CERAKEN.ID — Di sebuah sudut Dusun Karang Anyar, Desa Sikur, Lombok Timur, petikan gambus dan lengking biola kembali mengalun. Bukan sekadar pertunjukan biasa, melainkan sebuah perjumpaan yang membawa misi lebih besar: mencari kembali denyut musik tradisi Sasak untuk dihadirkan dalam wajah baru yang lebih futuristik.
Rabu, 15 Juli 2026, Tim Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya NTB melanjutkan observasinya ke Grup Cilokaq Dua Sle. Di tempat sederhana itu, para musisi, penulis, dan pelaku seni duduk bersama, mendengarkan, mencatat, dan membaca kemungkinan-kemungkinan baru yang tersimpan dalam irama lama.
Bagi masyarakat Lombok, cilokaq bukan hanya hiburan. Ia adalah memori kolektif, ruang petuah, sekaligus cermin perjalanan kebudayaan yang panjang. Dari syair-syair bernapas padang pasir, pengaruh Melayu, Bugis, Mandar, hingga sentuhan Jawa dan Bali, semuanya berkelindan dalam satu bentuk musikal yang khas.
Dari Dua Bersaudara Menjadi Dua Belas Pemain
Menurut Ahmad Rozi, salah satu anggota Dua Sle, kelompok ini lahir sekitar tahun 2020. Awalnya hanya digerakkan oleh dua bersaudara, Rahman dan Ridwan, yang kemudian disusul Khairil dan Roni. Rozi sendiri bergabung belakangan hingga formasi itu berkembang.
“Saat ini sudah berkembang menjadi 12 orang,” ujarnya.
Pertumbuhan jumlah anggota tersebut menjadi penanda penting bahwa musik tradisi ternyata masih memiliki daya tarik di kalangan generasi muda. Di tengah derasnya arus budaya populer dan dominasi musik digital, keberadaan anak-anak muda yang masih bersedia memetik gambus, meniup suling, dan mempelajari cengkok Sasak menjadi kabar yang menggembirakan.
Cilokaq sendiri merupakan salah satu ansambel musik tradisional Sasak yang berakar dari kata seloka atau syair. Lirik-liriknya dipenuhi pantun, nasihat kehidupan, syiar agama, hingga kisah percintaan. Ia hidup dalam berbagai momentum sosial masyarakat, mulai dari begawe merarik, khitanan, hingga perayaan-perayaan daerah.
Mencari Musik Masa Depan dari Tradisi

Namun observasi yang dilakukan Taman Budaya NTB kali ini tidak berhenti pada upaya dokumentasi.
Kasi Pelestarian Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya NTB, Ni Wayan Sri Artini, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses eksperimentasi musik.
“Kita sedang mencoba menggabungkan berbagai unsur musik untuk melihat kemungkinan karya baru yang lahir. Ini bukan penciptaan karya murni, tetapi sebuah eksperimen,” ujarnya.
Ketua Tim Eksperimentasi Musik, H. Lalu Agus Fathurrahman, bahkan membawa gagasan yang lebih jauh. Baginya, musik tradisi NTB harus mulai hadir di ruang-ruang publik modern.
Selama ini, menurutnya, bandara, hotel, restoran, atau ruang pertemuan lebih banyak dipenuhi musik Barat atau musik dari daerah lain. Padahal, Lombok memiliki identitas bunyi yang kuat.
“Kita ingin suatu hari ketika orang datang ke Lombok, mereka langsung merasakan suasana yang berbeda melalui musiknya,” katanya.
Tim eksperimentasi mencoba mempertemukan dua arus besar musikalitas Nusantara: arus Melayuan yang tercermin dalam cilokaq dan arus Jawa-Bali yang diwakili musik kelenang. Dari pertemuan dua arus itu, mereka ingin melahirkan apa yang disebut sebagai “musik kamar”, musik pencipta suasana yang tenang, teduh, dan merasuk ke dalam jiwa.
Gagasan ini sesungguhnya menarik. Ia tidak berusaha mengubah cilokaq menjadi musik populer, melainkan menempatkan tradisi sebagai fondasi untuk menciptakan identitas bunyi baru bagi ruang publik NTB.
Membaca Jejak Melayu di Selatan Lombok
Musisi tradisi Lalu Prima Wiraputra melihat Grup Dua Sle memiliki posisi yang menarik secara kultural. Wilayah Sikur bagian selatan, menurutnya, berada dalam ruang pertemuan berbagai pengaruh budaya maritim.
Grup Cilokaq Dua Sle, Dusun Karang Anyar, Desa Sikur, Lombok Timur: “Cobe Sengsare” (av: aks / ceraken.id)
Ia menyebut kawasan tersebut memiliki jejak kuat tradisi Melayu, Mandar, Goa, dan Makassar.
Karena itu, warna permainan cilokaq di wilayah ini memperlihatkan corak yang khas. Ada nuansa qasidahan, melayuan, hingga sentuhan Bugis-Makassar.
“Makin ke barat, gaya melayunya kemudian bercampur dengan Jawa dan Bali. Di Lombok Barat bahkan melahirkan model ale-ale yang lebih progresif,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa cilokaq sebenarnya bukan kesenian yang statis. Ia sejak awal tumbuh melalui proses perjumpaan budaya dan adaptasi sosial. Dengan kata lain, eksperimentasi bukan sesuatu yang asing bagi cilokaq, sebab sejarahnya sendiri adalah sejarah percampuran dan pembaruan.
Menjaga Tradisi, Menata Harmonisasi
Musisi Ary Juliyant dan Tonie Moersajied sepakat bahwa inti musikal cilokaq berada pada alat musik penting atau gambus. Dari instrumen inilah pola-pola melodi dibangun dan kemudian diikuti oleh instrumen lain seperti biola, suling, gendang, hingga bas.
Setiap grup cilokaq, menurut Ary, memiliki karakter dan varian masing-masing. Ada yang menonjolkan suling, ada yang memperkuat biola, bahkan ada yang memasukkan unsur-unsur modern demi mendekatkan diri kepada selera pendengar masa kini.
Sementara itu, Tonie menilai keberadaan generasi muda yang masih memainkan musik tradisi adalah hal yang patut diapresiasi.
“Segala sesuatu memang tidak ada yang sempurna, tetapi yang paling penting adalah tradisi ini masih hidup dan dipelihara,” katanya.
Demo Alat Musik Penting: “Suke Rede” (audio: aks / ceraken.id)
Ia juga menyoroti persoalan tata suara yang membuat karakter gambus dan biola terkadang tenggelam. Padahal, justru dua instrumen itulah yang menjadi jiwa dari cilokaq.
Pandangan serupa disampaikan I Nyoman Gde Adimusti TBL. Ia membayangkan jika instrumen penting dimainkan oleh dua atau tiga orang sekaligus, maka warna bunyi yang dihasilkan akan semakin kaya dan menarik.
Membunyikan Identitas Lombok
Apa yang dilakukan Tim Eksperimentasi Musik UPTD Taman Budaya NTB sesungguhnya lebih dari sekadar proyek artistik. Ini adalah upaya membaca ulang identitas kebudayaan Lombok melalui bahasa bunyi.
Di tengah dunia yang semakin seragam, daerah justru dituntut memiliki kekhasan. Pariwisata masa depan tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman sensorik: suara, aroma, rasa, dan atmosfer.
Mungkin suatu hari nanti, ketika seseorang mendarat di Bandara Lombok, ia tidak lagi disambut musik generik yang terdengar sama di berbagai kota dunia. Sebaliknya, ia akan mendengar petikan gambus, lengking biola, dan cengkok lembut cilokaq yang mengalun pelan, menciptakan suasana teduh dan menghadirkan rasa bahwa ia benar-benar telah tiba di Pulau Lombok.
Dari Dusun Karang Anyar, petikan itu mulai dirawat. Sebuah ikhtiar kecil yang boleh jadi sedang menyiapkan masa depan baru bagi musik tradisi Sasak: tetap berakar pada sejarahnya, tetapi berani menatap dunia.
Observasi di Dusun Karang Anyar tersebut juga memperlihatkan semangat kolektif dalam merawat tradisi. Selain para narasumber utama, kegiatan ini turut dihadiri anggota Tim Eksperimentasi Musik lainnya, yakni Esti Ebhi Evolisa, Burhanudin, Jupri, dan Akmal.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa proses eksperimentasi tidak hanya bertumpu pada penciptaan komposisi baru, tetapi juga menjadi ruang dialog antargenerasi dan lintas disiplin untuk membaca kembali potensi musikal NTB.
Dari perjumpaan semacam inilah, gagasan tentang musik tradisi yang futuristik perlahan dirumuskan: tetap berpijak pada akar budaya, namun terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































