan dan kesabaran turun-temurun.

Diplomasi yang Membumi

Ahmad Nuralam menyebut terbitnya buku ini sebagai bukti nyata diplomasi budaya dan kerja sama internasional yang digagas Pemerintah Provinsi NTB mendapat sambutan positif dari kalangan internasional.

“Pelaksanaan pameran bersama dan peluncuran buku ini memberikan keuntungan besar bagi kebudayaan NTB, khususnya budaya masyarakat Lombok di bidang wastra,” ujarnya.

Diplomasi kebudayaan berbeda dari diplomasi politik atau ekonomi. Ia bekerja melalui rasa, melalui estetika, melalui penghargaan terhadap tradisi.

Pameran bersama di Adelaide bukan sekadar memamerkan kain, melainkan menghadirkan narasi tentang identitas, sejarah, dan kreativitas masyarakat Lombok dan Bali.

Dalam konteks global yang semakin terhubung, pengakuan internasional terhadap wastra lokal memiliki dampak luas. Ia membuka peluang kolaborasi riset, residensi seniman, pertukaran kuratorial, hingga penguatan ekonomi kreatif berbasis tradisi.

Bagi Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Negeri NTB, Salsabila Luqyana, keterlibatan dalam buku ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab.

“Saya merasa sangat bangga dan terhormat menjadi bagian dari buku ini. Buku ini berperan penting dalam memperkaya historiografi Lombok,” ujarnya.

Ia bekerja melalui rasa, melalui estetika, melalui penghargaan terhadap tradisi. (Foto: Museum NTB/ceraken.id)

Pernyataan itu menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar publikasi prestisius, tetapi bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah daerah. Historiografi Lombok selama ini lebih banyak ditulis dari perspektif politik dan kerajaan.

Baca Juga :  Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

Melalui buku ini, tekstil yang kerap dianggap domestik dan feminim, diangkat sebagai sumber sejarah yang sahih.

Dalam setiap motif songket atau limpot umbaq, tersimpan jejak relasi dagang, pengaruh budaya luar, hingga adaptasi masyarakat terhadap lingkungan. Menenun berarti merawat ingatan kolektif.

Menguatkan Posisi di Panggung Dunia

Kehadiran buku ini diharapkan memperkuat posisi wastra Lombok dan Bali dalam percaturan budaya internasional. Australia, sebagai salah satu mitra strategis Indonesia, memiliki komunitas akademik dan kolektor yang aktif menaruh perhatian pada tekstil Asia Tenggara.

Pameran di Adelaide akan menjadi etalase yang memperlihatkan bahwa NTB tidak hanya dikenal melalui panorama alamnya, tetapi juga melalui kekayaan budaya yang hidup. Jika selama ini Lombok identik dengan pantai dan gunung, maka kini ia hadir melalui benang dan motif.

Undangan dari AGSA menjadi simbol bahwa karya-karya tenun Lombok telah melampaui batas lokalitas. Ia diterima sebagai bagian dari wacana seni global.

Pada akhirnya, Two Islands, One Thread bukan hanya judul buku, melainkan metafora hubungan. Dua pulau, dua bangsa, dua tradisi, diikat oleh satu benang kebudayaan.

Bagi NTB, ini adalah momentum untuk memperlihatkan bahwa diplomasi tidak selalu harus dilakukan di meja perundingan formal. Ia bisa lahir dari ruang pameran, dari halaman buku, dari sehelai kain yang ditenun dengan kesabaran.

Di Adelaide nanti, ketika gubernur NTB berdiri sebagai keynote speaker, yang berbicara bukan hanya seorang kepala daerah. Yang hadir adalah representasi masyarakat penenun di desa-desa Lombok, para perajin yang menjaga tradisi, serta generasi muda yang belajar membaca motif sebagai warisan.

Dari Lombok ke Adelaide, benang itu direntangkan. Dan seperti tenunan yang baik, ia hanya akan kuat jika setiap helainya saling mengikat, saling menguatkan.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan museum ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA