Menyerap Suara Alam di Sembalun: Ikhtiar Taman Budaya NTB Merumuskan Wajah Baru Musik Tradisi

- Penulis

Rabu, 22 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Musik tradisi perlu hadir di ruang publik dengan wajah baru, tanpa kehilangan akar dan identitasnya (foto: d'goh / ceraken.id)

Musik tradisi perlu hadir di ruang publik dengan wajah baru, tanpa kehilangan akar dan identitasnya (foto: d'goh / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi yang cerah di halaman UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rabu, 22 Juli 2026, menjadi penanda dimulainya satu perjalanan penting bagi para seniman tradisi. Tim Eksperimentasi Musik 2026 secara resmi diberangkatkan menuju Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Pelepasan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengembangan musik tradisi Lombok.

Di kaki Gunung Rinjani, para seniman diharapkan tidak hanya membawa alat musik dan pengetahuan artistik mereka, tetapi juga membuka ruang batin untuk mendengarkan suara alam, merasakan denyut kebudayaan, dan merumuskan kembali bagaimana musik tradisi dapat hadir relevan di tengah masyarakat kontemporer.

Menyatukan Rasa dan Gagasan

Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menegaskan bahwa workshop di Sembalun memiliki tujuan yang lebih mendalam dibanding sekadar proses penciptaan karya.

“Setidaknya, dengan adanya workshop di Sembalun, suasana alam dan suara alam bisa menginspirasi serta memperkuat musik yang akan dihasilkan,” ujarnya dalam sambutan pelepasan.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang untuk menyatukan visi, misi, kebersamaan, passion, dan gagasan di antara para pelaku seni. Keterlibatan para seniman dari berbagai latar belakang diharapkan mampu menyuarakan beragam mazhab seni yang tumbuh di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Pulau Lombok.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kualitas dalam setiap proses kreatif. Eksperimentasi yang dilakukan tidak boleh berhenti pada rutinitas tahunan, tetapi harus melalui proses kajian dan penelitian yang mendalam sehingga karya yang lahir dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun kultural.

Baca Juga :  Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

“Kita merepresentasikan masyarakat Lombok, khususnya musik klenang dan cilokaq. Paling tidak, para pelaku musik tradisi itu merasa terwakili dengan musik publik yang akan kita buat,” katanya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga bentuk lama, tetapi juga menghadirkan ruang pembaruan agar tradisi dapat terus hidup dan diterima oleh generasi baru.

Mencari Nada dari Alam Sembalun

Bagi Tim Eksperimentasi Musik 2026, Sembalun dipilih bukan tanpa alasan. Lanskap pegunungan, udara yang sejuk, serta keheningan alam diyakini mampu membuka ruang imajinasi dan memperkaya proses penciptaan.

Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. Lalu Agus Fathurrahman, menjelaskan bahwa workshop akan diawali dengan diskusi konseptual sebelum memasuki fase perenungan artistik.

“Pada malam hari kami akan mencoba menyerap suasana alam, suara alam, dan mungkin sekitar setengah jam kita hening. Setelah itu baru kita merancang bentuk karya yang akan dikembangkan,” ujarnya.

Bagi para seniman, keheningan sering kali menjadi medium penting untuk menemukan bunyi-bunyi yang selama ini terabaikan. Alam bukan sekadar latar, melainkan mitra dialog yang memungkinkan lahirnya komposisi baru.

Harapannya, para peserta dapat mengakrabi suara angin, desir dedaunan, gemericik air, serta resonansi pegunungan yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa musikal. Dari proses itulah kreativitas baru diharapkan tumbuh dan memberi arah baru bagi musik tradisi NTB pada masa mendatang.

Menemukan Jejak Nada Tradisi

Sebelum workshop digelar, tim telah melakukan observasi terhadap musik klenang dan cilokaq di sejumlah lokasi. Dari penelitian lapangan tersebut ditemukan adanya hubungan menarik antara pola musikal tradisi dengan aktivitas budaya masyarakat.

Baca Juga :  Meriri Gubuk: Membaca Kampung, Menemukan Jati Diri Bersama

“Obsernasi di dua tempat untuk musik klenang dan satu tempat di musik cilokaq dirasa cukup mewakili. Dari segi nada kita sudah menemukan nada dasarnya, model petikan pada cilokaq maupun model pukulan pada klenang,” jelas H. Lalu Agus Fathurrahman.

Temuan yang paling menarik adalah adanya keselarasan antara pola ritmis musik klenang dengan tradisi Rantoq, yakni aktivitas menumbuk padi pada lumpang panjang, serta kesamaan dengan pola bunyi dalam ritual Grangtum di Lombok Utara.

“Nada pukulan klenang yang kita jumpai itu sejalan dengan Rantoq maupun musik ritual Grangtum. Nah, di sana kita menemukan adanya keselarasan,” tambahnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa musik tradisi sesungguhnya lahir dari pengalaman hidup masyarakat. Bunyi-bunyian yang tercipta bukan sekadar hasil estetika, melainkan representasi dari ritme kerja, ritual, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Di tengah derasnya arus budaya populer, upaya Tim Eksperimentasi Musik 2026 menjadi penting sebagai jembatan antara pelestarian dan pengembangan. Tradisi tidak diposisikan sebagai artefak yang beku, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus bergerak mengikuti zaman.

Seperti yang ditegaskan Lalu Suryadi Mulawarman, semangat “NTB Makmur Mendunia” juga harus diwujudkan melalui kebudayaan. Musik tradisi perlu hadir di ruang publik dengan wajah baru, tanpa kehilangan akar dan identitasnya.

Dari Sembalun, di bawah bayang-bayang Rinjani dan di antara suara alam yang sunyi, para seniman tengah merancang kemungkinan baru: menjadikan klenang dan cilokaq tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai suara masa depan kebudayaan Nusa Tenggara Barat. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA