CERAKEN.ID — Malam di Jalan Biduri, Sandik, Batu Layar,Lombok Barat, Minggu (21/6/2026), tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan musik. Di bawah tajuk Pentas Kebaikan Vol. 1 yang digelar Yayasan LombokCare, musik, puisi, dan kepedulian sosial berkelindan menjadi satu.
Sejak pukul 20.27 Wita hingga menjelang larut, panggung sederhana itu menghadirkan perjalanan emosi yang bergerak dari kegembiraan, kontemplasi, hingga harapan bagi anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat.
Pentas ini menjadi perayaan atas berbagai capaian anak-anak binaan LombokCare sekaligus ruang menggalang kesadaran publik bahwa perjuangan penyandang disabilitas dan keluarganya membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah alunan musik dan tepuk tangan penonton, terselip kisah tentang ketekunan, ketahanan, dan kemanusiaan.
Paris Hasan Membuka Panggung dengan Energi Folk dan Blues
Penampil pertama malam itu adalah Paris Hasan. Ia langsung “menggebrak” suasana melalui lima lagu yang memadukan nuansa folk, country, skiffle, dan blues. Lagu Yes It Is menjadi pembuka yang istimewa karena merupakan materi baru yang akan masuk dalam mini album berikutnya.
“Yes It Is, a new from the next mini album,” ujar Paris Hasan seusai tampil.
Paris Hasan: “Black Leather Watch” (audio video: aks / ceraken.id)
Empat lagu lainnya, yakni Skiffle ‘N Blues, Guns ‘N Bullets, Hillbilly Feel, dan Black Leather Watch, diambil dari album perdananya Apple ‘N Snake yang dirilis pada 2023.
Sebagai pembuka acara, Paris Hasan berhasil mengangkat adrenalin penonton. Ritme musik yang enerjik dan akrab di telinga membuat suasana seolah berpindah ke ruang-ruang pertemuan musik rakyat yang hangat.
Perlahan namun pasti, musisi ini tampak sedang membangun basis penikmatnya sendiri di Lombok.
Sound of Magic Island dan Kisah Pulau dalam Nada Jamaican
Selepas Paris Hasan, panggung diambil alih oleh Sound of Magic Island (Somi), proyek musik solo milik Apip Sutardi yang telah lama dikenal di kalangan penikmat musik independen Lombok.
Lima lagu dibawakan malam itu, yakni Welcome To Magic Island, Where Is The Love, Rigi Holiday, Nikmati Syukuri, dan Senggigi. Dua lagu terakhir bahkan sempat menjadi tanda tanya bagi penonton apakah akan dibawakan atau tidak, namun akhirnya menjadi penutup manis penampilan Somi.
Lewat warna musik Jamaican yang memadukan ska, rock steady, dan reggae, Apip menghadirkan atmosfer santai yang identik dengan pantai dan kehidupan Pulau Lombok. Namun lebih dari sekadar hiburan, lagu-lagunya menyimpan pesan tentang kemanusiaan, lingkungan, dan identitas lokal.
Musik bagi Somi bukan hanya medium ekspresi, melainkan cara merawat ingatan kolektif tentang Lombok sekaligus menyampaikan kritik dan refleksi sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sound of Magic Island: “Senggigi” (audio video: aks / ceraken.id)
Seorang penonton bernama Angga menggambarkan perjalanan musikal malam itu dengan cara yang sederhana namun tepat.
“Pentas dibuka Paris Hasan, kita seperti dibawa ke sebuah suasana bar atau pub. Kemudian berpindah lokasi dibawa santai di pantai oleh Somi. Dan menutup hari yang berat dan lelah oleh Nusaria dengan tenang,” ujarnya sumringah.
Nusaria, Puisi Perlawanan, dan Misi LombokCare
Menjelang penghujung acara, duo Nusaria yang dibentuk pada Februari 2026 tampil sebagai penutup. Yuga Anggana dan Sangga Boemi membawakan tiga lagu, yakni Siapalah Aku, Tak Punya Pulang, dan Tanpa Nama.
Bagi Nusaria, keterlibatan mereka bukan sekadar mengisi panggung musik. Kehadiran mereka adalah bentuk dukungan terhadap perjuangan anak-anak disabilitas yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses kesehatan, pendidikan, alat bantu, hingga pemenuhan nutrisi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan lagu Siapalah Aku menjadi single ketiga Nusaria, Sangga Boemi menjawab santai.
“Masih belum tau nanti, hehhe..” katanya.
Sebelum Nusaria tampil, penyair Zaeni Mohammad lebih dahulu naik ke panggung sekitar pukul 21.54 Wita. Ia mendeklamasikan puisi yang lahir dari kegelisahannya terhadap situasi bangsa. Kritik sosial mengalir melalui pilihan diksi yang tajam namun puitis.
Nusaria: “Tanpa Nama” (audio video: aks / ceraken.id)
Penampilannya semakin menarik perhatian lewat kaus hitam bertuliskan “Seniman Proposal”.
“Edisi sangat terbatas. Hanya dicetak dua lembar saja,” ujar Zaeni sambil berkelakar.
Namun inti dari malam itu sesungguhnya berada pada pesan yang disampaikan Pembina Yayasan LombokCare, Mindie Schreurs. Sebelum pertunjukan dimulai, ia mengingatkan bahwa Pentas Kebaikan digelar untuk merayakan capaian para anak didik LombokCare, termasuk 13 anak yang telah lulus program pendampingan dan enam anak yang berhasil menyelesaikan fase penggunaan sepatu brace selama empat tahun.
“Semoga kita semua bisa menikmati musik untuk menyamakan energi di hari spesial ini karena ada 13 orang anak didik LombokCare yang sudah lulus dan juga beberapa waktu lalu merayakan World Clubfoot Day. Hari ini pun bisa melepas enam anak yang bisa melewati fase menggunakan sepatu brace selama empat tahun. Perjuangan yang tidak mudah tentunya, membutuhkan energi yang tidak sedikit, khususnya bagi orang tua,” ujar Mindie.
“Kami berharap agar semua bisa semangat, bisa ikut memikirkan Pentas Kebaikan berikutnya lebih menarik lagi, sehingga banyak orang bisa ikut terlibat menangani anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat,” tambahnya.
Sepatu brace sendiri merupakan bagian penting dalam penanganan clubfoot atau kaki pengkor setelah terapi Metode Ponseti selesai dilakukan. Alat ini digunakan untuk mempertahankan koreksi posisi kaki dan mencegah kekambuhan hingga anak berusia sekitar empat tahun.
Bagi banyak keluarga, proses tersebut merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, dan dukungan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Pentas Kebaikan Vol. 1 menunjukkan bahwa Yayasan LombokCare memilih jalur kebudayaan sebagai cara mendekati persoalan kemanusiaan. Musik, puisi, dan kearifan lokal tidak ditempatkan sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai fondasi gerakan.
Sebab yang mereka dampingi bukan sekadar angka statistik, melainkan manusia dengan rasa, harapan, dan masa depan yang layak diperjuangkan bersama. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































