Saat Rumah Itu Hilang: Kesunyian yang Dinyanyikan Nusaria dalam “Tak Punya Pulang”

- Penulis

Minggu, 7 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Nusaria: Yuga Anggana (kiri), Sangga Boemi (kanan) hadir dengan "Tak Punya Pulang". (Foto: ist / ceraken.id)

Nusaria: Yuga Anggana (kiri), Sangga Boemi (kanan) hadir dengan "Tak Punya Pulang". (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Belum genap dua bulan sejak single debut “Tanpa Nama” memperkenalkan nama Nusaria kepada publik musik Indonesia, duo asal Lombok yang digawangi Yuga Anggana dan Sangga Boemi kembali hadir dengan karya terbaru berjudul Tak Punya Pulang.

Dirilis pada 5 Juni 2026 di berbagai platform musik digital, lagu ini memperlihatkan langkah yang semakin matang dalam membangun identitas musikal mereka.

Jika lagu pertama berbicara tentang kegelisahan hubungan tanpa status, maka Tak Punya Pulang mengajak pendengar memasuki wilayah emosional yang lebih sunyi: kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat kembali.

Namun alih-alih menjadikan kesedihan sebagai pusat pertunjukan, Nusaria memilih jalan yang lebih tenang dan reflektif.

Menolak Melodrama di Tengah Lagu Kehilangan

Hal pertama yang terasa berbeda dari lagu ini adalah keberaniannya menolak pola umum lagu-lagu sedih yang kerap dipenuhi ledakan emosi.

Nusaria justru membuka lagu dengan nuansa akor mayor dan tempo yang tenang. Pilihan yang sekilas terasa bertentangan dengan tema kehilangan yang diangkat.

Namun di situlah letak kekuatan lagu ini. Kesedihan tidak ditampilkan sebagai luapan, melainkan sebagai sesuatu yang dipendam dan diterima perlahan.

“Tokoh dalam lagu ini sedih, tetapi seolah berusaha tetap tegar. Ada perasaan kehilangan yang besar, tetapi ada juga usaha untuk menahan diri agar tidak larut sepenuhnya,” ujar Yuga menjelaskan pilihan musikalnya.

Pendekatan tersebut membuat Tak Punya Pulang tidak memaksa pendengar untuk menangis. Lagu ini justru bekerja secara diam-diam, meninggalkan gema yang terus tinggal bahkan setelah musik berhenti dimainkan.

Rumah yang Bukan Lagi Sebuah Tempat

Secara lirik, lagu ini berputar pada satu kata yang sederhana tetapi sarat makna: rumah. Bukan cinta. Bukan pula kehilangan. Rumah.

Pilihan kata tersebut membuat lagu ini bergerak melampaui kisah romansa biasa. Ketika seseorang menyebut orang lain sebagai rumah, yang diungkapkan bukan hanya rasa sayang, melainkan rasa bergantung secara emosional. Rumah menjadi simbol tempat kembali, tempat berteduh, sekaligus sumber identitas.

Kesadaran itu langsung hadir sejak bait pembuka:

Baca Juga :  MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

“Kemana aku harus pulang
Sedang rumah itu kini hilang.”

Pertanyaan tersebut bukanlah soal arah atau lokasi. Ia merupakan pertanyaan eksistensial tentang bagaimana seseorang melanjutkan hidup ketika tempat kembali itu tidak lagi ada.

Dalam konteks itu, kehilangan menjadi lebih dari sekadar perpisahan. Ia berubah menjadi kehilangan bagian dari diri sendiri.

Tiga Kata yang Mengubah Seluruh Cerita

Salah satu keputusan naratif paling menarik dalam Tak Punya Pulang adalah cara Nusaria menahan informasi hingga penghujung lagu.

Sepanjang verse dan chorus awal, pendengar dapat mengira lagu ini berkisah tentang pasangan yang pergi meninggalkan seseorang. Chorus terdengar akrab dan intim:

“Kau adalah rumahku
Tempat hatiku berteduh
Tempat kisahku berlabuh.”

Namun menjelang akhir lagu, muncul satu kalimat singkat yang mengubah seluruh makna cerita:

“Sejak kau menutup mata.”

Tiga kata tersebut menutup semua kemungkinan tafsir yang sebelumnya terbuka. Pendengar dipaksa kembali menelusuri seluruh lagu dari awal dengan pemahaman yang baru: ini bukan sekadar kisah perpisahan, melainkan tentang kematian dan kehilangan yang permanen.

Menurut Yuga, ruang interpretasi itu memang sengaja dipertahankan.

“Kami sengaja tidak menyebut siapa sosok itu. Setiap orang punya rumahnya masing-masing. Bisa pasangan, bisa sahabat, bisa ayah-ibu, bisa siapa saja yang selama ini menjadi tempat mereka kembali,” katanya.

Dengan demikian, lagu ini tidak berbicara tentang satu orang tertentu, melainkan tentang siapa pun yang pernah menjadi tempat pulang bagi seseorang.

Musik yang Menahan Luka, Bukan Memamerkannya

Kekuatan Tak Punya Pulang tidak hanya terletak pada liriknya, tetapi juga pada berbagai keputusan musikal yang dibuat secara sadar.

Salah satunya adalah penggunaan modulasi atau perpindahan nada dasar di tengah lagu. Dalam banyak lagu pop, modulasi sering dimanfaatkan sebagai alat untuk menciptakan efek dramatis. Nusaria memilih fungsi yang berbeda.

Perpindahan nada tersebut menjadi batas psikologis antara dua ruang kesadaran. Sebelum modulasi, tokoh dalam lagu berbicara kepada dirinya sendiri. Setelahnya, ia mulai berbicara langsung kepada sosok yang telah hilang.

Baca Juga :  Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Dengan kata lain, modulasi tidak sekadar menjadi kejutan musikal, melainkan perpindahan perspektif dan emosi.

Pilihan serupa juga tampak pada karakter vokal Sangga Boemi yang tidak berusaha meluapkan kesedihan secara berlebihan. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang mengenang luka lama yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Luka yang masih terasa, tetapi tidak lagi berteriak.

Permainan piano dari Lian Haspalian memperkuat atmosfer tersebut. Kehadirannya bukan sebagai ornamen, melainkan seperti fragmen kenangan yang terus muncul di sela-sela ingatan.

Melalui dua single yang dirilis dalam rentang kurang dari dua bulan, Nusaria mulai menunjukkan pola artistik yang konsisten: musik yang sederhana secara bentuk, tetapi kaya secara emosi dan narasi. Kesederhanaan yang mereka tawarkan bukan karena keterbatasan, melainkan karena pilihan estetik yang sadar.

Pada akhirnya, Tak Punya Pulang bukan lagu yang ingin membuat pendengarnya tenggelam dalam kesedihan. Lagu ini justru mengingatkan sesuatu yang sering terlupakan di tengah kesibukan hidup sehari-hari: pentingnya kembali kepada orang-orang yang selama ini menjadi rumah.

“Kalau ada pesan yang ingin kami sampaikan melalui lagu ini, mungkin sederhana saja. Sering-seringlah pulang kepada orang-orang yang kita anggap rumah sebelum kita kehilangannya,” tutup Yuga.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun seperti lagu ini sendiri, maknanya baru terasa sepenuhnya ketika kesempatan untuk pulang ternyata sudah tidak ada lagi.

Tersedia di Berbagai Platform Digital

Bagi para penikmat musik yang ingin mendengarkan langsung karya terbaru Nusaria, Tak Punya Pulang kini telah tersedia di berbagai platform musik digital. Lagu ini dapat diakses melalui layanan streaming Spotify di:

Sementara video dan audio resminya juga dapat dinikmati melalui kanal YouTube di:

Kehadiran lagu ini menegaskan langkah Nusaria sebagai salah satu kelompok musik independen asal Lombok yang tengah membangun identitasnya melalui karya-karya dengan kedalaman cerita dan pendekatan musikal yang reflektif.

Setelah Tanpa Nama dan kini Tak Punya Pulang, publik musik menanti ke mana perjalanan naratif duo ini akan berlabuh berikutnya. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: nusaria

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA