Mataram Menuju Kota Cerdas: Dari Gerbang Sangkareang hingga Kolaborasi Warga Merancang Masa Depan

- Penulis

Senin, 8 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kota cerdas membutuhkan identitas visual, tetapi juga membutuhkan arah pembangunan yang jelas dan berkelanjutan (Foto: aks / ceraken.id)

Kota cerdas membutuhkan identitas visual, tetapi juga membutuhkan arah pembangunan yang jelas dan berkelanjutan (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Kota cerdas atau smart city sering kali dipahami sebagai kota yang dipenuhi teknologi digital, layanan berbasis aplikasi, dan sistem pemerintahan elektronik. Namun pengalaman Kota Mataram menunjukkan bahwa makna kota cerdas jauh lebih luas daripada sekadar digitalisasi.

Smart city bukan hanya soal perangkat teknologi, melainkan tentang bagaimana sebuah kota membangun pelayanan publik yang efektif, ruang hidup yang nyaman, serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam merancang masa depan bersama.

Tiga catatan Ceraken.id sepanjang 2026 memperlihatkan benang merah tersebut. Mulai dari tulisan Setelah Ini Apa? Gerbang Sangkareang dan Agenda Lanjutan Kota Mataram (16 Januari 2026), Mataram di Jalur Kota Cerdas: Konsistensi Transformasi Digital Berbasis Pelayanan Publik (5 Februari 2026), hingga Dari Sudut Kafe Merancang Kota: Menumbuhkan Kolaborasi untuk Masa Depan Mataram (7 Juni 2026), semuanya mengarah pada satu pertanyaan besar: seperti apa Mataram ingin tumbuh sebagai kota modern yang tetap berpusat pada manusia?

Gerbang Sangkareang dan Simbol Perubahan Kota

Ketika Gerbang Sangkareang diresmikan sebagai wajah baru Kota Mataram, perhatian publik banyak tertuju pada aspek fisik bangunan tersebut. Namun sebagaimana dicatat Ceraken.id, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apa yang telah dibangun, melainkan apa yang akan dilakukan setelahnya.

Tulisan Setelah Ini Apa? mengingatkan bahwa pembangunan landmark kota hanya memiliki arti apabila menjadi bagian dari agenda transformasi yang lebih besar.

Gerbang Sangkareang dapat dipandang sebagai simbol optimisme, tetapi sebuah kota tidak menjadi maju hanya karena memiliki ikon baru. Kota berkembang ketika mampu menghadirkan tata kelola yang baik, pelayanan yang mudah diakses, ruang publik yang hidup, serta keterlibatan warga dalam pembangunan.

Di titik ini, pembangunan fisik menjadi pintu masuk menuju agenda yang lebih substansial. Kota cerdas membutuhkan identitas visual, tetapi juga membutuhkan arah pembangunan yang jelas dan berkelanjutan.

Transformasi Digital sebagai Fondasi Smart City

Jawaban atas pertanyaan “setelah ini apa?” sebagian terlihat dalam upaya Pemerintah Kota Mataram memperkuat transformasi digital. Pada Februari 2026, Mataram berhasil masuk dalam sepuluh besar nasional evaluasi Program Kota Cerdas.

Baca Juga :  Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Smart city di Mataram dibangun melalui pendekatan yang berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat (Foto: diskominfo kota mataram / ceraken.id)

Pencapaian tersebut bukan hasil kerja instan, melainkan buah dari konsistensi pembangunan sistem pemerintahan berbasis elektronik, integrasi layanan publik, dan pengembangan berbagai inovasi digital yang telah berjalan selama beberapa tahun.

Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, menegaskan bahwa konsep kota cerdas tidak berdiri sendiri.

“Implementasi smart city tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan berbagai inovasi pelayanan publik dan reformasi birokrasi yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa smart city di Mataram dibangun melalui pendekatan yang berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. Teknologi digunakan untuk mempercepat pelayanan kesehatan, administrasi kependudukan, pengelolaan data pemerintahan, hingga komunikasi publik.

Dengan demikian, agenda lanjutan setelah pembangunan berbagai infrastruktur fisik adalah memperkuat kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh warga. Inilah bentuk transformasi yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata, tetapi memiliki dampak besar terhadap kehidupan sehari-hari.

Kota Cerdas Tidak Dibangun dari Kantor Pemerintah Saja

Meski demikian, kecerdasan sebuah kota tidak hanya lahir dari ruang server atau kantor pemerintahan. Catatan Ceraken.id pada Juni 2026 memperlihatkan perspektif yang menarik ketika diskusi mengenai masa depan Mataram berlangsung dari sebuah sudut kafe.

Percakapan yang melibatkan akademisi, komunitas, pegiat sosial, pelaku usaha, dan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan kota membutuhkan ruang dialog yang terbuka. Smart city pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem kolaborasi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, M. Ramadhani, menegaskan bahwa pembangunan kota cerdas harus dipahami sebagai proses yang melibatkan banyak pihak, bukan semata-mata urusan pemerintah dan teknologi digital.

“Smart city bukan tujuan yang dicapai hanya dengan menghadirkan aplikasi atau infrastruktur digital. Kota cerdas tumbuh ketika pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, media, dan dunia usaha mampu bekerja bersama menyelesaikan persoalan kota. Teknologi hanyalah alat, sedangkan kolaborasi adalah kekuatan utamanya,” ujar Ramadhani.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh transformasi tersebut menghasilkan kota yang lebih nyaman, inklusif, produktif, dan berkelanjutan (Foto: diskominfo kota mataram / ceraken.id)

Menurutnya, transformasi digital yang sedang berlangsung di Kota Mataram harus berjalan seiring dengan penguatan partisipasi publik. Sebab teknologi yang canggih tidak akan menghasilkan perubahan yang berarti tanpa keterlibatan masyarakat sebagai pengguna sekaligus bagian dari proses pembangunan itu sendiri.

Baca Juga :  Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Kota yang cerdas adalah kota yang mampu menyerap gagasan dari berbagai kelompok, menghubungkan kepentingan yang berbeda, dan menjadikan warga sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, ruang-ruang informal seperti forum diskusi, komunitas kreatif, hingga pertemuan di kafe dapat menjadi laboratorium sosial bagi lahirnya berbagai gagasan pembangunan.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa masa depan kota tidak dapat dirancang oleh pemerintah semata. Kota yang kompleks memerlukan kecerdasan kolektif dari seluruh elemen masyarakat.

Agenda Lanjutan: Kota yang Cerdas dan Manusiawi

Jika ketiga catatan Ceraken.id dibaca sebagai satu rangkaian, maka terlihat sebuah narasi yang utuh tentang perjalanan Kota Mataram.

Gerbang Sangkareang menghadirkan simbol perubahan. Program smart city memperkuat fondasi tata kelola dan pelayanan publik. Sementara forum-forum kolaboratif membuka ruang partisipasi warga dalam merancang masa depan kota.

Karena itu, agenda lanjutan Mataram bukan sekadar menambah aplikasi baru atau membangun lebih banyak infrastruktur fisik. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh transformasi tersebut menghasilkan kota yang lebih nyaman, inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Ukuran keberhasilan smart city tidak terletak pada banyaknya teknologi yang digunakan, melainkan pada sejauh mana warga merasakan manfaatnya. Apakah layanan menjadi lebih mudah?

Apakah ruang publik semakin hidup? Apakah masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam pembangunan? Dan apakah kota mampu tumbuh tanpa meninggalkan kelompok yang paling rentan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya menjadi inti dari agenda lanjutan Kota Mataram. Sebab kota cerdas bukanlah tujuan akhir, melainkan proses panjang untuk membangun kota yang mampu memadukan kemajuan teknologi, kualitas tata kelola, identitas perkotaan, dan partisipasi warga dalam satu visi bersama.

Dari Gerbang Sangkareang hingga percakapan di sudut kafe, Mataram tampak sedang menapaki jalan tersebut. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA