CERAKEN.ID — Mataram – Malam kedua Chamber Pop Festival 2026: Music Concert, Community Hub, and Pop-up Market di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, Sabtu (27/6/2026), menjadi penegasan bahwa ruang pertunjukan musik alternatif di Nusa Tenggara Barat semakin menemukan penontonnya.
Diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya NTB bersama Pyramid Circle, festival ini kembali menghadirkan kolaborasi lintas genre yang memadukan musik pop, rock, hingga orkestra gesek dalam satu panggung. Penampilan Social UFO dan Navarin, yang diiringi Sreyas String Ensemble pada sejumlah repertoar, sukses membuat gedung pertunjukan dipenuhi penonton.
Atmosfer pertunjukan terasa hidup sejak lampu panggung mulai menyala. Ratusan pasang mata larut dalam harmoni yang memadukan karakter musik modern dengan sentuhan musik kamar (chamber music), sebuah konsep yang masih jarang ditemui dalam panggung-panggung musik di NTB.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Orkestra Gesek Membuka Malam dengan Energi Berbeda
Malam kedua dibuka oleh Sreyas String Ensemble yang beranggotakan Gilang, Jingga Bunga Hati, Aurellia Sandi, Jalu Bawono (violin), Beny Permana dan Dayang (viola), serta Ranto Rahadi (cello). Mereka membawakan repertoar legendaris “Kashmir” milik Led Zeppelin.
Pilihan lagu tersebut bukan sekadar menghadirkan nostalgia rock klasik. “Kashmir” dikenal sebagai karya monumental yang bercerita tentang perjalanan spiritual, pencarian jati diri, sekaligus kekaguman terhadap bentang alam gurun Maroko Selatan yang menginspirasi Robert Plant dan Jimmy Page pada 1973. Sentuhan instrumen gesek membuat komposisi itu terdengar megah sekaligus emosional.

Energi pembuka itu menjadi fondasi sebelum Social UFO memasuki panggung dengan karakter musik yang lebih eksploratif. Kolaborasi antara band dan ensemble gesek memberi dimensi baru terhadap lagu-lagu yang dibawakan.
Social UFO bersama Sreyas String Ensemble membawakan dua lagu, yakni “Bend Me” dan “Routine On”, sedangkan Navarin mengajak para penonton bernostalgia melalui lagu “Gairahku” dan “Kembang Syafa”.
Bagi pemain cello Sreyas String Ensemble, Ranto Rahadi, pengalaman tampil selama dua malam memberikan pelajaran teknis yang berbeda.
“Hari pertama karena formatnya collab dengan penyanyi solo, jadi peran string balancing lebih aman. Walaupun ada komentar dari penonton bilang belum maksimal, tetapi berbeda yang saya rasakan di atas panggung, lebih nyaman karena suara string, penyanyi, gitar dan sequencer sama-sama terdengar,” ujar Ranto saat dihubungi, Senin (29/6/2026).
Namun, menurutnya, tantangan justru muncul pada malam kedua.
“Untuk balancing memang agak kacau, mungkin karena teknis kami tidak sempat sound check balancing dengan band. Alhasil string tenggelam termakan dentuman drum saat kolaborasi dengan Social UFO. Sementara dengan Navarin string lebih bisa bernapas karena karakter lagunya memang lebih soft,” katanya.
Meski demikian, Ranto menilai pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses bertumbuhnya ekosistem musik kolaboratif di Mataram.

Antrean Mengular, Penonton Bertahan Hingga Akhir Pertunjukan
Antusiasme masyarakat terlihat bahkan sebelum pertunjukan dimulai. Sejak pukul 19.00 Wita, antrean penonton telah memanjang sekitar 25 meter, sementara pintu gedung baru dibuka pukul 19.30 Wita. Pertunjukan sendiri dimulai sekitar pukul 20.30 Wita.
Pengamat seni sekaligus pegiat Teater Embrio Lombok, Winsa Le Embrio, menyebut malam kedua berlangsung dalam suasana full house.
“Pintu gedung dibuka pukul 19.30, tetapi antrean penonton sudah mengular sejak pukul 19.00. Pertunjukan diawali komposisi klasik oleh Sreyas String Ensemble, dilanjutkan Social UFO yang menghadirkan lagu-lagu berkarakter renyah khas anak muda. Ketika dua lagu dikolaborasikan dengan string ensemble, kerenyahan itu justru semakin terasa,” tuturnya.
Menurut Winsa, penampilan Navarin menjadi penutup yang membawa penonton memasuki ruang nostalgia.
“Navarin mengantar penonton ke era lama melalui lagu-lagu bernuansa retro. Kehadiran alunan gesek Sreyas String Ensemble mempertebal nuansa nostalgia, terutama saat lirik-lirik cinta dinyanyikan. Durasi pertunjukan hampir satu setengah jam mampu membuat penonton tetap bertahan di tempat duduknya. Kehadiran orkestra menjadi pembeda sekaligus daya tarik utama festival ini,” katanya.

Meski ia menilai tenaga vokal Navarin belum sepenuhnya maksimal, keseluruhan pertunjukan tetap meninggalkan kesan kuat sebagai salah satu konser musik alternatif yang berhasil memikat publik Mataram.
Kolaborasi Menjadi Harapan Baru Ekosistem Musik NTB
Kesan serupa juga dirasakan Dody Setiawan yang bertugas sebagai pembawa acara. Baginya, antusiasme penonton merupakan pengalaman yang belum pernah ia temui selama memandu konser di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya.
“Senang sekali bisa terlibat di Chamber Pop Festival 2026. Baru kali ini selama menjadi MC acara musik di gedung tertutup Taman Budaya, penontonnya membludak sampai duduk di bawah, di lantai, bahkan di lorong. Pokoknya seru karena penontonnya sangat antusias,” ujarnya.
Di balik segala keterbatasan teknis yang masih ditemui, Ranto Rahadi menegaskan bahwa semangat utama para musisi bukan sekadar menghasilkan pertunjukan yang sempurna, melainkan membuka jalan bagi lahirnya warna baru dalam industri musik lokal.
“Terlepas dari segala kekurangan-kekurangan kita di Mataram ini, yang terpenting niat dari kami untuk menghibur dan syukur-syukur bisa berperan memberi warna lain dalam berkesenian, bahkan di dalam industri yang sedikit demi sedikit mulai berkembang di Mataram, khususnya di bidang seni musik,” ungkapnya.

Apa yang terjadi pada malam kedua seolah menjadi pembenaran atas optimisme yang telah disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Bunda Sinta M. Iqbal, saat membuka Chamber Pop Festival 2026 pada malam pertama.
Sebagaimana dikhabarkan ceraken.id pada Minggu, 28 Juni 2026, Bunda Sinta menaruh apresiasi besar terhadap keberanian generasi muda menghadirkan format pertunjukan yang berbeda di tengah perkembangan seni dan budaya di daerah.
“Yang saya salut adalah keberanian dari adik-adik membawa sebuah suasana baru dalam dunia kebudayaan, dunia musik, dunia seni yang ada di Nusa Tenggara Barat yang saat ini ada di Kota Mataram,” ungkap Bunda Sinta.
Menurutnya, keberanian tersebut merupakan modal penting bagi berkembangnya ekosistem seni di NTB. Kreativitas tidak selalu harus mengikuti pola-pola yang telah ada, tetapi justru tumbuh melalui keberanian bereksperimen dan menawarkan pengalaman artistik baru kepada masyarakat.
Penuhnya Gedung Teater Tertutup Taman Budaya selama dua malam berturut-turut menjadi bukti bahwa keberanian itu mendapat sambutan positif dari publik. Chamber Pop Festival 2026 bukan sekadar menghadirkan konser musik, melainkan membangun ruang kolaborasi antara musisi, komunitas, pelaku seni, dan penonton.
Perpaduan musik populer dengan warna orkestra yang diusung Sreyas String Ensemble menunjukkan bahwa ekosistem musik di Nusa Tenggara Barat tengah bergerak menuju fase yang lebih kreatif, kolaboratif, dan menjanjikan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































