Oleh: Ari Garmono
CERAKEN.ID — Bagi pencinta musik reggae di Lombok, nama Amtenar tentu bukan sekadar sebuah band. Mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan reggae di Nusa Tenggara Barat. Berdiri pada tahun 2007 dan merilis album debutnya pada tahun 2008, Amtenar lahir pada masa yang bisa dibilang kurang beruntung bagi industri musik Indonesia.
Saat itu, era CD fisik sedang menuju senja. Penjualan kaset dan CD mulai menurun, sementara platform streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music belum hadir sebagai alternatif distribusi yang matang.
Banyak musisi yang merilis karya pada periode tersebut mengalami kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas. Saya pribadi merasakan situasi yang sama ketika merilis album pada tahun 2008.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun waktu membuktikan perjuangan dengan hasil karya yang beekarakter akan selalu menemukan jalannya.
Lombok Menjadi Titik Penting
Amtenar berhasil bertahan dan tumbuh menjadi salah satu ikon reggae Indonesia Timur. Lagu mereka yang berjudul “Lombok I Love You” hingga hari ini telah diputar sekitar 1,9 juta kali di YouTube. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa lagu tersebut telah melampaui batas sebagai sekadar karya musik dan menjelma menjadi semacam soundtrack tidak resmi bagi Pulau Lombok.
Bersama Bali dan Yogyakarta, Lombok kemudian menjadi salah satu titik penting dalam peta reggae Indonesia. Selain Amtenar, skena reggae Lombok juga melahirkan nama-nama seperti Mellow Mood dan Richard The Gilli’s, yang turut memperkuat identitas reggae dari Pulau Seribu Masjid ini.
Setelah merilis album kompilasi Greatest Hits pada tahun 2025—yang menjadi album kesepuluh mereka—Amtenar kini kembali hadir melalui sebuah single baru berjudul “Riddim In The Air”.
Yang menarik dari single ini adalah keberanian Amtenar mengeksplorasi pendekatan vokal yang lebih kental nuansa Jamaikanya. Dalam lagu ini, kita bisa mendengar penggunaan gaya toasting, yaitu teknik bertutur dalam reggae yang mengedepankan aksen dan pengucapan khas Jamaika.
Gaya seperti ini lebih sering ditemukan dalam subgenre Dance Hall, di mana vokal tidak hanya dinyanyikan, tetapi juga “diceritakan” secara ritmis.
Pilihan tersebut membuat “Riddim In The Air” terasa lebih otentik dan lebih dekat dengan cara bernyanyi reggae Jamaika.
Judul lagu ini sendiri cukup menarik. Kata “Riddim” sebenarnya merupakan pengucapan khas Jamaika untuk kata “Rhythm”. Karena itu, “Riddim In The Air” secara harfiah dapat dipahami sebagai “Rhythm In The Air” atau “Irama di Udara”. Sebuah judul yang sederhana namun sangat reggae.
Roots Reggae Kontemplatif
Meski demikian, secara musikal Amtenar tetap tidak meninggalkan karakter yang selama ini menjadi identitas mereka. Jika harus dikategorikan, saya melihat Amtenar tetap berada di wilayah reggae fusion. Pendekatan mereka lebih dekat dengan Sean Paul atau kelompok seperti UB40 dibandingkan roots reggae yang sangat tradisional.
Groove yang segar, aransemen yang ringan, serta pendekatan musikal yang lebih modern membuat lagu ini terasa relevan dengan selera pendengar masa kini. Tidak terlalu berat seperti roots reggae klasik yang cenderung kontemplatif, tetapi juga tidak kehilangan ruh reggae yang menjadi fondasinya.
Di tengah tren musik yang terus berubah, Amtenar memeilih untuk tetap bergerak maju tanpa terkekang pakem, adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Mereka tidak mencoba menjadi band reggae Jamaika, tetapi juga tidak takut mengambil inspirasi dari sana. Hasilnya adalah sebuah karya yang nyaman dinikmati dan tetap terasa Amtenar – namun dengan warna baru yang lebih segar.
Akhir kata, selamat atas peluncuran single “Riddim In The Air”. Karya yang dilaunching bertepatan dengan ulang tahun front man mereka, Igor Amtenar.
Rhythm is in the air. Reggae is still alive. Dan Amtenar masih terus bernyanyi.(*)
Editor : ceraken editor































































