Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan

- Penulis

Senin, 13 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ruang publik seperti RTH Pagutan menunjukkan fungsinya yang lebih luas (foto: ist / ceraken.id)

Ruang publik seperti RTH Pagutan menunjukkan fungsinya yang lebih luas (foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram seolah ikut berdenyut bersama irama Piala Dunia 2026. Di berbagai sudut kota, percakapan tentang sepak bola menjadi tema yang menyatukan banyak orang. Bagi sebagian warga, ajang empat tahunan ini bukan sekadar pertandingan, melainkan peristiwa budaya yang menghadirkan kebahagiaan, harapan, dan ruang untuk merayakan kebersamaan.

Nuansa itu terasa kuat dalam kegiatan nonton bareng (nobar) babak perempat final Piala Dunia 2026 yang digelar Pemerintah Kota Mataram bekerja sama dengan TVRI NTB di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Minggu (12/7/2026). Sejak pagi, ratusan warga dari berbagai kalangan telah memadati lokasi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam atmosfer penuh semangat.

Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, turut hadir bersama jajaran Pemerintah Kota Mataram, menyatu dengan masyarakat yang antusias menyaksikan laga antara Argentina dan Swiss. Kehadiran pemerintah dalam ruang-ruang publik seperti ini menghadirkan pesan sederhana namun penting: olahraga dapat menjadi medium untuk memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Ketika Sepak Bola Menyatukan Perbedaan

Saat pertandingan dimulai, sorak sorai penonton bergema setiap kali kedua tim menciptakan peluang. Dominasi atribut biru langit dan putih menandai besarnya dukungan warga kepada Argentina. Namun, para pendukung Swiss pun tidak kehilangan semangat, terus memberikan dukungan kepada tim favorit mereka.

Baca Juga :  Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Menariknya, perbedaan pilihan tidak melahirkan sekat. Sebaliknya, ia menjadi warna yang memperlihatkan tingginya sportivitas warga Mataram. Candaan antarsuporter, tepuk tangan bersama, hingga ekspresi tegang saat peluang tercipta menunjukkan bahwa sepak bola memiliki kemampuan unik untuk mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu ruang kebersamaan.

Laga berlangsung sengit hingga peluit panjang dibunyikan. Argentina akhirnya memastikan kemenangan 3-1 melalui babak perpanjangan waktu setelah kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu normal. Kemenangan itu mengantar Argentina melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2026.

Kemenangan terbesar adalah lahirnya suasana persaudaraan, sportivitas, dan kebahagiaan bersama (foto: ist / ceraken.id)

Ledakan kegembiraan dari para pendukung Argentina langsung memenuhi kawasan RTH Pagutan. Namun di sisi lain, para pendukung Swiss tetap menikmati pertandingan dengan lapang dada. Tidak ada kekecewaan yang berubah menjadi ketegangan. Yang tersisa justru suasana hangat dan rasa saling menghargai.

Ruang Publik yang Menghidupkan Kebersamaan

Kemeriahan nobar tidak hanya hadir saat pertandingan berlangsung. Sebelumnya, masyarakat diajak mengikuti senam bersama yang berlangsung meriah. Berbagai permainan interaktif dan pembagian doorprize semakin menambah semangat warga yang datang bersama keluarga dan sahabat.

Baca Juga :  Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Nobar pun menjelma menjadi lebih dari sekadar kegiatan menyaksikan pertandingan sepak bola dunia. Ia menjadi ruang rekreasi, hiburan, sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarmasyarakat.

Selepas pertandingan, pemandangan yang tersisa justru memperlihatkan esensi sesungguhnya dari olahraga. Para penonton saling berjabat tangan, berfoto bersama, dan mengabadikan momen tanpa mempersoalkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang kerap menghadirkan jarak sosial, ruang-ruang publik seperti RTH Pagutan menunjukkan fungsinya yang lebih luas. Ia menjadi tempat bertemunya warga, ruang untuk berbagi kegembiraan, sekaligus arena tumbuhnya rasa memiliki terhadap kota.

Pada akhirnya, kemenangan terbesar dari kegiatan nobar ini bukan semata tiket Argentina menuju semifinal. Yang lebih penting adalah lahirnya suasana persaudaraan, sportivitas, dan kebahagiaan bersama.

Sebab dalam setiap perhelatan olahraga, kemenangan sejati kerap hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: ketika masyarakat dapat berkumpul, tertawa, dan merayakan kebersamaan sebagai satu keluarga besar Kota Mataram. (*)

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ppid.mataramkota.go.id

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya
Lomboq Melawan Korupsi: Ketika Falsafah Sasak Menjadi Jalan Menanam Integritas

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA