Algoritma Air dan Akar

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto: aks / ceraken.id)

(foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di kaki timur Pulau Lombok, di antara rindangnya pepohonan dan gemericik mata air yang disakralkan warga, sebuah peristiwa sederhana berlangsung dengan makna yang jauh melampaui seremoni.

Sabtu, 20 Juni 2026, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Nusa Tenggara Barat bersama Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB menanam pohon dan menggelar bakti sosial di kawasan Mata Air Mualan Benyer, Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap ritual budaya Molang Maliq Mualan Benyer, tradisi turun-temurun yang memasuki hari kedua pelaksanaannya. Di tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat adat, penghijauan dan pelestarian budaya bertemu dalam satu narasi: merawat masa depan dengan menjaga sumber kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika Pohon Menjadi Bahasa Persaudaraan

Sekretaris INTI NTB, Rudi Hidayat, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya hadir bukan membawa agenda politik, melainkan komitmen sosial dan lingkungan yang telah menjadi bagian dari kerja kemanusiaan mereka selama ini.

“Alhamdulillah pada hari ini kami dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa NTB bisa hadir ke tempat ini memenuhi undangan Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar Akeu Surya Panji. Perlu diketahui, kegiatan INTI NTB tidak ada yang berkaitan dengan politik, namun kegiatannya adalah penghijauan, donor darah, dan bakti sosial,” ujarnya.

Rudi mengingatkan bahwa gerakan penghijauan yang dilakukan INTI NTB bukan kegiatan sesaat. Sebelumnya mereka melaksanakan bakti sosial di Pondok Pesantren Azzainiyah Al-Majidiyah NW di Kotaraja, Sikur, Lombok Timur. Sepekan lalu, organisasi tersebut juga menanam 2.000 pohon cemara di Pantai Induk Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

(foto: aks / ceraken.id)

Di Telagawaru, sebanyak 43 pohon ditanam sebagai simbol dukungan terhadap pelestarian kawasan adat Mualan Benyer.

“Perlu diingat, bahwa kami kalau menanam pohon biasanya yang sudah besar, karena tingkat hidupnya lebih besar lagi. Mudah-mudahan Allah SWT memberi izin kita, meridai kegiatan kita hari ini, dan memberkahi kita semua,” kata Rudi.

Kehadiran INTI NTB juga membawa pesan yang lebih luas tentang keberagaman dan gotong royong. Sebagai organisasi sosial, kebangsaan, dan nirlaba, INTI selama ini aktif dalam kegiatan donor darah, santunan anak yatim, program literasi, hingga kolaborasi pembangunan ekonomi daerah.

Baca Juga :  Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Mualan Benyer, Pusat Kosmologi Warga

Bagi masyarakat Telagawaru, Mualan Benyer bukan sekadar sumber mata air. Ia adalah ruang budaya, ruang spiritual, sekaligus ruang ekologis yang menyatukan manusia dengan alam.

Sekretaris Desa Telagawaru, Junaidi, menjelaskan bahwa masyarakat setempat memandang kawasan tersebut sebagai pusat ritual adat yang harus dijaga bersama.

“Selamat datang Bapak/Ibu yang hadir di tempat ini, Mata Air Mualan Benyer, Desa Telagawaru yang Alhamdulillah masyarakat mensakralkan sebagai pusat ritual adat sekaligus semangat untuk bersama-sama menjaga mata air ini. Karena hidup ini butuh keseimbangan,” ujarnya.

(foto: aks / ceraken.id)

Menurutnya, keseimbangan itu lahir dari hubungan yang saling menghidupi antara manusia dan alam. Karena itu, menjaga mata air, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membuang sampah sembarangan merupakan bentuk tanggung jawab kolektif warga.

Pandangan tersebut selaras dengan makna ritual Molang Maliq Mualan Benyer yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di kawasan ini berlangsung berbagai ritus adat, mulai dari pengobatan tradisional, mandi pengantin, molang maliq bagi anak pertama, khitanan, hingga berbagai prosesi budaya lainnya.

Air dalam pemahaman masyarakat setempat bukan benda mati. Ia adalah medium yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai spiritual, sekaligus pengingat bahwa kelestarian alam merupakan syarat keberlanjutan kehidupan.

Kolaborasi Budaya di Era Ekologi Baru

Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji, melihat keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini sebagai energi positif bagi pelestarian budaya dan lingkungan.

“Kami dari Lembaga Menduli Selayar mengucapkan rasa terima kasih atas kehadirannya dalam acara Molang Maliq Mualan Benyer, yang visinya antara lain dalam hal penghijauan dan pelestarian alam, sekaligus melestarikan ritual adat yang ada di sini. Semoga apa yang kita hajatkan dan niatkan ini diberkahi Allah SWT,” tuturnya.

Perkumpulan Seni Menduli Selayar sendiri dikenal sebagai salah satu komunitas yang aktif menjaga keberlangsungan kesenian tradisional Kebangru’an, warisan budaya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Baca Juga :  Tentang Igelan Jaran Endut

Berpusat di kawasan Mualan Benyer, komunitas ini tidak hanya menggelar pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami akar tradisinya.

(foto: aks / ceraken.id)

Kolaborasi antara INTI NTB, JMSI NTB, komunitas budaya, pemerintah desa, organisasi lingkungan, dan berbagai elemen masyarakat yang hadir pada hari itu menunjukkan satu kenyataan penting: masa depan tidak hanya dibangun dengan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga dengan menjaga mata air, menanam pohon, dan merawat ingatan kolektif sebuah komunitas.

Di tengah dunia yang semakin digital dan serba cepat, Mualan Benyer mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mendasar. Bahwa peradaban yang bertahan bukanlah yang paling modern, melainkan yang mampu menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam. Di situlah akar masa depan sesungguhnya ditanam.

Kegiatan penghijauan dan bakti sosial tersebut juga menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat sipil, media, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas lingkungan.

Hadir dalam kegiatan itu antara lain Wakil Ketua INTI NTB S. Widjanarko, Ketua JMSI NTB H. Boy Mashudi, Sekretaris JMSI NTB Sukri Aruman, Anggota Dewan Pakar JMSI NTB Agus K. Saputra, Ketua Ikawangi Mansur, Ketua Forum Wartawan Lingkungan Indonesia (FWLI) NTB Saudi, serta perwakilan Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) PR Mataram.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dan budaya tidak lagi menjadi urusan satu kelompok semata.

Ia telah berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan komunitas adat, organisasi sosial, insan pers, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum dalam satu tujuan yang sama: menjaga sumber kehidupan sekaligus merawat warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Bagi JMSI NTB, keterlibatan dalam kegiatan ini sejalan dengan komitmennya sebagai asosiasi perusahaan media siber yang tidak hanya berperan menyebarluaskan informasi, tetapi juga hadir dalam berbagai aktivitas sosial dan literasi di tengah masyarakat.

Sementara bagi INTI NTB, kegiatan ini mempertegas konsistensi organisasi tersebut dalam menjalankan program kemanusiaan, penghijauan, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di Nusa Tenggara Barat. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:15 WITA

Algoritma Air dan Akar

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:36 WITA

Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga

Senin, 8 Juni 2026 - 17:36 WITA

Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:44 WITA

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Berita Terbaru

(foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Algoritma Air dan Akar

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:15 WITA

Bedah buku Ajoeba Wartabone (1894-1957):

BEDAH BUKU

Ajoeba Wartabone Direkomendasikan Jadi Pahlawan Nasional

Sabtu, 20 Jun 2026 - 18:42 WITA

MUSIK

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:46 WITA

MUSIK

Nada dari Ufuk Selatan

Jumat, 19 Jun 2026 - 20:55 WITA

RUPA RUPA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Jumat, 19 Jun 2026 - 15:47 WITA