Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

- Penulis

Senin, 10 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bahasa, pada akhirnya, adalah milik masyarakat (foto: ist / ceraken.id)

Bahasa, pada akhirnya, adalah milik masyarakat (foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran. Ia adalah rumah tempat sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri. Ketika bahasa mulai ditinggalkan, yang perlahan-lahan menjauh bukan hanya kata-kata, melainkan juga ingatan, cara pandang, bahkan sebagian dari identitas sebuah bangsa.

Kegelisahan itulah yang terasa dalam Saresehan Bahasa dan Sastra Sasak yang diselenggarakan Komite Seni dan Budaya Nusantara (KSBN) Kota Mataram di Taman Budaya Provinsi NTB, Sabtu (8/8/2026). Salah satu pematerinya, H.L. Agus Fathurrahman, seniman dan budayawan yang selama ini aktif dalam pelestarian bahasa Sasak, seni kaligrafi, serta tradisi naskah kuno, mengajak masyarakat Sasak melihat persoalan bahasanya dari jarak yang lebih jernih.

Ditemui ceraken.id di Bencingah Institute, Minggu (9/8/2026), Miq Agus Fn, sapaan pendeknya, mengatakan persoalan utama Bahasa Sasak hari ini bukan semata-mata soal banyaknya dialek, melainkan belum adanya kesepakatan mengenai bahasa yang dapat digunakan sebagai bahasa pergaulan umum dan bahasa tulis.

“Kita menyadari Bahasa Sasak tidak mempunyai standar bahasa tulis. Kenapa? Karena kita belum menemukan bahasa yang akan kita gunakan dalam pergaulan umum.”

Pernyataan itu membawa persoalan Bahasa Sasak ke wilayah yang lebih dalam. Sebab, di balik perbedaan dialek yang selama ini kerap dianggap sebagai pembeda identitas, sesungguhnya terdapat jejak sejarah yang menunjukkan bahwa masyarakat Sasak sejak masa lalu telah memiliki cara untuk membangun bahasa pergaulan yang melampaui batas-batas wilayah.

Belajar dari Takepan dan Ingatan Nenek Moyang

Menurut Miq Agus Fn, salah satu jejak penting yang semestinya menjadi rujukan adalah tradisi naskah atau Takepan. Di dalam naskah-naskah lama itu, penulis tidak serta-merta menggunakan dialek daerah asalnya.

“Dulu kita sudah ditinggalkan sama nenek moyang kita dalam bentuk naskah, Takepan. Di Takepan itu tidak ada, walaupun penulisnya orang selatan, tidak akan dia menggunakan dialek selatan, ‘meriak meripu’. Atau orang utara, orang daya tidak akan menulis dengan bahasa daya,” ujarnya.

Yang digunakan, menurutnya, justru bahasa pergaulan yang kemudian oleh banyak orang dipetakan sebagai dialek meno-mene. Namun, ia mengingatkan agar istilah tersebut tidak serta-merta dipahami sebagai nama dialek yang berdiri sendiri.

“Jangan kita katakan dialek ‘meno-mene’. Inilah namanya bahasa pergaulan,” katanya.

Bahasa pergaulan itu dipilih oleh leluhur bukan tanpa alasan. Salah satunya karena lebih mudah dituliskan. Sistem kata ganti kepemilikan yang digunakan membuat bahasa tersebut relatif mudah dituangkan ke dalam aksara.

“Dalam bahasa tulis oleh nenek moyang kita dulu, bahasa pergaulan ‘meno-mene’ ini yang kita gunakan karena mudah dituliskan. Mudah dituliskan karena dia punya kata ganti kepemilikan, seperti ‘anoq me’, ‘anuq bi’, ‘anuq da’.”

Jejak itu, menurutnya, bahkan masih dapat ditelusuri dalam Takepan Monyeh karya Jero Mihram. Penulisnya berasal dari Pancor, tetapi menggunakan bahasa yang lebih bersifat pergaulan.

Ada pula jejak lain dari masa pemerintahan Hindia Belanda. Pelajaran Bahasa Sasak yang ditulis Waluyo dan kemudian disempurnakan Lalu Mesir, kepala sekolah di Selong, pada 1923, menjadi salah satu rujukan penting. Menurut Miq Agus Fn, karya tersebut melakukan verifikasi dengan merujuk pada Takepan dan sudah menggunakan huruf Latin.

Persoalan teknis bahasa kemudian muncul pada penulisan bunyi glottal stop. Dalam Takepan, bunyi tersebut ditandai dengan aksara tertentu, sedangkan dalam penulisan Latin pada masa Belanda digunakan tanda hamzah atau stroke. Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat lebih mengenalnya melalui penggunaan huruf q.

“Itu membedakan dengan ‘k’, seperti ‘inaq’ menggunakan ‘q’, ‘kanak’ menggunakan ‘k’,” jelasnya.

Dialek Jangan Menjadi Tembok

Perbedaan kosakata antardaerah, bagi Miq Agus Fn, semestinya tidak selalu dilihat sebagai pertentangan. Kata-kata seperti “keber”, “kesur”, atau “nyoer”, misalnya, dapat ditempatkan sebagai padanan kata atau sinonim, bukan sebagai bukti bahwa masyarakat Sasak memiliki bahasa yang berbeda-beda.

Ia menyebut tradisi itu dengan istilah siji sedasa, sepuluh kata yang dapat memiliki satu pengertian, atau satu kata yang dapat memiliki banyak makna bergantung pada konteks.

“Dari hal ini kita bisa mengistilahkan bahwa cukup ruang pengembangannya luar biasa, baik itu bahasa maupun sastra.”

Yang menjadi persoalan justru ketika perbedaan dialek berkembang menjadi ego kelompok. Pada titik itulah keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan berubah menjadi sekat.

“Hanya saja karena kita tidak serius seperti yang saya tulis di materi itu, kita tidak pernah sungguh-sungguh mau belajar tentang bahasa itu,” kata Miq Agus Fn.

Kegelisahan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan masyarakat Sasak harus hidup dalam perbedaan yang tidak pernah menemukan titik temu?

Baca Juga :  Meriri Gubuk: Membaca Kampung, Menemukan Jati Diri Bersama

Miq Agus Fn berharap Kongres Bahasa yang diwacanakan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesepakatan. Namun, ia mengingatkan, kongres tidak boleh berhenti sebagai forum seremonial.

“Saya berharap mulai dengan Kongres Bahasa ini. Tetapi ini harus dikelola dengan baik.”

Baginya, persoalan bahasa Sasak tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah atau politisi. Ada pekerjaan intelektual yang harus dilakukan oleh orang-orang Sasak sendiri.

“Dalam kondisi Bangse Sasak seperti ini, yang harus menyelesaikan ini bukan politisi, bukan pemerintah, tetapi para intelektual Sasak yang terpanggil untuk membenahi Sasak.”

Ia mempertanyakan banyaknya akademisi dan profesor yang berasal dari lingkungan masyarakat Sasak, tetapi belum cukup banyak yang menjadikan persoalan bahasa dan kebudayaan Sasak sebagai medan kajian akademik yang serius.

“Begitu banyak profesor di kampung kita ini, kenapa kok tidak ada satu pun yang tertarik memahami persoalan daerah kita ini, permasalahan bangsa kita ini, dengan kacamata intelektual, kacamata akademik, kacamata kearifan? Dan itu hanya ada pada kaum intelektual.”

Karena itu, ketika ditanya sampai kapan persoalan tersebut akan selesai, jawabannya sederhana tetapi getir.

“Kalau kita biarkan, enggak akan pernah selesai.”

 Empat Sikap untuk Menyelamatkan Base Sasak

Dalam materi berjudul “Membangun Sikap Positif Masyarakat Sasak Terhadap Bahasanya”, Miq Agus Fn menawarkan empat sikap yang menurutnya penting dibangun.

Pertama, menerima keberagaman dialek sebagai produk sejarah bahasa dan tidak memandangnya sebagai bahasa yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa pelabelan berlebihan terhadap dialek justru dapat menciptakan identitas-identitas yang saling berhadapan.

“Kita harus menerima keberagaman dialek sebagai produk sejarah bahasa dan tidak memandangnya sebagai bahasa yang berbeda.”

Kedua, keberagaman tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kesepahaman dan kesepakatan bersama dalam melestarikan Bahasa Sasak.

“Kalau ndak begini, kita tidak akan habis, mati sebelum zaman ini berakhir,” tegasnya.

Ketiga, diperlukan ruang dialog yang lebih terbuka. Masyarakat harus lapang dada menerima pemikiran yang dianggap bermanfaat bagi kelestarian Base Sasak dan kehidupan Bangse Sasak dalam peradaban yang terus berubah.

Sebab, jika setiap kelompok terus mempertahankan kepentingannya sendiri, bahasa justru menjadi korban dari konflik identitas.

“Kalau kita terus berkutat dengan konflik kepentingan, masing-masing membangun egonya, ini kita enggak akan pernah bisa menata masyarakat kita. Akhirnya masyarakat yang terkoyak-koyak, terpecah-pecah, dan itu pasti sengsara akhirnya.”

Keempat, masyarakat harus bersedia larut dalam sebuah kesepakatan untuk memoderasi Base Sasak dalam kehidupan modern.

Fanatisme terhadap satu ragam bahasa atau satu dialek, menurutnya, justru dapat membuat masyarakat enggan menggunakan Bahasa Sasak dalam pergaulan sehari-hari. Ada kekhawatiran akan dianggap salah, kurang halus, atau tidak memahami bentuk bahasa tertentu.

Pada akhirnya, Bahasa Indonesia menjadi pilihan yang dianggap paling aman.

Ketika Bahasa Ibu Mulai Tergusur

Di titik ini, persoalan Bahasa Sasak tidak lagi sekadar menyangkut dialek dan tata tulis. Ia bersentuhan langsung dengan pendidikan dan kehidupan keluarga.

Miq Agus Fn melihat adanya semacam tekanan global terhadap bahasa daerah. Pendidikan formal, misalnya, menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Bagi anak-anak di kelas rendah, kondisi itu dapat membuat proses memahami pelajaran menjadi lebih panjang.

“Dia konsentrasi mendengar karena itu bahasanya asing, kemudian dia bekerja lagi memahami apa yang dimaksud oleh guru, menerjemahkan, baru dia memahami. Itu sudah berapa kali dia bekerja otaknya.”

Situasi tersebut kemudian berpengaruh ke dalam keluarga. Orang tua yang khawatir anaknya kesulitan memahami Bahasa Indonesia di sekolah akhirnya memilih tidak lagi menggunakan Bahasa Sasak sebagai bahasa ibu.

Di sejumlah lingkungan pendidikan, bahkan muncul praktik yang semakin menjauhkan anak-anak dari bahasa daerah.

“Di kota bahkan sekarang sudah di desa, kalau kemarin di kota, kemudian di pemukiman-pemukiman formal, sampai ke desa, bahkan katanya di pondok pesantren, itu anak didenda kalau menggunakan bahasa Sasak. Malah yang harus digunakan itu adalah Bahasa Inggris, Bahasa Arab. Ini semakin menjauhkan lagi anak-anak dari bahasa ibunya.”

Miq Agus Fn tidak sedang mempertentangkan Bahasa Sasak dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau Bahasa Arab. Yang ia persoalkan adalah hilangnya keseimbangan. Anak-anak perlu menguasai bahasa lain tanpa harus kehilangan bahasa yang pertama kali mengenalkan mereka kepada dunia.

Muatan Lokal yang Pernah Hidup

Pertanyaan mengenai muatan lokal pun mengemuka. Bukankah dahulu bahasa daerah pernah mendapatkan tempat melalui kurikulum?

Baca Juga :  Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Menurut Miq Agus Fn, program tersebut pernah berjalan cukup serius pada masa Kurikulum 1994. Guru dipersiapkan, materi disusun, pelatihan dilakukan, bahkan ada jenjang Guru Inti, Instruktur Umum hingga Instruktur Nasional.

“Zaman Kurikulum 1994 itu niatnya bagus. Dan dikelola dengan bagus. Disiapkan SDM-nya, disiapkan materinya dalam bentuk workshop, ada MGMP, guru-guru yang sudah disiapkan tetap diberikan pembinaan untuk menyamakan persepsi tentang materi.”

Masalah muncul setelah otonomi daerah dan pergantian kurikulum. Slot muatan lokal memang masih tersedia, tetapi berbagai persoalan administratif dan kelembagaan membuatnya kehilangan daya hidup.

“Guru enggan, kenapa? Karena tidak termasuk, tidak dihitung dalam jam mengajar untuk sertifikasi guru. Pun juga karena tidak ada peraturan yang mengaturnya.”

Menurutnya, muatan lokal membutuhkan payung regulasi yang jelas. Jika tidak masuk rapor, ujian, atau ijazah, maka secara kelembagaan sulit membuat siswa merasa bahwa pelajaran tersebut memiliki kedudukan penting.

“Muatan lokal sudah disiapkan, tapi tidak diurus. Sehingga kita mau ngapain dan kenapa tidak mau diurus?”

Ia juga tidak ingin seluruh persoalan dilemparkan kepada pemerintah. Termasuk ketika ditanya mengapa belum ada Perda Bahasa Daerah.

“Ya, kita jangan nyalahkan pemerintah juga. Kenapa tidak ada Perda Bahasa Daerah? Karena tidak ada substansi yang akan diatur.”

Menurutnya, sebelum membuat regulasi, masyarakat Sasak sendiri harus terlebih dahulu menyepakati bahasa seperti apa yang akan digunakan dalam ruang pendidikan dan ruang publik.

“Harus ada pengaturan kesepakatan kita dulu tentang Base Sasak, baru secara institusional ini kita advokasi.”

Bahasa, pada akhirnya, adalah milik masyarakat. Pemerintah dapat membuat kebijakan, tetapi tidak semestinya menentukan bahasa tanpa terlebih dahulu mendapatkan kesepakatan substantif dari masyarakat pemilik bahasa itu sendiri.

Kongres yang Tidak Boleh Berhenti sebagai Seremoni

Karena itu, Miq Agus Fn menawarkan strategi kultural yang lebih konkret. Kongres Bahasa, menurutnya, harus menghasilkan produk yang dapat ditindaklanjuti.

Pertama, diperlukan kesepakatan mengenai standar bahasa yang digunakan dalam bahasa tulis, kebijakan strategis pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan Base Sasak, sekaligus pembentukan lembaga yang secara khusus menjalankan kerja-kerja tersebut.

Kedua, generasi Z dan generasi Alpha harus dilibatkan. Mereka bukan sekadar objek pelestarian, melainkan generasi yang akan menentukan apakah Bahasa Sasak masih memiliki tempat dalam kehidupan beberapa dekade mendatang.

Guru Base Sasak dari generasi muda perlu dipersiapkan agar menguasai teknologi informasi dan media sosial. Event-event aktualisasi Bahasa Sasak perlu dirancang dalam berbagai bentuk. Bahasa Sasak juga perlu kembali digunakan dalam pertemuan-pertemuan formal masyarakat Sasak dan ruang-ruang publik.

Pada saat yang sama, advokasi kebijakan harus dilakukan untuk memperoleh dukungan pemerintah melalui Perda Bahasa Daerah maupun Pergub, Perbup, dan Perwal mengenai kurikulum muatan lokal bahasa daerah.

Ketiga, kajian akademik kebahasaan harus diperkuat. Kajian itu mencakup bahasa pergaulan umum, bahasa tulis dan tata penulisan, pengembangan khazanah sastra Sasak, penerbitan media berbahasa Sasak, hingga mendorong anak-anak muda menulis dengan Base Sasak di media sosial.

Di sinilah bahasa menemukan medan pertarungan barunya. Bukan hanya di ruang kelas atau naskah kuno, tetapi juga di layar telepon genggam, di media sosial, di percakapan sehari-hari, dan di ruang publik.

Miq Agus Fn melihat persoalan ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.

“Sekali lagi harus ada upaya untuk menjembatani antara persoalan bahasa saat ini dengan solusi bahasa yang akan datang. Itu hanya akan bisa dilakukan melalui pendidikan dan politik bahasa. Kita dua-duanya belum punya itu.”

Bahasa Sasak mungkin sedang berada di persimpangan. Di satu sisi ada kekayaan dialek, naskah, sastra, dan ingatan leluhur yang belum seluruhnya selesai dibaca. Di sisi lain ada modernitas yang bergerak cepat, membawa Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan berbagai bahasa global masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Persoalannya bukan memilih salah satu dan membuang yang lain. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat Sasak memiliki keberanian untuk menempatkan bahasanya sendiri secara bermartabat di tengah perubahan.

Sebab bahasa yang hidup bukan bahasa yang hanya disimpan dalam museum atau dibaca dalam Takepan. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang digunakan, diperdebatkan, ditulis, diajarkan, diwariskan, dan; yang paling penting, tidak membuat penuturnya merasa malu untuk mengucapkannya.

Dan mungkin, di situlah jalan pulang Bahasa Sasak sesungguhnya dimulai. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon
Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA