Tujuh Perjalanan Sunyi: Disiplin Kreatif dan “Ide Gila” Ary Juliyant

- Penulis

Kamis, 5 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ary Juliyant tampak nyaman dengan ketidakpastian itu. Ia tidak memaksa makna menjadi tunggal (Foto: room project/ceraken.id)

Ary Juliyant tampak nyaman dengan ketidakpastian itu. Ia tidak memaksa makna menjadi tunggal (Foto: room project/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sebuah ruang di Rplay Lombok, kamera menyala, alat musik tersusun sederhana, dan percakapan mengalir tanpa beban. Beberapa waktu lalu, Rahadyan Shalat, yang akrab disapa Kang Oseng, mengeksekusi sebuah konten yang ia sebut lahir dari “ide gila”.

Formatnya bertajuk Skena – In Particular. Sosok yang dipilih sebagai subjek adalah Ary Juliyant, musisi yang oleh banyak kalangan disebut sebagai “living legend” di lingkar musik Lombok. Temanya: Tujuh Perjalanan Sunyi Ary Juliyant.

“Sebenarnya ini eksekusi dari sebuah ‘ide gila’,” ujar Kang Oseng, Rabu, 4 Maret 2026.

Dalam percakapan bersama ceraken.id, Kang Oseng tak banyak berteori tentang alasan memilih Ary.

“Kenapa Ary Juliyant, bingung saya juga. Mungkin karena berdiskusi dengan musisi soal konsep konten lebih mudah. Jadi lebih cepat buat eksekusi.”

Jawaban itu terdengar ringan, tapi justru di situlah letak kuncinya: spontan, cair, dan tidak dibebani glorifikasi.

Namun publik tentu membaca lebih dari sekadar spontanitas. Kiprah dan dedikasi Ary di jalur musik independen Lombok bukanlah hal sepele. Ia dikenal insidental, dalam arti paling positif.

“Di ruang apa, dengan kondisi apa pun bisa jalan,” kata Kang Oseng. Sebuah pengakuan tentang daya lenting dan daya hidup seorang musisi yang tidak bergantung pada panggung besar atau tata cahaya gemerlap.

Skena sebagai Ruang Eksperimen

Format Skena – In Particular bukan sekadar sesi tampil dan rekam. Ia seperti ruang laboratorium kecil bagi gagasan yang ingin diuji tanpa pretensi.

Dalam ingatan sebagian pelaku musik lokal, “ide gila” semacam ini terasa khas Lombok, lahir dari komunitas, bukan industri. Namun Kang Oseng menepis anggapan itu. “Di luar Lombok juga banyak…”

Mungkin benar. Tetapi di Lombok, eksperimen seringkali lahir bukan karena fasilitas melimpah, melainkan karena keterbatasan yang memaksa orang berpikir kreatif. Di tengah ekosistem musik yang belum sepenuhnya mapan secara industri, musisi dan kreator konten membangun jalannya sendiri.

Narasi “Tujuh Perjalanan Sunyi” sendiri memancing rasa ingin tahu. Apa maknanya? Kang Oseng menjawab lugas: tujuh lagu, tujuh alat musik, tayang di bulan tujuh.

Sedangkan “perjalanan sunyi” adalah proses pengerjaan yang lahir dari obrolan dan diskusi bersama Ary.

Sunyi di sini bukan kesepian. Ia adalah kerja yang tidak selalu riuh, tetapi tekun.

IMYSM: Misteri yang Dibiarkan Hidup

Lagu pertama, IMYSM, membuka ruang tafsir. Ary menyebutnya mengandung misteri dan tak perlu dijelaskan. “IMYSM itu isme,” katanya. Sebuah permainan diksi yang sengaja dibiarkan menggantung.

Baca Juga :  Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Format Skena – In Particular ruang laboratorium kecil bagi gagasan yang ingin diuji tanpa pretensi (Foto: room project/ceraken.id)

Dalam tradisi musik independen, misteri bukan strategi pemasaran, melainkan sikap. Tidak semua hal perlu diterangkan. Ada ruang bagi pendengar untuk menduga, mengira, dan mungkin keliru. Di situ letak kebebasannya.

Ary tampak nyaman dengan ketidakpastian itu. Ia tidak memaksa makna menjadi tunggal. Dalam dunia yang serba cepat memberi label, membiarkan sesuatu tetap ambigu adalah bentuk keberanian.

Balada Bumiku: Musik sebagai Tanggung Jawab

Berbeda dengan IMYSM yang cair, Balada Bumiku berdiri di atas kegelisahan yang konkret. Ary mengaku lagu ini lahir ketika ia aktif sebagai pencinta alam. Pertanyaan tentang kontribusi pribadi mengemuka: apa yang bisa ia lakukan?

Jawabannya sederhana tapi tegas, musik sebagai medium pengingat.

Balada Bumiku berbicara tentang bumi yang tampak indah dari kejauhan, tetapi menyimpan kerusakan jika dilihat dari dekat. Sebuah metafora ekologis yang relevan lintas waktu. Di sini, Ary menempatkan musik bukan sekadar ekspresi diri, melainkan saluran advokasi sunyi.

Ia tidak berteriak. Ia menyanyi.

Plecing Kangkung: Pedas sebagai Metafora

Judul Plecing Kangkung terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun prosesnya panjang. Catatan dan coretan tentang lagu ini tersimpan enam hingga tujuh tahun sebelum menemukan nada yang pas.

“Makanya mungkin itu yang membuat saya banyak rongsokan,” ujar Ary, merujuk pada tumpukan ide yang belum selesai.

Plecing kangkung bukan sekadar kuliner khas Lombok. Ia menjadi metafora tentang pedasnya kehidupan, tentang ucapan orang yang bisa setajam cabai. Pedas yang mengejutkan, tetapi juga membangunkan.

Ada humor, ada refleksi. Lagu ini menunjukkan bahwa inspirasi bisa datang dari meja makan, lalu menjelma menjadi perenungan sosial.

Ni Citta Ramaniya: Bahasa sebagai Perjalanan

Judul berbahasa Sanskerta, isi lirik berbahasa Inggris. Ni Citta Ramaniya seperti eksperimen linguistik. “Ramaniya itu indah,” kata Ary. Ia tertarik pada bahasa kuno, pada akar-akar yang saling berkelindan.

Ary menyebut perkembangan bahasa Inggris yang berakar pada rumpun Germanik dan koneksinya dengan istilah “Arya”. Ia juga menyinggung Sanskerta sebagai bahasa kaum Arya.

Terlepas dari kompleksitas sejarah linguistiknya, yang menarik adalah cara Ary memandang bahasa sebagai organisme hidup, saling meminjam, saling memengaruhi.

Menggabungkan Sanskerta dan Inggris dalam satu karya bukan sekadar gaya. Ia adalah pernyataan bahwa identitas tak pernah beku. Seperti musik, bahasa terus bergerak.

Nyanyian Gunung dan Puncak Tak Bergeming: Rinjani sebagai Metafora Hidup

Di era 1990-an, gunung menjadi ruang kontemplasi bagi Ary. Nyanyian Gunung merekam masa ketika ia aktif sebagai pencinta alam. Gunung bukan sekadar bentang alam, tetapi sumber energi dan ketenangan.

Baca Juga :  Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Bagi Ary Juliyant, angka tujuh tampaknya menjadi batas sekaligus disiplin kreatif. (Foto: room project/ceraken.id)

Bagi banyak orang Lombok, bayangan gunung hampir selalu mengarah ke Gunung Rinjani. Meski Ary tidak secara eksplisit menyebutnya dalam setiap lirik, imaji tentang puncak yang kokoh dan tak berpindah jelas terasa.

Hal itu menguat dalam Puncak Tak Bergeming. Ary menggunakan puncak sebagai perumpamaan keteguhan. “Enggak mungkin kan mau naik puncak, tiba-tiba ada tulisan sudah pindah?” ujarnya berseloroh.

Puncak yang tak bergeming adalah simbol konsistensi. Bahkan ketika seseorang tak sampai secara fisik, secara rasa ia bisa saja telah tiba. Sebuah refleksi tentang perjalanan hidup: capaian tidak selalu kasat mata.

Memoria Biru: Kenangan yang Nikmat

Memoria Biru menghadirkan tafsir warna. Biru bisa berarti sedih, bisa pula indah. Lagu ini, menurut Ary, lahir tanpa sengaja namun justru mendapat banyak respons.

Kenangan tidak selalu membahagiakan, tetapi bisa tetap nikmat. Di situlah paradoksnya. Biru menjadi ruang antara duka dan keindahan—warna yang tidak hitam-putih.

Lagu ini memperlihatkan sisi Ary yang paling personal, sekaligus paling universal.

Angka Tujuh: Disiplin dan Spiritualitas

Pada akhir Februari 2026, di “padepokan” Rumah Kucing Montong (Erkaem), Ary berbicara tentang angka tujuh.

Dalam Islam, tujuh memiliki makna simbolik: tujuh lapis langit, tujuh putaran tawaf, tujuh ayat Al-Fatihah. Dalam tafsir Feng Shui, angka tujuh dikaitkan dengan kejernihan mental dan introspeksi.

Bagi Ary, tujuh tampaknya menjadi batas sekaligus disiplin kreatif. Dalam catatan ceraken.id, hampir setiap rilisan albumnya mengandung angka tujuh, cukup, tidak berlebih, padat makna.

Di tengah budaya yang sering memuja kuantitas, memilih batas adalah sikap. Tujuh bukan sekadar angka, tetapi ritme.

Sunyi sebagai Metode

“Tujuh Perjalanan Sunyi” pada akhirnya bukan hanya tentang jumlah lagu atau alat musik. Ia adalah metode kerja. Sunyi sebagai ruang olah, ruang dialog, ruang menimbang.

Kang Oseng menyebutnya “ide gila”. Tetapi mungkin kegilaan itu justru terletak pada kesederhanaannya: duduk, berbincang, memainkan lagu, dan membiarkan makna tumbuh perlahan.

Dalam lanskap musik Lombok yang terus bergerak, proyek ini menjadi penanda bahwa dokumentasi kreatif sama pentingnya dengan produksi karya. Ia merawat ingatan, menyusun jejak, dan mengarsipkan perjalanan.

Ary Juliyant tidak menawarkan sensasi. Ia menawarkan konsistensi. Seperti puncak yang tak bergeming, ia berdiri di jalurnya; kadang sunyi, kadang ramai, tetapi selalu berjalan.

Dan mungkin di situlah inti dari “tujuh perjalanan” itu: bukan tentang seberapa jauh langkah diukur, melainkan seberapa teguh ia dijalani. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA